
Keesokan harinya...
Seperti misi yang ia rencanakan tadi malam, Alvaro pun pergi ke toko roti milik calon istrinya.
Di samping ia ingin mengetahui kabar Widya dari Mozza, ia juga ingin bertemu dengan mantan istrinya itu. Alvaro ingin melihat, apakah hari ini Widya sehat dan dalam keadaan baik-baik saja. Diam-diam Alvaro tidak bisa bohong bahwa dia merindukan tatapan teduh mantan istrinya itu. Alvaro ingin melihat senyum wanita itu. Ya, pria ini merindukan senyuman mantan istrinya.
Sayangnya, saat ia masuk ke dalam toko tersebut, ia tidak melihat ada Widya di sana. Jujur detik itu juga, Alvaro kecewa. Alvaro sedih. Harapannya untuk melihat sang pemilik hati kadas sudah. Alvaro ingin menangis.
Tak ingin berburuk sangka, Alvaro pun bertanya pada Mozza yang saat ini ada di depannya dengan membawa nampan berisi kopi latte dan juga sepotong cake yang Alvaro inginkan.
"Kok karyawannya cuma dua, yang lain ke mana?" tanya Alvaro basa-basi.
"Oh, yang satu pulang kampung. Ini lagi nyari satu lagi buat kasir. Yang kemarin itu bagus, cuma ibunya suruh pulang kampung," jawab Mozza.
Deg...
Jantung Alvaro berdetak lebih kencang. Jawaban Mozza nyatanya sanggup membuat Alvaro merasa terkecambuk. Bagaimana tidak? Widya sudah resign. Itu artinya wanita itu menghindarinya. Itu sudah pasti.
Ah Widya, mengapa kamu nggak kasih aku kesempatan buat melihatmu. Apakah hatimu terluka karena ku Wid? Sampai kamu memilih pergi dibanding melihatku lagi? batin Alvaro.
Tak ingin mati penasaran, Alvaro pun kembali bertanya untuk memastikan apa yang ia pikirkan. "Kenapa nyari lagi? Nggak nunggu balik aja. Emang pulang kampungnya lama?" tanya Alvaro lagi.
"Kayaknya nggak balik. Makanya nyari lagi. Kalo mau balik mana mungkin kita nyari lagi," jawab Mozza dengan senyum senangnya.
__ADS_1
Namun tidak dengan Alvaro, seketika hati pria ini kembali gundah. Merasa bersalah, sudah pasti. Sebab pertemuan mereka telah membuat Widya memutuskan untuk berhenti kerja. Yang artinya, tanpa Alvaro sadari, ia telah menutup pintu rezeki mantan istrinya itu dan juga membiarkan wanita itu kembali pontang-panting karena harus mencari pintu rezeki yang lain.
Ya, Tuhan, benarkah apa yang aku pikirkan. Dia pergi karena tak ingin melihatku? gumam batin Alvaro, sedih.
"Kenapa kamu nggak bujuk dia kembali?" tanya Alvaro.
"Udah, mami udah bujuk dia. Tapi dia kekeh minta pulang. Padahal selama toko ini berdiri, baru ini aku dapat kasir baik, jujur, itungannya selalu pas. Keluar barang dengan pendapatan selalu singkron. Sebenarnya sayang sih dia keluar, sayang banget. Anaknya baik. Nggak pernah ngebantah kalo aku atau mami lagi kesel. Pokoknya baik, santun lagi," ucap Mozza lagi.
Mendengar jawaban baik itu, Alvaro pun ikut tersenyum. Bangga dengan penilain orang lain terhadap wanita yang juga dikagumi oleh hatinya. Widya memang seperti itu. Anti menyakiti hati orang lain. Saat situasi toxic menyerang, Widya memilih menghindar. Seperti saat ini.
"Kenapa kamu nggak coba rayu dia dengan kasih gaji lebih atau.. " Alvaro menatap mata calon istrinya. Pun dengan Mozza. Mozza menatap mata tampan itu dan dia tersenyum sendiri.
"Why?" tanya Alvaro.
"Enggak, kamu.. ah sudahlah. Soal bujuk membujuk udah mami lakukan. Bahkan mami juga bilang, kalo dia mau balik lagi jangan sungkan. Sayangnya dia tetap menolak. Dia bilang ibunya suruh pulang. Pengen lihat babynya, katanya," jawab Mozza sesuai dengan apa yang ibunya katakan padanya.
