Mengejar Sang Putri

Mengejar Sang Putri
Sebuah Kejujuran


__ADS_3

Drrrtttttttt! Drrrrtttttttt!


"Hallo Mi" ucap Nn Putri.


"Hallo sayang Maaf kalau Mami mengganggumu, ada hal penting yang mau Mami sampaikan.Ini soal pertemuan dengan keluarga Mahawira sayang.Acaranya jadi malam ini, so bersiaplah sebaik mungkin, bisakan?" Balas Ny Meisya.


"Apa Mi, malam ini! gak bisa nggak aja ya Mi?"


"Hus! ya gak bisa dong sayang kamu mau bikin Papimu marah? lagian malu kalau kita menolak niat baik mereka sayang"


"Lihat nanti saja deh Mi takutnya Putri gak bisa pulang cepat" beralasan.


"Eit Mami gak nerima alasan! pokoknya jam tujuh malam di restoran New House ok? dandan yang cantik dan pastikan datang tepat waktu.Ya sudah itu saja bye sayang"


"Ehh Mi! apa ... ish main tutup aja"


Terlihat malas Nn Putri segera menghubungi ruangan Velly namun tak mendapatkan jawaban.


"Kemana sih tuh anak!?" rutuknya lalu menghubungi Sofie.


"Hallo Sofie, kamu tahu Velly kemana!? oh baiklah" setelah menutup teleponnya Nn Putri pun keluar dari ruangannya.


"Ngapain dia ke pantry, aneh banget kalau bikin minum sendiri!? apa iya nyamperin si Alien!? masa sih!?" Nn Putri bermonolog menuju pantry.


Sementara di pantry sendiri Velly tengah duduk santai di temani Arqian yang tengah sibuk membuatkannya teh hangat.


"Ini tehnya, sok di minum mumpung hangat" ucap Arqian.


"Ok thank ya" Velly lalu menyesap tehnya dan kembali bersuara, "Oh iya kalau boleh tahu kamu tuh siapa? gimana ceritanya bisa ke kota ini apa lagi nyasar ke rumah Non Macan segala"


"Hehe ini Teh" ucap Arqian seraya menaruh sesuatu di depan Velly.


"Buat apa kanebo!?" Velly terheran.


"Soalnya cerita Ian teh mengandung obat tetes mata Teh" Arqian mereceh.


"Idih ngeselin dikira body mobil" ucap Velly memukul pelan bahu Arqian lalu tertawa bersama.


Sesaat wajah Arqian berubah serius "Hehhh" setelah menarik nafas Ia pun mulai bercerita, "Sedari kecil Ian teh gak pernah tahu siapa orang tua Ian, satu-satunya keluarga cuma Nenek Arni yang menemukan Ian saat masih kecil"


Deg!


"Jadi kamu hanya hidup berdua sama Nenekmu itu?" tanya Velly penuh iba tanpa mereka sadari seseorang di balik pintu sedang diam tertahan menguping pembicaraan mereka.


"Yah walaupun serba kekurangan Nenek teh tak pernah sedikitpun menyerah untuk membesarkan Ian.Satu pesannya yang paling Ian ingat, kira-kira seperti ini 'Tertawalah kamu walaupun seluruh dunia ingin kamu meneteskan air mata' hehe" Arqian tersenyum getir.


Deg!


Ucapan Arqian cukup membuat Velly menahan nafasnya sesaat.Berbeda bagi sosok di balik pintu, degupan jantungnya makin tak karuan.Kalimat terakhir itu begitu penuh makna.


"Hmmhh, saya bersimpati atas apa yang menimpa kamu Ian, semoga suatu saat nanti kamu menemukan keluargamu ya"


Arqian tersenyum canggung,"Terima kasih ya Teh, itu juga yang selalu Ian harapkan"


Sesaat mereka terdiam dan larut dalam perasaannya masing-masing hingga samar terdengar suara dari arah pintu.


"B-Boss maaf, ada yang bisa saya bantu?"


Tanpa menghiraukannya Nn Putri segera meninggalkan tempat tersebut.


Velly segera beranjak mendekat, "Ada apa?" tanyanya saat melihat Ardi yang mematung.


"Eh itu tadi ada Bu Boss tapi ia sudah pergi" balas Ardi sedikit canggung.

__ADS_1


Tak mau buang waktu Velly segera menyusul keruangannya.Setelah mengetuk pintu Ia masuk tak lupa memasang senyum terbaiknya.


"Siang Nona ... apa Nona mencari saya?" tanya Velly was-was.


"Siapkan keperluan untuk acara malam ini, pertemuan keluarganya di majukan jadi hari ini" balasnya dingin tanpa menoleh.


"Baik Nona akan saya siapkan beberapa untuk nanti Nona pilih" ucap Velly tanpa berani bertanya.


"Ya ... terserah!" Nn Putri nampak malas.


Tanpa ada lagi pembicaraan mereka kembali di sibukan oleh pekerjaan yang seperti tidak ada habisnya.Mode serius Nn Putri membuat Velly menemaninya tanpa bersuara, hingga waktu berlalu tanpa terasa.


