Mengejar Sang Putri

Mengejar Sang Putri
Langkah Pertama


__ADS_3

Siang hari menjelang sore seorang pemuda bernama Arqian Dewa Abian terlihat riang seraya mendorong gerobaknya.


Sepeninggal nenek yang mengasuhnya sejak dari kecil membuat ia harus hidup lebih keras untuk bertahan hidup.


"Weleh lumayan pisan bawaan kamu Ian, meni pinuh gerobakna, bakal tidur nyenyak atuh nanti" ucap Mang Kodir sesama pemulung rongsok.


"Haha kalau tidur mah nyenyak terus Mang, kecuali tiba-tiba saya teh inget Nenek baru gak bisa tidur" balas Arqian seraya tersenyum.


"Sing sabar ya ujang kasep, sumpah kalau mamang orang kaya mah udah saya angkat kamu teh" goda Mang Kodir.


"Angkat!? gak berat kitu angkat saya mang hehe.Mending angkat anak aja atuh mang biar ikut kaya" balas Arqian ikut ngayal.


"Terlalu kasep buat anak mah, tapi Mamang angkat jadi asisten! hebat teu?" ucap Mang Kodir.


"Wah hebat, jadi asisten Boss dong Mang!?" balas Arqian.


"Bukan tapi asisten rumah tangga Ian hehe" ucap Mang Kodir cengengesan.


"Halah bisa wae si Mamang nanti saya di kira Yanti meureun" balas Arqian seraya mengibaskan rambutnya.


Setelah menimbang semua hasil berburu harta terpendamnya.Arqian pun pulang dengan membawa lembaran uang yang cukup banyak.


"Alhamdulillah ya Allah hari ini dapat banyak" Ucap Arqian bersyukur seraya terus melihat uang lembaran biru dan saudara lainnya.


Saat melewati sebuah toko peralatan listrik yang searah dengan jalan ke kosannya seseorang menyapanya begitu hangat.


"Aa Ian, baru pulang ya?" tanya seorang gadis bermata sipit seraya tersenyum semanis mungkin.


"Eh Meimey, bapa kau ada tak?" tanya Arqian celingukan.


"Ada, tuh di dalam toko lagi jaga" balas Meimey seraya tersenyum.


"Aduh! saye takut saye takut" ucap Arqian lalu berjalan cepat meninggalkan meimey.


"Eh, A Ian jangan pergi dong, sini dulu mampir" ucap Meimey berharap.

__ADS_1


"Hei Meimey! ngapain kamu mikirin orang gak guna seperti itu, suka malah sama orang yang kerjaannya gak jelas kaya gitu!" gerutu Koh Ahiong begitu kesal.


"Iya Baba, sentimen terus sama anak sendiri juga" balas Meimey seraya terus menatap Arqian yang terus menjauh.


Sesampainya di depan kosannya Arqian memperlambat jalannya.Dengan mengendap-endap ia melewati rumah sang juragan kost.


"Hei Ian mau ngumpet kemana lagi kamu heh!" seru Bu Ani.


"Ngumpet? emang kita teh lagi main petak umpet ya Bu? ya udah Ibu jadi saya ngumpet" balas Arqian dengan cepat berlari.


"Hei Ian, Ian kesebelan malah lari itu si Ian, hei jangan lari!" teriak Bu Ani seraya mengejarnya.


"Euh si Ibu katanya suruh ngumpet, Aduhhh! brugghhh!" Arqian pun terjatuh karena tersandung pot.


"Nah rasain kamu ya, kualat sama orang tua, ayo mana duit kosan" ucap Bu Ani memaksa seraya menahan tangan Arqian.


"Aduhh Bu! ada yang lebih penting, kita harus bawa kerumah sakit dulu, kasihan!" balas Arqian ngeles.


"Rumah sakit!? emang siapa yang sakit?" tanya Ibu Ani terheran.


"Kamu ini kasebelan, jangan alesan lagi ayo bayar, bodo amat sama kaki kamu itu!" Ibu Ani naik darah.


"Itu masalahnya Bu, karena kaki saya kecelakaan saya gak bisa ngambilin uangnya, kan ada di kamar" ucap Arqian cengengesan sambil mengusap jari kakinya.


