Mengejar Cinta Mantan

Mengejar Cinta Mantan
Antara Benci dan Rindu


__ADS_3

Sore pun datang. Widya pulang kerja dengan wajah cemberut.


Kedatangan Alvaro di restorannya hari ini adalah penyebab kekesalannya.


"Sudah jangan ditekuk gitu mukanya, didatengin pangeran jauh-jauh jadi Jakarta ke Bali, masak disambut dengan bibir manyun begitu?" ucap Liana sembari mengikuti langkah Widya memasukki kamar.


"Gimana nggak marah, Lin? Dia tiba-tiba datang, habis itu ngaku-ngaku dia suami ku. Kan aku jadi ga enak sama Patrick. Ama temen kerja yang lain. Disangka aku punya suami posesif beneran. Padahal ma enggak, dasar pria aneh." Widya membanting tubuhnya ke sofa. Kesal.


"Jangan gitu, kesal-kesal nanti rindu," canda Liana sembari tersenyum senang.


"Tidak akan, aku nggak akan rindu sama pria arogan seperti dia. Dia sudah membuangku, ngapain juga dia datang lagi. Menjengkelkan sekali!" jawab Widya lagi- lagi masih dengan perasaan tak sukanya.


"Iya baiklah, tapi jangan terlalu benci. Nanti menyesal. Kan ada tu cinta bilang benci." Liana terlihat semakin suka menggoda sahabatnya.


"Sorry, itu nggak berlaku untukku. Kalo aku, benci ya benci aja. Astaga, kamu ini seperti anak kecil saja," balas Widya kesal.


"Masak sih? aku pengen lihat kalo kamu lihat si doi beneran. Soal wajah and gagahnya tidak diragukan lah ya. Cakep benget loh mantanmu itu Wid. Bohong lah kalo hatimu nggak bergetar kalo ketemu dia," canda Liana.

__ADS_1


"Astaga, aku ga seganjen itu. Mantan ya mantan. Mana boleh suka sukaan lagi. Dih.... " Widya semakin terlihat tak suka dengan candaan sahabatnya.


"Iya, baiklah baiklah. Terserahmu saja lah. Astaga, dah lah.. aku nggak mau ikut campur urusan kalian. Kamu sudah dateng. Seni juga sudah ku ambil. Dia tidur di kamar. Udah ya, aku mau merebahkan tubuhku. Putramu gembul sekali, sampai pegel ni pinggang gendong dia," ucap Liana sembari beranjak dari tempat duduknya.


Widya terlihat aneh saat mendengar ucapan sahabatnya. Biasanya Seno akan ia jemput setelah mandi. Lalu kenapa Seno dia yang ambil, ada apa dengan orang aneh ini?


"Wait?" cegah Widya.


"Apaan?" Liana membalikkan tubuh.


"Dih... segitunya. Biasanya kalo aku pulang cepet juga aku ambil kan. Buat temen di rumah. Ada apa sih? Dasar curigaan. Konslet lu ya?" balas Liana sok tidak bersalah atau lebih tepatnya pura-pura tidak bersalah.


"Nggak gitu. Sini deh, aku mau cerita sama kamu!" ajak Widya lagi. Terpaksa Liana kembali ke tempat duduknya.


"Apaan?" Liana mengambil bantal sofa lalu menatap aneh pada sang sahabat.


"Kok mas mantan tiba-tiba datang ke restoran? Kira-kira siapa ya yang kasih tahu?" tanya Widya, heran.

__ADS_1


"Astaga, katanya nggak tertarik. Duh, ngapain ngajakin ngomongin dia," jawab Liana ketus.


"Ih, bukan begitu. Aneh aja kan dia tiba-tiba datang. Aku cuma penasaran, dari mana dia tahu aku di Bali. Terus siapa yang kasih tahu. Yang tahu kan baru orang tuaku sama kamu. Kok dia tiba-tiba datang. Kan aneh bin ajaib," ucap Widya lagi.


"Ya mana ku tahu. Aku kan nggak kenal sama dia. Kenapa kamu nggak nanya aja sama dia? Katanya tadi ketemu!" jawab Liana malas.


"Iya juga ya, tapi aku nggak nanya. Aku keburu kesal lihat muka dia tu," jawab Widya.


"Kesal apa senang, sampai nggak fokus gitu?" Liana melirik menggoda.


"Ish, udah lah. Nyesel kali aku ngajak kamu ngomongin dia. Dah lah, aku mau ke kamar. Astaga, nggak kamu nggak dia, menyebalkan sekali!" ucap Widya seraya beranjak dari tempat duduknya dan melangkah masuk ke dalam kamar. Sedangkan Liana hanya tersenyum sembari menunggu reaksi Widya saat melihat Alvaro ada di kamarnya. Sedang tidur bersama Arseno.


Bersambung...


Sambil nunggu, cus main ke karya temen Emak😘


__ADS_1


__ADS_2