Mengejar Cinta Mantan

Mengejar Cinta Mantan
Semakin Keruh


__ADS_3

Alvaro dan Mozza kini bersahabat dengan baik sejak Alvaro memutuskan pertunangan mereka. Perihal Mozza tahu bahwa Widya adalah mantan istri Alvaro, ia tahu itu dari Ibu Nia.


Kala itu Ibu Nia penasaran ingin tahu alasan mengapa Alvaro meminta pertunangan ini di batalkan, jika hanya dengan alasan tidak cinta atau alasan tidak cocok itu adalah alasan klasik yang bisa dipatahkan dengan mudah oleh keluarga Mozza.


Penasaran dengan keputusan itu, Ibu Nia pun diam-diam menemui Ibu Zanna. Ibu Zanna sendiri tak mau menutupi apapun. Tentu saja agar tidak terjadi fitnah di kemudian hari.


Mengetahui bahwa Widya lah mantan suami Alvaro, tentu saja membuat Ibu Nia dan Mozza merasa kasihan pada mereka berdua, terlebih untuk baby Arseno. Bocah tak berdosa itu membutuhkan orang tua lengkap agar dia bisa tubuh dengan baik.


Ibu Nia dan Mozza semakin kasihan mana kala tahu jika perpisahan antara mereka di sebabkan oleh kesalahpahaman yang seharusnya bisa di selesaikan dengan baik.


Kebahagiaan karena diberi kesempatan untuk melihat wajah sangat buah hati, Alvaro pun kembali menulis pesan chat untuk Mozza. Pesan yang berisi ucapan terima kasih. Karena gadis itu sudah sangat mengerti apa yang ia pikirkan dan ia harapkan.


"Sekali lagi makasih ya, Za. Kamu udah mau ngertiin aku. Maaf hari itu aku nggak jujur sama kamu," tulis Alvaro dalam pesan teksnya.


Lima menit kemudian, Mozza membalas pesan darinya. "Iya, no problem. Jangan kamu pikirkan soal itu. Yang terpenting sekarang adalah kamu bisa secepatnya bertemu dengan Widya dan kalian biasa menyelesaikan masalah kalian secepatnya," jawab Mozza dengan disertai emoji senyum.


Alvaro hanya membalas jawaban Mozza dengan stiker jempol. Pertanda ia berterima kasih dan juga senang dengan apa yang dilakukan oleh gadis yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri itu.


Persahabatan ini sangat menguntungkan bagi Alvaro. Sebab Mozza dan Ibu Nia pin ternyata juga membantunya mencari di mana keberadaan Widya. Merek sering berkomunikasi intens untuk bertukar pemikiran. Bahkan mereka sering berbagi ide untuk menemukan wanita itu dan bayinya.


***


Apa yang dilakukan Alvaro ternyata diketahui oleh Pak Tyo. Pria itu marah besar pada anak buahnya. Ia menikahi mereka sangat tidak becus. Karena rencananya bisa dengan mudah di baca oleh Alvaro. Pak Tyo tidak menyukai itu.


"Bagaimana bisa Alvaro tahu bahwa kita sedang mencari wanita dan bayi sialan itu?" tanya Pak Tyo pada anak buahnya.


"Maafkan kami, Pak. Sepertinya rahasia kita bocor. Sekarang mereka menguntit kita, Pak," jawab Pria berkepala plontos itu.


"Astaga, apakah ada di antara kita yang berkhianat? Atau?" Sedetik kemudian Pak Typ teringat istrinya. Ia yakin jika wanita itulah yang menghianatinya.

__ADS_1


"Ya pasti dia orangnya!" gumam Pak Tyo marah.


Tanpa banyak bicara pria ini pun segera pergi ke kamar istrinya. Tentu saja ia ingin membuat wanita itu jera karena telah berani menghianatinya.


"Apa yang kamu katakan pada Alvaro?" tanya Pak Tyo tanpa basa-basi.


"Katakan apa, aku belum ketemu Al!" jawab Bu Zanna mengelak.


"Jangan bohong kamu!"


"Sekarang aku tanya, memangnya aku pernah jujur sama kamu kapan? Bukankah kamu selalu menampik ucapanku. Jadi terserah, aku pusing dengan semua keegoisan mu!" jawab Ibu Zanna berani.


