Mengejar Cinta Mantan

Mengejar Cinta Mantan
Nasehat Baik


__ADS_3

Keesokan harinya...


Seperti yang dijanjikan oleh Satya bahwa dia akan mengantarkan Liana pulang kini ditepati janji itu oleh pria tersebut. Satya menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah Liana.


"Terima kasih," ucap Liana seraya hendak membuka pintu mobil milik duda tampan itu.


"Tunggu, apa kamu tinggal di sini?" tanya Satya, sembari memerhatikan sekeliling.


"Benar, Pak, saya tinggal di sini. Apa ada masalah?" Balas Liana.


"Tidak, apa kamu tinggal bersama Widya?"


"Ya, kami tinggal bersama."


"Oh oke, boleh ku tahu namamu?"


"Liana, Liana Trihapsari!"


"Oke, nama yang bagus. Aku Satya. Senang berkenalan denganmu!"


"Oke, Sama-sama. Maaf saya harus turun. Sampai jumpa lagi!" ucap Liana hendak menghindar namun dengan cepat Satya menghadang Liana. sebab ia merasa memiliki hutang pada gadis baik hati yang telah menolongnya ini.


"Wait, berapa nomer rekening milik mu. Aku harus membayarmu atas bantuanmu semalam," ucap Satya.


"Tidak perlu, Pak. Saya iklas membantu anda!"


"Benarkah? Thank kalo begitu. Tapi apakah kamu keberatan jika nantinya aku akan sering merepotkan mu?" tanya Satua lagi.


"Tidak, tentu saja tidak. Asalkan tidak menganggu jadwal kerja saya. Saya pasti bantu," Jawab Lidia sesuai dengan apa yang ia mau.


"Oke, aku akan ingat itu. Makasih banyak kamu sudah mau membantu dan sekarang mau bersahabat dengan putriku. Nanti jika seandainya Amoora mau menghubungi kamu by phone, apa bisa?" tanya Satya, kali ini ia terlihat lembut dan menurunkan egonya demi sang putri.

__ADS_1


"Tentu saja, hubungin saja saya kalo dia cari. Kasihan dia, sebenarnya cuma butuh teman yang bisa ngertiin apa inginnya. Cobalah bapak lebih dekat dengannya. Coba bapak lebih mengalah, dia nggak butuh waktu banyak kok, sisihkan waktu Bapak satu jam saja untuk bercengkrama rutin dengannya. pasti dia bakalan seneng banget!" ucap Liana mengingatkan.


"Ya aku akan coba," Jawab Satya sembari tersenyum pada Liana. pun dengan Liana. Gadis cantik ini pun tersenyum malu pada pria itu.


Tak ingin ketahuan hatinya berbunga, baik Liana dan Satya pun memilih mengakhiri obrolan dan mereka pun berpisah.


Sedangkan di dalam rumah Liana terlihat Widya sedang mondar mandir kebingungan.


Melihat sang sahabat kebingungan, Liana pun bertanya, "Ada apa, Neng? kelihatannya ada masalah serius?" tanya Liana sembari mengajak sahabatnya duduk di sofa ruang tamunya.


"Aku gugup, Lin. sepertinya aku harus pindah dari sini," ucap Widya gugup. benar-benar gugup. bahkan tangan wanita cantik ini berubah dingin.


"Pindah? Kenapa ada apa sih? kenapa mau pindah segala? kamu ada masalah ha? coba cerita?" tanya Liana berusaha tenang. karena dia sendiri juga habis gugup karena tatapan mata seseorang.


"Lihat deh, Lin!" ucap Widya sembari menyerahkan bukti transfer yang dilakukan Alvaro untuknya.


"Astaghfirullah hal azim, Wid. gimana bisa? gimana bisa dia dapat nomer rekening kamu?" tanya Liana heran.


Liana paham. bagaimana perasaan Widya sebenarnya. Hanya saja Widya tidak mungkin egois dengan menunjukkan apa yang ia rasakan. lalu rasa itu akan menghancurkan rencana pernikahan antara Alvaro dan Mozza. sungguh Widya tak ingin menjadi perusak hubungan orang lain.