Kali ini bukan karena soal berhentinya Widya dari toko ini. Tapi karena alasan terakhir.
Baby? ha... baby? Kenapa baby? Kapan dia hamil? Babynya siapa?
"Baby? Oh, dia udah nikah?" tanya Alvaro dengan nada suara sedikit gemetar. Alvaro gusar. Gugup mendengar Widya punya baby. Itu artinya Widya sudah kembali bersuami atau....
"Kalo punya baby ya udah pasti nikah lah, Mas. Masak iya wanita sebaik itu, sealim itu, pacaran lalu hamil. Mas ini ngarang aja!" jawab Mozza sedikit kesal.
__ADS_1
"Ya nggak gitu, maksudku kamu terima karyawan yang udah menikah. Biasanya kalo pekerjaannya face to face seperti ini kan cari yang single. Jarang yang mau kalo udah ada suami," jawab Alvaro, ngawur. Jujur ia tak mampu menyusun kata yang benar. Karena ia tak menyangka jika Widya akan semudah itu move on darinya.
Sedangkan dirinya yang memutuskan berpisah saja masih belum memikirkan untuk mencari penggantinya.
"Ya nggak gitu juga kali, Mas. Kita terima karyawan dengan status apapun kok. Nggak harus single, nggak harus punya suami, janda juga bisa kerja di sini. Yang penting rajin, jujur. Karyawan ku yang keluar itu juga janda kok," jawab Mozza sesuai kenyataan yang ada.
Napas Alvaro berhenti sejenak. Jantungnya terasa dihantam bogem mentah. Nyeri dan sakit sekali rasanya. Kata tercengang tak cukup untuk mengekspresikan apa yang ia rasakan. Sungguh Alvaro tak sanggup menerima kenyataan yang sangat tidak ia sangka.
Widya janda, tapi punya baby. Lalu kapan hamilnya? sama siapa hamilnya? Mungkinkah? kembali batin Alvaro bertanya-tanya. Sampai pada akhirnya ia menyimpulkan jika dirinya adalah....
Ayah bayi itu.
"Dia janda? Tapi ada baby. Maksudnya?" Alvaro semakin penasaran dan semakin ingin tahu tentang mantan istrinya dan baby itu.
"Setahuku, saat bertemu dengan mami, dia habis cerai sama suaminya. Lalu diusir sama keluarganya. Mami kasihan,lalu kasih kerjaan di sini," ucap Mozza sesuai cerita yang ia dengar.
Alvaro terdiam. Kembali tidak menyangka keluarga Widya sekejam itu pada mantan istrinya dan dia, dia bodoh sebagai tak mau tahu apapun tentang Widya. Bahkan saat mantan istrinya ini mengalami fase yang bisa dikatakan sangat mengerikan. Dan itu karena dia. Karena keputusan sepihaknya. Sungguh Alvaro menyesal dan merasa sangat bodoh.
"Oh, kasihan sekali. Tapi kenapa diusir ya?" tanya Alvaro lagi, pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Aku nggak begitu paham. Menurut cerita mami, dia menikah hanya bertahan beberapa bulan. Tapi dia cerai. Entah apa penyebabnya. Dia nggak cerita. Terus orang tuanya malu punya anak janda. Di sini sebulan, dia sakit, pas mami bawa ke dokter ternyata dia hamil. Kemungkinan baby itu ya anak mantan suaminya. Secara logika kan demikian. Iya kan?" jawab Mozza tanpa curiga bahwa saat ini pria yang ada di depannya sedang terbakar kenyataan.
Nyatanya Alvaro tak sekuat itu menerima kejutan yang di sodorkan oleh mantan istrinya. Alvaro gemetar. Keringat dingin mengucur dari pori-pori keningnya. Alvaro shock. Sangking shocknya, pria ini sampai tak mampu menahan berat tubuhnya. Kaki Alvaro lemas seketika. Sungguh ini adalah kejutan mengerikan yang Widya tinggalkan untuknya.
__ADS_1
Widya sayang, maafkan aku, batin Alvaro.
Bersambung...