
Beberapa kali ponsel itu berbunyi. Namun Widya mengabaikannya. Widya takut jika yang menghubunginya adalah Alvaro atau pria itu. Mereka berdua adalah orang-orang yang tidak Widya inginkan.
"Diangkat dong, Neng. Kali aja penting," ucap Liana.
"Nggak ah, aku takut itu bapake bocah atau nggak pria aneh itu," tolak Widya.
"Astaghfirullah, kalo bapake bocah ya nggak apa to. Orang dia bapaknya. Lagian kamu pede bener bapake bocah mau nyari kamu?" Liana cemberut kesal.
"Iya juga ya, ngapain aku sepede itu. Kan dia mau nikah sama mbak Mozza. Aku oh aku!" jawab Widya sembari memukul kepalanya. Lalu tersenyum malu pada sahabatnya.
"Ah bilang aja lu masih ngarep, bapaknya bocah nyariin. Ya kan?" canda Liana.
"Nggak lah, mana aku berani berharap begitu. Kamu kan tahu dia cerain aku karena apa. Mana mungkin sih dia mau tahu lagi tentangku." Widya tersenyum kecut.
"Oke, mungkin bukan kamu yang akan dia cari, bagaimana dengan Seno?" tanya Liana, serius.
Widya bangun dari pembaringan. Lalu menatap Liana. Menatap sahabatnya itu dengan tatapan tak suka.
"Dia nggak akan pernah aku izinkan melihat Seno ku. Aku marah kalo dia berani berpikir mau mengambil Seno dariku! Lihat saja nanti, aku bakalan memukul kepalanya kalo sampai dia berani datang," jawab Widya marah.
Liana menggelengkan-gelengkan kepala. Merasa aneh dengan sahabatnya ini. Meski sudah menjadi seorang ibu, Widya sering terlihat seperti anak kecil jika berhubungan dengan mantan suaminya itu. Entah mengapa bisa seperti itu. Yang jelas, Widya memang berbeda jika diajak membicarakan pria itu.
Perihal ponsel itu, masih terus berdering. Sehingga membuat Liana kesal dan mengangkat panggilan telepon itu.
"Hallo, selamat malam!" ucap Liana menyambut panggilan telepon itu.
"Malam, Widya ada?" jawab Penelepon itu.
Widya memberi isyarat pada Liana agar memberi tahu sang penelepon bahwa dirinya tidak ada di tempat.
"Maaf Pak, Widya lagi keluar tu, ponselnya nggak kebawa, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Liana.
"Anu, sebenarnya aku mau minta tolong padanya. Putriku sakit, saat ini dia masuk rumah sakit. Tak ada seorang pun yang bisa membujuknya makan. Apa lagi minum obat. Aku mau minta tolong sama Widya, barang kali dia sudi membantu ku membujuk putriku. Soal bayaran tenang, aku akan kasih berapapun yang dia mau asal dia bisa membantu ku," jawab Satya, kalut.
"Ya Tuhan, kasihan sekali. Emm, gimana kalo saya saja yang ke sana. Saya rasa Widya ga bisa pergi ninggalin babynya, Pak. Kita sama-sama tahu nggak ada yang bisa gantiin dia di malam hari. Bayinya nggak akan bisa tidur tanpanya. Bagaimana kalo saya saja yang ke sana?" tanya Liana, Tiba-tiba kasihan saat mendengar cerita Satya.
__ADS_1
"Benarkah? kamu mau?" tanya Satya tanpa berpikir macam-macam. Yang penting baginya adalah ada orang yang mau membujuk sang putri untuk makan dan minum obat.
"Ya, kenapa tidak? Silakan anda share lokasi, saya akan segera ke sana," jawab Liana, tanpa berpikir panjang juga.
"Oke, berapa bayaran yang kamu minta?" tanya Satya sebelum mengakhiri obrolan mereka.
Liana menghela napas dalam-dalam. Lalu mengembuskan perlahan. Ada kekesalan yang terlihat di sana. Benar kata Widya jika pria ini selalu menilai segalanya dengan uang.
"Anda tidak perlu memikirkan itu sekarang, saya kerja saja dulu. Jika saya berhasil, baru saya akan meminta bayaran itu, Pak," jawab Liana, akhirnya kesal juga dengan tawaran menjengkelkan itu.
"Oke, deal!" jawab Satya, menyetujui.
"Oke," jawab Liana singkat.
Tak banyak bicara, Liana pun bersiap pergi alamat ke rumah sakit yang dikirim oleh pria aneh itu. Sungguh, Liana tak beepikir macam-macam sebab yang ada di benaknya saat ini hanyalah membantu pria itu membujuk putrinya. Itu saja tidak kurang dan tidak lebih.
