
Alvaro tak ingin gegabah melawan orang tuanya. Ia memang kecewa, tetapi ia juga tahu jika ayahnya itu sangat berbahaya untuk nyawa Widya dan Arseno. Alvaro tak ingin salah langkah menghadapi pria itu, apa lagi sekarang di tambah ada nyawa maminya juga.
Diam-diam, Alvaro menyewa detektif handal untuk membantunya mencari anak dan juga mantan istrinya itu. Ia tak malu kalah cepat dengan pria yang telah tega mempermainkan hidupnya itu.
"Ini agak sulit, Al. Karena Widya ternyata sangat cerdik. Ia memesan tiket atas nama orang lain. Entah bagaimana caranya dia bisa lolos, yang jelas tidak ada nama Widya Karenina di sana. Aku sudah periksa data dari beberapa maskapai," jawab pria yang diketahui berapa Gunawan ini.
"Kamu yakin dia pergi dengan pesawat? Bagaimana jika dia pergi dengan bus atau kapal laut barang kali," jawab Alvaro.
"Soal itu kita harus memeriksa link yang mungkin ada hubungannya dengan mantan istrimu, Al. Apa kamu tahu teman dekat istrimu atau mantan teman sekolah, barangkali?" tanya Gunawan.
"Bagaimana aku tahu, aku menikah dengannya hanya tiga bulan. Itupun seminggu sekali kami ketemu. Kami jarang bercengkrama, bagaimana bisa aku tahu masa lalunya?" jawab Alvaro degan wajah masam.
"Aku hanya tanya, Bro. Jangan kesal begitulah lah! Bagaimana jika kita dekati orang tua Widya, barang kali mereka mau kasih info tentang teman atau sahabat mantan istrimu barang kali," ucap Gunawan lagi.
Alvaro diam sejenak. Memikirkan apa yang sahabatnya sampaikan. Alvaro tidak menapik apa yang sahabatnya itu utarakan. Sebab itu adalah satu-satunya cara untuk menemukan Widya dan juga bayinya.
"Aku akan coba pergi ke sana sabtu besok, tolong kamu awasi anak buah papi. Jangan sampai kita keduluan mereka, oke!" punya Alvaro mengingatkan.
"Oke, aku akan selalu waspada soal itu. Semoga kita kecolongan lagi untuk kesekian kali." Gunawan tak bicara lagi, Pria ini memilih pergi meninggalkan tempat pertemuannya dengan Alvaro. Sebab dia sendiri harus waspada karena anak buah Pak Tyo tidak bisa dianggap remeh. Mereka adalah orang-orang yang sangat berbahaya. Mereka tak akan berpikir panjang jika ada yang berani menghalangi tujuan mereka.
Selepas kepergian Gunawan, Alvaro kembali termenung memikirkan keberadaan anak dan juga mantan istrinya.
__ADS_1
Alvaro menatap foto baby Arseno yang gemoy dan menggemaskan. Di sana juga ada foto Widya yang masih memakai selang infus sedang menyusui bayinya.
Sungguh Alvaro merasa tertampar kala melihat foto-foto Widya. Dadanya terasa teremas. Harusnya ia ada di sana mendampingi wanita itu melewati masa itu. Harusnya dialah yang menjaga mereka berdua saat Widya berjuang melahirkan bayi mereka. Seharusnya dia juga yang membayar biasa bersalin sang mantan istri dan perawatan bayi mereka. Harusnya semua itu adalah tanggung jawabnya.
"Astaga, kasihan sekali mamamu, Dek. Aku harus menemui Mozza. Dia pasti tahu nomer rekening Widya. Aku tidak boleh melepaskan tanggung jawabku. Setidaknya Widya tidak kesusahan masalah fiannsial," ucap Alvaro bergumam sendiri.
Dengan niat baik ini, Alvaro pun bergegas mengambil kunci mobil dan dompetnya. Menghubungi Mozza segera dan mengajak mantan tunangannya itu bertemu. Tentu saja untuk meminta bantuan Mozza perihal nomer rekening itu.
***
Berbeda dengan Alvaro yang kini bersemangat mencari tahu di mana keberadaannya, justru Widya semakin bersemangat belajar hal baru.
Ya, Widya tak ingin terus bekerja pada orang lain, tapi dia ingin membuka usaha sendiri. Suatu hari nanti. Widya ingin membuka cake and kafe seperti tempat kerjanya untuk pertama kali. Widya bersemangat mengumpulkan modal untuk menggapai cita-citanya itu.
"Menurutmu kira-kira aku bisa nggak ya, Lin, punya tempat usaha sendiri?" tanya Widya di sela-sela lamunannya.
"Tentu saja bisa, Bestie. Kenapa nggak? Asalkan kita mau usaha, semua pasti bisa kita dapatkan Lin. Jangan takutkan apapun. Ada Tuhan Maha segalanya," jawab Liana dengan senyum menawannya. Seperti seseorang yang habis mendapatkan sesuatu.
"Wait!" pekik Widya saat menyadari jika ada yang tidak beres dengan sahabatnya.
"Apaan?" balas Liana dengan senyum anehnya.
__ADS_1
"Ku lihat dari tadi kamu senyum-senyum. Ada apa? Habis gajian atau dapet arisan?" tanya Widya.
"Nggak, aku baik-baik saja. Oiya Wid, apakah Satya masih mengejarmu?" tanya Liana.
"Tidak, dia kan udah pulang ke negaranya," jawab Widya sesuai kabar yang ia terima dari para teman-temannya di restoran.
"Aku tadi ketemu dia di bandara, Lin. Dia terburu-buru. Apa dia ada masalah?" tanya Liana.
"Mana ku tahu, aku bukan kekasihnya. Bukan karyawannya juga," jawab Widya tak suka. Ya, Widya memang tidak suka dengan pria Casanova itu. Menurut Widya pria itu sangat tidak sopan. Semaunya sendiri mentang-metang dia banyak uang.
"Ish, judes amat sih. Bukankah sesama manusia harus saling membantu ya. Aku lihat dia baik, Wid. Mungkin telah terjadi sesuatu dengannya sehingga dia seperti itu," jawab Liana sesuai dengan apa yang ia lihat saat melihat Satya terburu-buru di bandara siang tadi.
"Sudah ku bilang, aku nggak tahu dan nggak mau tahu soal dia, Lin. Serah dia aja, dia itu pria aneh dan aku nggak suka. Sama sekali nggak suka. Jadi jangan tanyakan dia lagi padaku. Aku tidak menyukainya," jawab Widya kembali memunjukkan ketidaksukaannya pada pria itu.
"Baiklah baiklah, mulai sekarang aku nggak akan nanyain dia lagi ke kamu. Aku juga nggak akan ngajakin kamu ngobrolin tentang dia. Hanya saja tadi aku lihat ada yang aneh dengan pria itu. Itu sebabnya aku nanyain dia." Liana melirik sahabatnya. Memastikan Widya tak marah lagi. Karena Liana tahu jika Widya tidak menyukai pria itu.
Suasana hening sejenak. Obrolan itu tidak mereka lanjutkan. Mood Widya terlanjur rusak oleh Liana yang mengajaknya bercerita tentang pria aneh itu.
Tak ingin menganggu sahabatnya, Liana pun memutuskan beranjak untuk kembali ke kamarnya.
Namun saat Liana berdiri, ponsel Widya berbunyi. Widya mendapatkan panggilan telepon dari nomer yang tidak ia kenal. Widya dan Liana saling menatap. Ingin mengangkat panggilan itu tapi ragu.
__ADS_1
Bersambung...