
Keputusan Alvaro melawan ayahnya, menjadikan pria paruh baya ini murka. Pria ini tak mau kalah dengan anak semata wayangnya itu. Untuk memisahkan mereka, Pak Tyo menggunakan banyak cara termasuk memfitnah kedua orang tua Widya.
"Aku nggak akan pernah membiarkan kalian bersama lagi. Aku sudah susah paya memisahkan kalian. Lalu sekarang kalian mau mengolok ku. Jangan mimpi!" ucap Pak Tyo sinis.
Sungguh pemikiran licik. Tyo memang jahat, semua usahanya itu berhasil sempurna menurutnya, mana mungkin ia akan membiarkan Alvaro merusaknya. Ia tak akan pernah membiarkan anaknya ini kembali pada wanita miskin itu. Sebab keluarga Widya tidak bisa ia manfaatkan untuk memajukan usahanya.
"Cari wanita itu, jangan biarkan dia dan Alvaro bertemu. Aku tidak sudi melihat wanita itu lagi. Jika dia tetap nekat, lakukan saja seperti yang kita rencanakan tadi malam," ucap Pak Tyo pada salah satu anak buahnya.
"Baik, Bos! Kami akan segera mencari wanita itu," jawab pria tinggi tegap itu.
"Aku butuh kabar secepatnya, ingat kita jangan kalah cepat dengan Alvaro, ingat itu!" ucap Pak Tyo lagi.
Tak menunggu jawaban anak buahnya, pria egois itu pun meninggalkan ruang tamu dan kembali ke ruang kerjanya.
Pria itu melangkah dengan sangat tenang. Seolah tidak peduli jika ada yang mendengar rencananya. Padahal, saat ini Ibu Zanna menangis tersedu-sedu mengetahui fakta yang sebenarnya. Bahwa ini adalah rencana busuk suaminya. Entah apa maksud dari semua ini.
Tak ingin sang sang putra merasakan setiap inbas dari rencana suaminya, Ibu Zanna pun segera mengambil tas tangannya dan pergi ke kantor Alvaro.
Ya, memberi tahu rencana busuk pria itu pada sang putra adalah keputusan terbaik.
Sesampainya di kantor Alvaro, Ibu Zanna melangkah santai dan biasa, agar orang-orang yang mungkin adalah mata-mata suaminya tidak curiga dengan kehadirannya.
Namun, setenang apapun Ibu Zanna mencoba, tetap saja rasa gugup tetap menghampirinya. Ibu Zanna sangat mengenal Pak Tyo. Pak Tyo adalah tipe pria yang tidak mau tahu tentang siapapun. Baginya tujuannya adalah hal paling penting dalam hidupnya.
__ADS_1
Ia akan menghancurkan siapapun yang berniat untuk menggagalkan tujuan itu. Termasuk dirinya.
"Mami!" ucap Alvaro saat melihat ibunya masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Al, Mami punya kabar buruk untukmu," ucap Ibu Zanna sembari melangkah mendekati sang putra.
"Kabar buruk apa, Mi?" tanya Alvaro.
"Sungguh, Mami tidak menyangka jika apa yang terjadi padamu dan mantan istrimu adalah rencana papimu, Al. Mami minta maaf, Mami kecolongan," ucap Ibu Zanna dengan bibir gemetar.
Alvaro menatap tegang ke arah mata ibunya. Jujur, di detik ini ada ketakutan di dalam hati bapak satu anak itu. Ia takut jika apa yang ibunya sampaikan saat ini adalah apa yang pernah ia curigai. Namun saat itu Alvaro tidak mau terlalu memusingkan apa yang ia curigai.
"Dari ucapan, Mami, Al bisa menebak jika perceraian antara Al dan Widya adalah rencana papi?" tanya Alvaro serius.
Wajar jika wanita merasa bersalah, mau bagaimanapun perjodohan antara Alvaro dan Widya adalah ide darinya. Saat itu yang Zanna inginkan adalah sang putra mendapatkan istri yang baik. Lembut, pengertian dan yang jelas adalah gadis baik-baik.
