Mengejar Cinta Mantan

Mengejar Cinta Mantan
Genderang Perang


__ADS_3

Liana heran mengapa Alvaro kembali sendirian tanpa mengajak Widya. Padahal ia tahu bahwa saat ini Widya dalam bahaya.


"Mana Widya? Kenapa sendiri?" tanya Liana.


"Aku tak tega menyakitinya, Mbak," jawab Alvaro jujur. Hatinya tak kuasa menjadi duri lagi dalam kehidupan sang mantan istri. Meskipun ia tak bohong, jika cinta yang ia miliki semakin membara di hati.


"Menyakitinya? maksudnya?" Liana menatap heran.


"Mbak tahu kan jika aku pernah menyakiti Widya. Membawanya masuk ke dalam lubang derita yang tidak main-main sakitnya. Aku takut kedatanganku membawanya masuk ke dalam lubang itu lagi, Mbak. Aku takut kedatanganku menyakitinya," jawab Alvaro jujur.


"Ya, aku paham perasaanmu. Aku mengerti ketakutanmu. Kamu terlalu mencintainya, itu sebabnya kamu takut kedatanganmu membuka kembali luka di hati Widya. Ya, aku ngerti. Sangat mengerti. Bagaimana jika aku bantu kamu cari tahu, apakah dia masih marah padamu atau tidak? Hemm, bagaimana?" tawar Liana serius.


"Apakah itu jalan keluar yang baik, Mbak?" tanya Alvaro.

__ADS_1


"Aku rasa iya. Kita cari tau dulu apa yang Widya pikirkan tentangmu. Baru nanti kamu bisa kembali masuk ke dalam kehidupan. Aku pun takut jika tiba-tiba kamu datang, terus dia belum siap. Ini akan menimbulkan luka baru dalam diri Widya. Kamu paham kan maksud ku?" ucap Liana lagi.


"Awalnya aku kebingungan, Mbak. Tapi mengenalmu aku merasa tenang. Kamu bukan hanya sahabat bagi Widya. Kini kamu juga harapanku. Sumpah Demi Tuhan, Mbak, aku datang tidak bermaksud memberi luka pada ibu bayiku. Tapi aku datang untuk bertanggung jawab atas luka yang pernah aku ciptakan untuknya," ucap Alvaro yakin.


"Ya, aku paham. Aku ngerti. Tapi gimana? Orang-orang itu mendekati Widya!" pekik Liana saat melihat orang-orang yang ada di bandara tadi.


Alvaro tak tinggal diam. Ia segera menghubungi sang ayah untuk menghentikan anak buahnya. Jika tidak Alvaro akan bertindak di luar nalar. Lihat saja nanti.


"Ada apa, Al? Kamu mau merengek sama papi soal investasi. Sorry, Al, Papi sudah menutup aksesmu untuk mendapatkan hak itu!" ucap Pak Tyo dengan suara renyahnya. Ledekan yang sukses membuat Telinga Alvaro panas.


"Jangan kurang ajar kamu Al. Ingat, kamu besar dari keringatku!" balas Pak Tyo tak mau kalah.


"Astaga Papi. Al bukan anak kecil lagi. Ayolah. Papi jangan mengancam seperti itu. Itu menjijikan, Pi. Apa perlu Al telpon orang-orang yang pernah papi tipu? atau Al sebar keburukan papi ke media. Silakan papi tinggal pilih!" ancam Alvaro lagi.

__ADS_1


"Dasar bajingan kamu! Berani sekali mengancam papi!" bentak Pak Tyo marah.


Sayangnya teriakan itu tidak Alvaro hiraukan. Ia tetap kekeh meminta Pak Tyo untuk menarik anak buahnya. Jika tidak Alvaro pasti akan melakukan apa yang ia katakan.


"Cepat tarik anak buah papi dari Bali. Jika tidak, maka papi akan lihat apa yang akan terjadi pada keluarga kita. Selamat siang!" jawab Alvaro tanpa mau memperpanjang perdebatan dengan pria egois itu.


Di seberang sana Pak Tyo mengumpat marah. Sebab Alvaro bisa membaca detail apa yang ia lakukan. Pak Tyo marah besar namun ia tetap tidak mau menuruti permintaan sang putra. Ia yakin Alvaro tak akan melakukan itu. Sebab jika dia melakukan itu, maka artinya Alvaro bunuh diri.


Pak Tyo menerima tantangan Alvaro. Ia tetap melanjutkan misinya. Ia pun ingin tahu seberapa besar keberanian Alvaro padanya.


Bersambung...


Sambil nunggu mak up, yuk kepoin karya emak

__ADS_1



"Sial, bermain


__ADS_2