"Heh! heh! heh! itu kaki Ibu yang kamu usap!" pekik Ibu Ani begitu snewen.


"Aduhh! pantes rasanya kaya ngusap kulit salak, lembut banget ampe berdiri semua bulu! saking licinnya" ucap Arqian seraya bergidik.


"Heh! malah makin gila, buruan bayar! kalau nggak saya usir kamu!" balas Ibu Ani mulai gedeg.


"Iya Bu, tapi apa gak di panggil dokter minimal dukun atuh" ucap Arqian seraya berdiri.


"Gaya gayaan dokter, dukun buat apaan juga kamu teh kasebelan!?" tanya Ibu Ani seraya menjewer Arqian.


"Aduuh, duhh! ampun Bu dukun jangan santet saya tapi santet saja juragan kosan yang dzalim itu" pekik Arqian yang merasakan panas di telinganya.

__ADS_1


"Kurang ajar bener ini anak makin kasebelan, ngelunjak kamu teh nya ngdo'ain jelek sama saya! buruan bayar! ambil sana uangnya!" teriak Bu Ani seraya mendorong Arqian ke dalam kamar kostnya.


"Astagfirullah ya Allah, hari ini hamba baru sadar, bukan hanya ibu tiri tapi ibu kost teh ternyata baik, kalau ada maunya" guman Arqian setelah berdiri lalu masuk ke kamarnya.


Tak lama Arqian pun keluar dengan membawa tas juga uang hasil dari kerja serabutan yang sudah di kumpulkannya.Apapun ia lakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.


"Anih inih uangh kosh, maaf sayah terlambath, kamuh sungguh terlaluhh" ucap Arqian menirukan.


"Heh! heh! kamu kira ini adegan drama korea, pake niruin suara Ariel segala kamu teh" balas Bu Ani seraya merebut uang dari tangan Arqian.


"Bang Haji bu, Bang Haji, Bang Haji Noah! alah jadi ikutan gelo saya.Eh Bu kalau gitu saya pamit pulang dulu sudah sore" ucap Arqian lalu mengulurkan tangannya.


"Ngapain kamu teh pake salaman segala, ya udah hati-hati di jalan, kamu ada ongkos pulangkan?" tanya Bu Ani seraya asik menghitung uang.


"Ada sih, tapi buat makan sama pegangan yang gak ada.Mudah-mudahan gak kelaparan saat di perjalanan" balas Arqian pasang muka sedih.


"Nih buat bekal makan sama pegangan, hati hati di jalan ya nak" ucap Bu Ani sendu seraya mengusap kepala Arqian layaknya mau melepas anaknya pergi merantau.


"Terima kasih ya Bu, doa'in Ian sukses di sana, pamit Bu"


Tanpa pikir panjang Arqian segera meninggalkan Bu Ani yang berdiri termenung hingga akhirnya tersadar.


"Loh kok tinggal seratus ribu!? aduh di kerjain si Ian ini mah, Ian uang itu jadi utang kamu ya! awas sampai kapanpun Ibu pasti nagih! bener-bener si Ian kasebelan" ucap Ibu Ani kesal sendiri.


"Tenang Bu, mulai saat ini teh saya gak akan nunggak bayar kos lagi, di jamin! hehe" balas Arqian lalu berlari seraya tertawa geli meninggalkan Bu Ani yang kesal sendiri.


"Gimana gak telat lagi, kamu gak tinggal di sini lagi pan!" guman Bu Ani seraya memukul telapak tangannya sendiri begitu kesal.


Sesampainya di jalan raya Arqian yang sudah membulatkan tekadnya pun segera mencari kendaraan tebengan.


"Saya harus pergi ke Ibu Kota, moga aja nasib saya berubah di sana, ya minimal kerjaan lebih banyak kalau di sana" guman Arqian merasa optimis.


Tak lama dengan menumpang mobil pickup Arqian pergi menuju kota impiannya.Dengan harapan nasib baik selalu bersamanya.


[[ Bersambung ]]

__ADS_1


__ADS_2