"Aku tahu kamu resah, Wid. Tapi Alvaro berhak tahu kalo Seno ada. Lagian mau sampai kapan kamu bakalan nyembunyiin Seno dari dia Wid. Dosa loh kamu, misahin anak dari bapaknya. Lagian bapaknya baik gini. Mau tanggung jawab. Mau kasih nafkah. Jangan campur adukkan masalah kamu dengan dia, lalu kamu korbankan Arseno, Wid. Nggak boleh. Kalo kamu ga suka ama dia, ya udah ga pa-pa. Tapi ingat, Al dan Seno, mereka punya hak untuk saling kenalkenal Wid. Ingat itu!" ucap Liana mengingatkan.


"Aku tahu kalo aku berdosa, Lin. Tapi aku ga bisa deket-deket dia lagi. Aku ga mau. Dia... " Widya menundukkan kepala. Meremas tangannya. Seakan dia sedang meresahkan sesuatu.


"Kamu masih suka sama dia?" tebak Liana.


Widya tak menjawab langsung pertanyaan itu. Namun Liana bisa mengerti jika tebakannya pasti benar.


"Itu namanya kamu egois, Wid. Demi egomu kamu mengorbankan Arseno. Ingat itu," ucap Liana lagi mengingatkan.


"Aku tahu, Lin. Aku tahu itu. Tapi demi Tuhan, aku belum berani bertatap mata lagi dengannya. Aku ga sanggup menutupi perasaanku, Wid. Tolong mengertilah!" ucap Widya lagi.

__ADS_1


Rasa....


Satu kata yang tidak bisa dipaksa. Tidak bisa dikendalikan. Astaga, ini sangat menyedihkan.


"Coba lah pikirkan lagi, Wid. Aku nggak minta kamu serta merta langsung bertemu dengannya. Tapi buka saja komunikasi dengan dia. Saling bertukar kabar antara dia dan bayimu, aku rasa seperti itu saja sudah cukup, Wid. Kamu ngerti kan maksudku!" ucap Liana lagi.


Widya tak membantah ucapan sang sahabat. Karena ucapan itu benar adanya. Liana benar, jika dirinya sangatlah keterlaluan. Ia tega memberikan jarak antara Arseno dan ayahnya. Begitupun sebaliknya. Widya sadar jika dirinya ternyata sangat kejam.


***


Di lain pihak...


Ancaman Pak Tyo akan bisnis sang putra ternyata tak main-main. Dengan congkaknya ia pun membatalkan diri menjadi investor di perusahaan sangat putra. Pak Tyo dengan tegas menabuh generang perang dengan putranya sendiri hanya karena sang putra tidak bisa diatur.


"Tak perlu khawatir, biarkan saja pria itu mengambil apa yang ia inginkan. Tolong kamu pesan kan tiket ke Bali. Aku mau menemui temanku. Mumpung dia ada di Bali," ucap Alvaro pada Sandi, sekertarisnya.


"Baik, Pak, saya akan segera pesan kan!" jawab Sanni kemudian ia pun segera bekerja. Mencarikan tiket dan penginapan untuk bosnya.


Bohong jika Alvaro tidak pusing dengan keputusan yang di ambil Pak Tyo akan bisnis yang kini sedang berjalan. Namun ka juga tak mau jadi penjilat. Alvaro harus berprinsip. Jika tidak maka Alvaro pasti akan terus diinjak oleh pria itu. Alvaro yakin itu.


Dalam senggangnya Alvaro pun mengirim pesan pada sahabatnya jika ia membutuhkan bantuan.


"Lu ke Bali aja, Al. Aku di Bali kok," balas Satya yang ternyata adalah sahabat baik Alvaro.


"Makasih Banyak, Sat. Aku ga tahu mesti minta bantuan sama siapa. Makasih banyak kamu udah mau bantu aku. Aku nggak akan pernah ngelupain bantuanmu ini," ucap Alvaro serius.


"Iya lu santai aja lah. Kayak ama siapa aja. Kak Tasya pasti juga mau investasi ke perusahaan elu. Konsep lu bagus kok. Yakin pasti rame," jawab Satya lagi.


Alvaro tersenyum. Hatinya merasa sangat damai. Ia senang Tuhan memberinya kesempatan untuk membuktikan pada dunia bahwa dia bisa tanpa bantuan pria egois itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2