
Tak membuang waktu lagi, Alvaro pun langsung meluncur ke bandara. Tentu saja untuk mencari Liana. Sebab ia curiga Liana tahu keberadaan Widya. Mengingat Liana begitu terburu-buru hendak meninggalkan rumah sakit saat dirinya datang.
Alvaro sengaja tak ingin meminta bantuan Satya karena ia tak ingin terlalu merepotkan sahabatnya itu. Karena ia juga belum terlalu yakin, apakah Liana tahu di mana anak dan juga mantan istrinya itu.
Alvaro hanya bertanya di mana Liana bekerja, agar Satya tidak curiga.
Kini pria ini sudah berada di bandara Ngurah Rai, tanpa banyak berpikir ia pun segera mencari counter di mana Liana berkerja.
"Hay," sapa Alvaro ketika berada tepat di depan Liana.
Spontan Liana pun menatap terkejut pada Alvaro. Bagaimana tidak? ia sudah susah payah menghindari pria ini. Namun nyatanya pria ini malah mengejarnya.
"Ya, ada yang bisa kami bantu?" tanya Liana. Mencoba profesional dan tidak gugup.
"Tidak, aku ke sini bukan mau konfirmasi tiket. Tapi mau bertanya sesuatu," jawab Alvaro jujur.
"Bertanya sesuatu. Emmm, bagaimana kalo nanti. Lihatlah antrian di belakang anda sangat banyak. Saya tidak mau kena SP," jawab Liana gugup.
__ADS_1
"Oh baiklah, aku akan tunggu sampai antrian terakhir," jawab Alvaro. Kemudian dia pun mundur dan memberikan waktu pada Liana untuk bekerja.
Dalam senggang waktu itu, Liana menyempatkan diri menghubungi Widya. Beruntung Widya pun menyabut panggilan telpon itu.
"Ada apa, Bestie?" tanya Widya, suaranya terdengar bahagia.
"Anu, Best. Di sini ada mantan suami elu. Gimana kalo dia nanyain elu?" tanya Liana mulai tak nyaman.
Tak bohong jika saat ini jantung Widya berdebar sangat kencang. Ia tahu jika apa yang di ucapkan Liana bukanlah akal-akalan. Widya yakin jika apa yang dikatakan Liana pasti benar adanya.
Widya mengehela napas dalam-dalam lalu berusaha bersikap profesional. Ia tak ingin lari dari Alvaro. Benar kata semua orang jika masalah harus di hadapi. Ia harus bisa menghadapi Alvaro.
"Oke kalo kamu ga masalah kalo misalnya aku kasih tahu dia tentangmu. Ya udah ya Wid, aku temui dia. Kasihan dia udah lama nunggu," ucap Liana.
"Hemm," jawab Widya. Tak lama berselang mereka pun mengakhiri obrolan itu dan Liana juga menyerahkan pekerjaan pada partnernya. Sedangkan dirinya segera menemui Alvaro.
"Maaf lama menunggu, silakan duduk," ucap Liana sembari mengajak Alvaro duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana.
__ADS_1
"Terima kasih." Alvaro terlihat rikuh. Sebab perasaannya masih diselimuti rasa ragu yang luar biasa.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Liana lagi.
"Sebelumnya aku minta maaf udah ganggu kamu. Tapi jujur aku kebingungan mencari Widya. Apakah mau tahu di mana Widya?" tanya Alvaro, mulai mau terbuka dengan ketakutannya.
"Mencari Widya, memangnya ada apa?" pancing Liana. Liana tak mau gegabah mengambil keputusan. Ia harus tahu dulu apa tujuan Alvaro mencari sahabatnya itu.
"Aku dan Widya, sebenarnya kami sudah berpisah. Tapi Widya mengandung buah cinta kami dan dia nggak bilang. Sungguh aku tidak tahu kalo dia mengandung. Sekarang dia pergi membawa bayi kami dan aku mencari nya. Apakah kamu tahu di mana dia?" jawab Alvaro takut.
"Oh, begitu. Kamu udah coba telpon atau ke orang tuanya Widya mungkin?" tanya Liana.
"Udah, aku udah ke sana. Aku udah cari ke kampungnya juga. Tapi ga ada. Orang tuanya juga ga tahu di mana Widya. Aku bingung, Mbak. Aku ingin melihat bayiku. Aku ingin memastikan bahwa bayiku dan dia baik-baik saja. Itu saja, sungguh aku nggak ada niat lain!" jawab Alvaro.
Baru Liana mau menjawab ucapan itu, Alvaro melihat beberapa orang yang ia curigai adalah suruhan Pak Tyo. Dengan cepat Alvaro pun menarik tangan Liana dan mengajak gadis ini bersembunyi. Terang saja apa yang di lakukan Alvaro membuat Liana terkejut. Namun ia tidak berani protes sampai mereka sampai di mobil yang di sewa oleh Alvaro.
Bersambung...
__ADS_1
Sambil nunggu, Cus kepoin karya bestie satu ini😍