"Yakin kamu mau ke rumah sakit?" tanya Widya.
"Iya, ga masalah kan. Cuma mau bujuk bocah makan sama minum obat doang."
"Ah, melihat perangai pria itu yang apa-apa membuatku ilfeel. Sebaiknya aku tidak memikirkannya. Benar katamu, pria seperti itu mana punya hati," jawab Liana. Mulai mau memikirkan apa yang terjadi dengan logika.
"Kan aku udah bilang, Neng. Manusia sombong kayak dia jangan dikasih panggung. Bikin eneg aja," ucap Widya santai.
"Hemm, sebaiknya memang begitu. Aku pun tak nak lah sama peia begitu. Ya usah aku jalan dulu ya. Semoga warung bubur di perempatan buka. Aku mau bawain tu bocah bubur itu aja lah. Kali aja mau, ya kan," ucap Liana.
"Ya, baiklah. Sebaiknya memang begitu," jawab Widya mendukung.
Obrolan dua sahabat ini pun berakhir. Liana berangkat ke rumah sakit. Sedangkan Widya kembali ke kamar. Lalu memainkan ponselnya lagi sampai dia terlelap di samping baby Arseno.
***
Di lain pihak...
Alvaro tersenyum bahagia saat mendapat pesan dari mantan tunangannya. Mozza mengirimi nya foto-foto baby Arseno yang ia miliki.
__ADS_1
Dengan senyum bahagia, Alvaro pun berterima kasih pada gadis itu. "Thanks you, kamu baik selain, Za," tulis Arseno dalam pesan teksnya.
"Sama-sama, Mas Al. Aku sama mami lagi coba cari tahu siapa teman Widya dan ke mana dia pergi. Semoga kalian bisa segera bertemu dan bisa menyelesaikan masalah dengan dewasa. Kasihan baby Arseno butuh kamu, ayahnya," balas Mozza, terdengar bijaksana.
"Makasih banyak, Za. Kamu sangat mengerti kami. Tolong kabari aku kalo kamu ketemu calon. Jangan lupakan aku ya," pinta Alvaro.
"Siap, Mas, aku pasti akan melakukan itu. Kamu udah aku anggap abangku, tenang aja aku pasti bakalan kabarin kamu. Ya udah ini dah malam, selamat malam," balas Mozza lagi. Setelah itu mereka pun mengakhiri obrolan mereka dan Alvaro kembali sibuk menatap wajah menggemaskan putra semata wayangnya sambil berdoa agar suatu hari nanti dipertemukan dengan buah hatinya itu.
"Malam, Za. Oiya, kemarin aku ke toko tapi kami ga ada," ucap Alvaro.
"Kapan?" balas Mozza.
"Kemarin, aku mau tanya sesuatu sama kamu!"
"Tanya apa, Mas?"
"Kamu tahu kan, Za, aku sama sekali ga tahu kalo selepas bercerai denganku Widyaa hamil. Jadi aku pun belum memberikan nafkah buat bayi yang ada di dalam kandungannya. Emmm, boleh nggak Za aku minta nomer rekening Widya. Aku ingin kasih nafkah buat anakku, Za!" pinta Alvaro sungguh-sungguh.
"Ohhh, tentu saja boleh, Mas. Itu malah bagus. Aku apresiasi sekali niatmu. Sebentar ya, aku cari dulu. Sepertinya aku masih nyimpan nomer rekening Widya," ucap Mozza sembari mencari buku catatan harian yang ia miliki.
Lima menit mencari, akhirnya Mozza pun menemukan catatan itu. Kemudian ia langsung mengirimkan nomer itu pada Alvaro.
"Itu nomer rekeningnya, Mas. Semoga bisa membantu," ucap Mozza lagi.
"Siap, Za. Makasih banyak ya. Makasih atas semua bantuanmu, Za," ucap Alvaro.
"Siap, Mas. Em, aku ada tamu, maafkan aku ya. Lain kali kita ngobrol lagi oke?" pinta Mozza.
"Siap, Za. Maafkan aku menganggu."
"No problem, Mas. Selama aku bisa bantu, aku pasti bantu. Oke, bye!"
"Bye!" Obrolan mereka berakhir.
Mozza kembali menerima tamu. Sedangkan Alvaro tersenyum bahagia sebab ia sudah punya satu jalan untuk membantu beban pundak Widya perihal bayi mereka.
__ADS_1
Bersambung...