Mengejar Cinta Mantan

Mengejar Cinta Mantan
Bagaimana Ini?


__ADS_3

Liana tersenyum sambil terus menyuapi bocah berusia kurang lebih lima tahun itu bubur yang ia bawa. Amoora tampak menyukai makanan yang dibawa oleh gadis cantik itu. Beberapa kali mereka saling bercengkrama. Menceritakan keseruan mereka. Liana terlihat begitu bisa pandai membawa suasana sehingga membuat Amoora tampak bahagia bersamanya. Sedangkan Satya hanya mendengarkan. Pura-pura sibuk dengan laptopnya.


"Apa kamu suka buburnya?" tanya Liana.


"Suka, Tante, ini enak," jawab Amoora.


"Tentu saja, bubur ini langganan Tante. Kalo Amoora ingin lagi, Amoora bilang saja sama Tante. Nanti Tante belikan lagi, setuju!" ucap Liana dengan senyuman manisnya. Amoora menganguk menyetujui. Lalu kembali bersemangat memakan makanan yang di berikan oleh Liana.


Amoora yang sudah lama tak memiliki teman untuk mengobrol tentu saja senang dengan perlakukan manis seorang wanita yang mengaku sebagai naninya ini. Ditambah, Liana begitu sabar dan memperlakukan Amoora seperti temannya. Bukan seperti orang dewasa memperlakukan anak kecil.


"Apakah Tante akan menginap dan menemaniku di sini?" tanya Amoora, tiba-tiba takut kalau Liana akan seperti naninya yang lain. Yang meninggalkannya karena takut dengan keegoisan daddynya.


Mendengar pertanyaan yang sama sekali tidak ia sangka, Liana pun menatap Satya sekilas. Begitupun dengan Satya. Pria itu juga menatap Liana. Seakan saling bertanya. Namun bertanya dalam hati.


"Kamu menginap saja jika tidak keberatan. Kamu tidur di sofa, biar aku di kasur lantai," ucap Satya, kaku, dingin. Dasar es balok emang. Mentang-mentang minta tolong nya pakek uang. Sampai bersikap dingin seperti itu. Cihhh, sadar pria arogan tak tahu diri, batin Liana.


"Oke, Tante akan menginap kalo Amoora menum obat dengan baok. Biar cepat sembuh. Kasihan daddy kan, nggak kerja, jagain Amoora terus," bujuk Liana, berusaha sebaik mungkin memanfaatkan moment.


"Tapi obatnya pahit, Tante," tolak Amoora lembut.


Satya menatap tajam. Ingin marah. Tapi dengan cepat Liana memberi kode agar pria dengan tingkat kesabarannya yang sedikit itu agar tetap tenang.


"Aduh, princess cantik. Janganlah seperti itu. Kalau dokter kasih kita obat pahit, itu tandanya kita sudah besar. Sudah dewasa. Kan Amoora sudah besar. Cantik lagi. Mau melihat wajah Amoora yang cantik dan sudah dewasa ini," rayu Liana lagi.


"Benarkah, Moora sudah besar, Tante?" terlihat kerlingan mata penuh kebahagian seorang Amoora.

__ADS_1


"Tentu saja, Sayang. Kamu sudah besar. Jadi harusnya tidak boleh takut Apa lagi cuma dengan rasa pahit. Itu sangat kecil sih menurut Tante!" jawab Liana dengan senyum menawannya.


"Baiklah Tante, Moora mau minum obat. Tapi Moora mau Tante jangan pergi. Moora takut," ucap bocah cantik ini sembari mencuri pandang pada ayahnya yang terus menatapnya dengan tatapan dingin.


"Tentu saja, Sayang. Tante janji nggak akan ninggalin Moora. Oke!" ucap Liana sembari memberikan jari kelingking miliknya.


Amoora menyambut uluran kelingking itu. Lalu mereka saling menautkan. Pertanda janji persahabatan di antara mereka telah di buat.


Dengan senang Liana pun mengambil obat yang harus di konsumsi oleh sahabat kecilnya.


Bersyukur Amoora bisa meminum semua obat pahit itu dengan sangat baik. Membuat Satya merasa lega. Sungguh Satya merasa lega sang putri mau makan dan meminum obat itu dengan sangat baik.


Malam semakin larut. Terlihat Amoora beberapa kali menguap. Dengan sabar Liana pun meninabobokan sahabat kecilnya ini. Liana memperlakukan Amoora seperti putrinya sendiri. Jujur perlakuan Liana pada Amoora sukses membuat Satya malu. Karena sebagai ayah dia tidak mampu melakukan hal serupa, seperti apa yang dilakukan oleh Liana pada putrinya.


Saat Amoora sudah terlelap, Liana dengan sabar menyelimuti tubuh gadis cilik itu. Lalu mengelus rambut ikal Amoora. Mengelusnya dengan penuh kasih sayang. Lalu setelah itu ia segera merapikan barang-barangnya dan bersiap pamit.


"Maaf, Pak, saya harus pulang. Besok saya masuk shift pagi. Nanti kalo istirahat insya Allah saya ke sini. Kan dekat dari tempat saya kerja," jawab Liana.


"Jangan, ini sudah sangat malam. Lagian di luar hujan. Besok pagi aku antar kamu pulang. Lagian kamu sudah janji mau menginap kan?" ucap Satya mengingatkan.


"Tak apa, lagian nggak etis pria dn wanita satu kamar malam-malam tanpa ikatan. Saya tidak mau ada fitnah di antara kita," tolak Liana lembut.


"Kau gila, mana ada seperti itu. Lagian aku juga nggak akan ngapa-ngapain kamu. Astaga!"


"Iya, saya tahu, tapi... "

__ADS_1


"Sudah, sebaiknya kau tidur. Besok ku antar kau pulang. Aku capek, aku nggak mau debat samamu. Selamat malam!" ucap Satya lagi. Balik kanan dan langsung kembali merebahkan tubuhnya ke atas kasur lantai tempatnya berbaring.


Liana tak punya pilihan lain selain mengikuti perintah pria itu. Entah mengapa Liana menuruti keinginan pria itu. Padahal bisa saja dia melawan.


Apakah telah terjadi sesuatu di hatinya? Entahlah!


***


Di lain pihak..


Keesokan harinya..


Pagi-pagi sekali Widya dikejutkan dengan pemberitahuan dari pihak bank tempat dia menyimpan uang dan transaksi keuangan.


Sebuah pesan yang ia terima menunjukan ada yang masuk bernilai ratusan juta. Saat ia teliti lagi ternyata yang mengirim uang tersebut adalah mantan suaminya.


Shock, sudah pasti.


Namun Widya tak tahu harus bagaimana. Ia tak bisa memutuskan sekarang. Sebagai keputusan yang salah akan berakibat fatal baginya.


Jika dia menerima uang ini percuma, ia takut Alvaro akan menganggapnya wanita gampangan.


Namun jika menolak, Widya yakin Alvaro pasti akan dengan mudah menemukannya.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Kenapa sih dia ini? Cari masalah aja terus!" ucap Widya sembari menatap ponselnya.

__ADS_1


Widya terdiam. Bingung harus bagaimana mengambil sikap tentang kiriman dari pria ini. Mengapa dia masih mengusik hidupnya? Widya malas berurusan dengan pria itu. Sungguh!


Bersambung...


__ADS_2