
Awalnya ragu, namun Widya tak ingin menutup tali silaturahim yang hendak dijalin oleh orang tuanya. Di samping itu Widya juga penasaran apa yang diinginkan oleh orang tuanya.
"Assalamualaikum... " sambut Widya, pelan.
"Wa'alaikumussalam.. apa benar ini Widya?" tanya pria di seberang sana.
"Benar, Yah. Ini Widya," jawab Widya sembari menahan tangis. Ya Widya membekap mulutnya agar tangisnya tidak keluar. Ia takut sang ayah mendengar tangisnya.
"Alhamdulillah, Ayah nggak salah nomer. Widya apa kabar?" tanya Pak Rahman. Di seberang sana, pria ini juga menagis. Menangis bahagia dan menagis penuh penyesalan. Menyesal karena tidak berpikir panjang. Menyesal karena tidak mau mengerti apa yang sebenarnya Widya rasakan.
"Widya baik, Yah. Ayah gimana? Sehat kan? Ibu gimana? masih jalan warungnya?" balas Widya sembari mengelap air mata yang mulai keluar karena kerinduan yang mendalam dari lubuk hati yang terdalam.
"Ayah baik nakku, ibumu juga. Kenapa nggak pernah kasih kabar? Kami kangen samamu, Nak," jawab Pak Rahman. Tangis pria ini pecah detik ini juga. Penyesalan itu nyatanya menampar nya di detik ini juga. Bukan hanya Pak Rahman, Widya dan juga Ibu Emma pun sama. Tangis mereka menggema begitu saja. Menghantam keheningan yang sebenarnya masih menyelimuti hubungan mereka.
"Ayah, Ayah jangan nangis. Widya nggak kenapa-napa, Yah. Maaf kalo Widya ga pernah kasih kabar. Maafin Widya ya Yah," ucap Widya mencoba mengalah. Berusaha menepis rasa sakit yang pernah tercipta oleh cinta pertamanya itu.
"Ya, Nak. Maafin Ayah ya. Ayah bodoh sekali. Harusnya Ayah tidak melakukan hal bodoh itu. Maafkan Ayah, Nak. Bukannya melindungimu malah megusirmu. Maafkan Ayah, Sayang. Maaf," ucap Pak Rahman dalam isak tangis yang tak sanggup ia bendung lagi.
"Iya Yah. Widya udah maafkan. Widya juga minta maaf kalo Widya salah yah. Widya minta maaf terlalu mengambil hati kemarahan
__ADS_1
Ayah. Harusnya Widya tetap pulang meskipun kalian marah. Harusnya Widya tetap memohon supaya kalian maafin Widya. Harusnya Widya tidak menjauhi kalian. Maafkan Widya juga ya, Yah," jawab Widya. Mencoba meredam ego yang selama ini bersarang di dalam hatinya.
"Yang paling salah di sini adalah Ayah, Nak. Ayah lah yang salah. Harusnya Ayah tidak termakan hasutan orang-orang itu. Harusnya Ayah tetap teguh pada pendirian Ayah sendiri. Sekali lagi Ayah minta maaf, Nak," ucap Pak Rahman lagi.
"Iya, Yah. Widya maafkan. Tolong maafkan Widya juga ya, Yah," balas Widya juga.
"Iya, Nak. Mulai hari ini kita baikan ya nakku. Kamu memaafkan Ayah, pun dengan Ayah. Bagaimana?" tanya Pak Rahman.
"Baiklah, Yah, sebenarnya sebelum Ayah minta maaf, Widya juga sudah memaafkan Ayah." Widya mulai bisa tersenyum. Jujur di detik ini hatinya merasa lega. Karena inilah yang sebenarnya ia inginkan. Widya tak ingin durhaka dengan memusuhi orang tuanya. Namun ia sendiri tak berani memulai. Widya takut orang tuanya akan menolaknya.
"Makasih yo, Nak. Oiya, bayimu sudah seapa? Ayah pengen lihat. Coba kek mana muka dia, apakah mirip dengan mu atau dengan bapaknya?" tanya Pak Rahman, mulai bisa mencairkan suasana.
"Eh, Wid, ngomong-ngomong kemarin Alvaro sama ibunya ke rumah. Dia nyari kamu loh," ucap Pak Rahman.
Widya terdiam sejenak. Lalu ia pun bertanya, "Ngapain cari Widya, Yah? Kan kami udah nggak ada masalah lagi kan. Surat ceria udah Widya terima. Emang ada masalah apa lagi, Yah?" Widya pura-pura tak mengerti maksud dan tujuan Alvaro mencarinya atau lebih tepatnya Widya enggan peduli dengan maksud dan tujuan sang mantan suaminya mencarinya.
"Sebenarnya Ayah ga mau ikut campur urusanmu dengan Al, Wis. Tapi kalian punya si baby. Si baby punya hak kenal dengan bapaknya, Nak. Jangan kamu halangi mereka," ucap Pak Rahman mengingatkan.
"Widya juga berpikir seperti itu, Yah. Cuma entahlah, Yah. Widya masih belum siap ketemu sama ayahnya Seno, Yah."
__ADS_1
"Ayah ga mau maksa kamu, Nak. Cuma pikirkanlah. Kasihan bayimu. Dia butuh ayahnya. Walau kalian ga bisa balikan tapi paling tidak kalian bertemanlah. Jadilah pasangan orang tua yang baik buat bayi kalian. Paham kan maksud Ayah?"
"Siap, Yah, Akan Widya pikirkan."
"Kapan kamu mau bawa bayimu pulang, Nak?" tanya Pak Rahman.
"Maafkan Widya, Yah. Widya belum bisa balik. Kan Widya baru tanda tangan kontrak kerja, Yah. Jadi mesti ngabisin kontrak dulu," jawab Widya jujur.
"Baiklah kalo begitu. Tapi habis kontrak pulang ya, Nak. Ayah tunggu," jawab Pak Rahman.
"Iya, Yah. Widya pasti pulang, Yah. Emmm!" jawab Widya senang.
Obrolan berakhir. Baik Widya maupun kedua orang tuanya, mereka bahagia. Sangat bahagia. Akhirnya mereka berbaikan. Namun sayang Widya belum menyadari bahwa saat ini Alvaro sedang mencari Liana, sebab pria itu telah teringat bahwa Liana adalah gadis yang menjadi salah satu teman pengantin saat ia menikah dengan Alvaro.
Bersambung...
Sambil nunggu mak up, yuk mampir ke karya sahabat emak😍😍
__ADS_1