Ibu Zanna tidak menyangka jika sang suami memiliki pemikiran lain soal pernikahan sang putra. Pria itu menganggap pernikahan dang putra harus bisa memberikan keuntungan baginya.
Ibu Zanna tidak menyangka jika alasan Pak Tyo menikahkan Alvaro dan Widya adalah ingin membeli lahan perkebunan teh di sana dengan harga yang murah. Mengingat ayah Widya adalah orang penting di sana Pak Tyo yakin jika Pak Rahman, pasti bisa membujuk mereka agar mau menjual lahan itu pada beliau.
Sayangnya apa yang Pak Tyo inginkan tidak menjadi kenyataan. Membuat pria paruh baya itu murka dan menganggap Pak Rahman tidak berguna. Itu sebabnya ia memfitnahnya pria itu agar Alvaro marah dan menceriakan anak dari pria tersebut.
"Dari Mami tahu?" tanya Alvaro.
__ADS_1
"Mami dengar sendiri dari papi mu, Al. Sekarang dia sedang minta anak buahnya untuk Mencari Widya. Mami yakin papi mu pasti akan menekan mantan istrimu itu agar tidak menemuimu. Atau jika tidak Widya pasti akan mengatakan kebenarannya padamu," jawab ibu Zanna.
"Mami yakin kalo Widya tahu tentang semua ini, Mi?" tanya Alvaro.
"Ya, Mami yakin, Al!" jawab Ini Zanna, serius.
Alvaro terdiam. Pikirannya semakin semrawut tak karuan. Bagaimana tidak? Mengetahui penderitaan sang mantan istri karena keputusannya sudah cukup membuat Alvaro merasa hancur. Sekarang di tambah kabar seperti ini. Bohong jika Alvaro tidak ingin menghajat ayahnya saja. Andai tidak ada dosa, batin Alvaro kecewa.
***
Di lain pihak..
Kedua orang tua Widya tak tinggal diam. Hari ini juga mereka pergi ke rumah beberapa teman Widya yang mereka kenal. Namun sayang tak ada satu pun yang tau di mana Widya berada.
"Ya Tuhan, gimana ini, Bu? Nggak ada satupun di antara mereka yang tahu di mana Widya. Ke mana ya, Bu, anak sama cucu kita pergi?" ucap Pak Rahman mulai putus asa mencari keberadaan Widya dan baby Arseno.
"Sabar, Yan. Allah pasti bakalan kasih kita jalan. Niat kita baik, Yah. Kita mau memperbaiki kesalahan. Kita mau memperjuangkan putri dan cucu kita. Anggap ini adalah jalan yang harus kita lalui untuk bertemu dengan mereka. Percayalah, Yah. Semua pasti ada jalannya," ucap Ibu Emma.
Pak Rahman tersenyum sekilas. Ia bisa memahami apa yang istrinya katakan. Namun jika boleh jujur, rasanya tak sabar ingin segera bertemu buah hatinya itu. Pak Rahman ingin minta maaf. Ingin mengatakan pada putrinya itu bahwa dia menyesal. Seharusnya ia tidak melakukan hal itu. Sungguh Pak Rahman sangat menyesal karena hal itu.
"Ayah ternyata sangat kejam pada Putri kita, Bu. Ayah nggak bisa ngebayangin betapa dia sangat kerepotan, tertekan dan ya Tuhan, kenapa Ayah kejam sekali sama Putri kita, Bu. Bagaimana dia kerja sambil hamil. Begitu. Ga ada yang jaga, melahirkan sendiri. Masya Allah. Bagaimana caramu mendidiknya, Bu? Sampai dia bisa sekuat itu?" tanya Pak Rahman dalam lamunannya.
"Itu bukan hanya hasil didikan ibu, Yah. Tapi juga ayah. Ayah juga berperan dalam. Membesarkan Widya. Sudah mari kita pulang. Semoga akan ada kabar baik yang akan kita terima," ajak Ibu Emma. Sebab beliau merasa kasihan dengan sang suami yang terlihat frustasi itu.
__ADS_1
Bersambung...