"Berani kamu sekarang sama aku ya?" tantang Pak Tyo.


"Aku lelah samamu. Terserah mu. Mau kamu ceraikan aku, mau kamu lempar aku ke jalanan. Terserah. Aku capek!" ucap Ibu Zanna enggan ditindas lagi oleh suaminya. Tanpa banyak bicara ia pun memilih untuk meninggalkan pria egois ini.


***


Tak lupa sebelum mengarahkan kendaraannya ke rumah sakit, terlebih dahulu Liana mampir ke sebuah restoran siap saji untuk membelikan Satya dan putrinya makan. Bukan Liana meragukan kekayaan pria itu, namun bisa saja Satya juga belum makan karena pusing memikirkan putrinya yang seharian ini membuatnya pusing karena rewel.


Sesampainya di rumah sakit tempat putri Satya di rawat, Liana langsung memarkirkan mobilnya. Tanpa berpikir panjang, gadis yang bekerja sebagai staf di salah satu maskapai penerbangan ini langsung melangkah menuju kamar VVIP di mana gadis cilik itu di rawat.


Liana mengetuk pintu perlahan. Tentu saja agar pasien maupun orang yang ada di dalam ruangan itu tidak terkejut dengan bunyi yang ia timbulkan.


Dari dalam kamar terdengar suara langkah kaki mendekati pintu, perlahan pintu itu terbuka dan Liana pun dipersilahkan masuk.


"Selamat malam," sapa Liana pada pria uang terlihat acak-acakan itu.


"Malam, silakan masuk," jawab pria acak-acakan itu yang tak lain adalah Satya.

__ADS_1


Liana tersenyum sekilas. Lalu tatapan matanya langsung tertuju pada seorang gadis cilik yang berbaring miring di ranjang rumah sakit.


Terlihat selang pernapasan menancap di lubang hidungnya. Bukan hanya itu, selang infus juga terhubung di pergelangan tangannya.


Liana meletakkan makanan yang ia bawa di meja makan. Lalu mendekati bocah cilik yang kini tengah memejamkan mata itu.


Tanpa sengaja Liana melihat sisa-sisa air mata di bantal yang di gunakan oleh bocah itu. Dengan lembut Liana pun mengusap rambut bocah itu.


"Sayang," ucap Liana lembut.


Bocah cantik itu membuka mata pelan. Menatap Liana dengan tatapan aneh. Tatapan penuh tanya. Tatapan tak suka.


"Siapa kamu?" tanya Bocah cilik itu, terdengar ketus. Namun tatapan dan ucapan ketus itu sama sekali tidak mempengaruhi mental seorang Liana.


"Emm, kenalin, nama tante adalah Liana. Tante ini sekarang adalah nani nya kamu, Sayang. Emm apakah kamu mau berkenalan denganku?" jawab Liana dengan senyuman super lembutnya.


Gadis cilik bernama Amoora itu pun sedikit menyunggingkan senyum. Seolah senang karena dia memiliki teman baru. Yang artinya dia tidak kesepian lagi.


"Bolehkan tante tahu siapa nama anak manis ini?" rayu Liana.


"Amoora, Tante," jawabnya singkat.


"Oh Amoore, nama yang cantik. Secantik yang punya. Emm ngomong-ngomong Amoora usah makan belom ya?" pancing Liana lagi.


Amoora menggeleng lalu menatap daddynya sekilas.


"Aduh kasihan sekali. Masak anak cantik gini belum makan sih. Emmm, Tante ada bawa bubur ayam sama sob jagung, Amoora mau tidak?" rayu Liana.


Amoora mengangguk mau. Liana tersenyum karena langkah awalnya membujuk gadis cilik ini berhasil mulus tanpa kendala. Namun begitu, Liana harus tetap bekerja ektra keras untuk membujuknya meminum obat.

__ADS_1


Liana mulai menyiapkan bubur makanan yang diinginkan oleh anak cantik ini. Ada rasa kasihan di sana karena Amoora sangat kurus. Mungkin dia susah makan dan mungkin juga anak ini kurang perhatian. Namun begitu, Liana tidak bisa menyalahkan Satya, mau bagaimana pun Satya adalah seorang pria. Pria jarang sekali peka dengan keadaan yang ada.


Bersambung..


__ADS_2