********


Malam menjelang menyambut seorang Putri yang tampil penuh pesona.Gaun midi dress off shoulder berwarna ungu membuatnya semakin sempurna di padu high heel senada.


"Maaf apa saya terlambat?" Ucap Nn Putri setelah menyalami semuanya lalu duduk di sebalah Maminya.


Sesaat semua nampak terpesona olehnya terutama Andrian yang tak ingin sedetikpun berkedip.


"Kamu cantik sekali malam ini Cla" puji Andrian tanpa sungkan.


"Benar kata Andrian kamu makin cantik sayang" Ny Amira turut memujinya.


Semua nampak mengulum senyum termasuk Nn Putri.


"Terima kasih, Anda berlebihan Tante" balas Nn Putri.


"Saya sungguh merasa gembira kita bisa berkumpul seperti ini, terasa seperti satu keluarga, bukan begitu Pak Ibrahim?" ucap Tn Devan dengan penekanan.


"Benar sekali Pak, mari kita nikmati hidangannya terlebih dahulu" sahut Tn Ibrahim.


Selama mereka menikmati hidangan yang tersedia Nn Putri terus berusaha menekan perasaan tak tenangnya.Terlebih Andrian yang terus mencuri pandang padanya.


"Pak Ibrahim sungguh waktu berlalu begitu cepat, tak terasa kita ini sudah pantas diam di rumah tanpa di pusingkan berkas dan kerjaan" Tn Devan mencoba membuka percakapan.


"Hehe benar Pak Devan, sudah seharusnya kita menyiapkan kursi goyang dan menjadi kakek" sambut Tn Ibrahim


"Ya mungkin di tambah rengekan anak kecil" tambah Ny Amira.


"Maksud Ny Amira cucukan?" ucap Ny Meisya.


"Haha" semua pun tertawa bahagia terkecuali Nn Putri yang terus merasa gusar.


Rasa khawatirnya semakin menjadi, sadar arah pembicaraan kedua kepala keluarga ini membuat ingin sekali Ia menghilang dari sana.


"Untuk itu Pak Ibrahim seperti kita tahu ke dua anak kita ini sudah lama saling kenal dan begitu dekat, sudah cocok sepertinya berlanjut ke tahap yang lebih serius" ucap Tn Devan nampak santai tapi penuh penekanan.


"Kami sebagai orang tua Andrian tak sabar sekali Putri jadi menantu kami" Ny Amira menambahkan.


Glek!


Susah payah Nn Putri menelan salivanya."Ya ampun, kenapa jadi begini sih!" gumamnya makin tak karuan.


Andrian yang semakin percaya diri Mencoba meraih tangannya.Namun Nn Putri tanpa di duga segera menarik tangannya ke bawah meja, membuat Andrian nampak kecewa.


"Pak Devan kami sangat senang dengan niat baiknya, itu juga menjadi harapan kami yaitu melihat putri kami menikah" ucap Pak Ibrahim.


Nn Putri yang benar-benar sudah tak tahan meneguk minumannya.Setelah mengumpulkan sedikit keberaniannya Ia mulai bersuara.


"Pi, Mi, Om Devan dan Tante Amira maaf, bukan maksud Putri menyela tapi sebelum berbicara lebih jauh izinkan saya bicara kalau di perbolehkan"


Kedua pasangan orang tua nampak sama-sama tertegun penuh tanya.Hingga Tn Devan kembali berucap, "Tentu saja sayang, silakan" di iringi anggukan Tn Ibrahim.

__ADS_1


"Putri minta maaf, jujur Putri belum berpikir sejauh itu.Selama ini hubungan saya dan Andrian bisa di bilang tak pernah kemana-mana"


Semua nampak saling pandang begitu terkejut terutama Andrian.Perasaannya mulai tak enak, "Bukankah selama ini kita baik-baik saja Cla!?"


"Maaf Andrian, aku tak mau ini semakin mengecewakan semua nantinya, kamu tahu sendirikan kita tak pernah sejalan" ucap Nn Putri dengan suara sedikit bergetar.


"Clarisa! Apa maksud perkataanmu!?" tanya Tn Ibrahim penuh penekanan.


"Pi, Mi, Om dan Tante, sekali lagi saya mohon maaf, saya Putri Clarisa tidak bisa mengabulkan keinginan itu.Mohon pengertiannya untuk tidak melanjutkan rencana Putri dan Andrian" Putri begitu memohon lalu dari bawah meja nampak mengirim pesan tanpa semua orang sadari.


"Kamu!? lagi bercandakan?" ucap Andrian berusaha menahan emosinya.


"Clarisa! tolong jaga sikapmu!" Tn Ibrahim mulai gusar.


Drrrtttt! Drrrrrrttttt!


Tanpa menghiraukan tatapan semua orang Ia segera menerima panggilannya. "Hallo Vel, apa! jelaskan pelan-pelan!" ucap Nn Putri sedikit mengeraskan suaranya.


"Apa sih Cla!? ada apa minta di telepon?" di tempat lain Velly kebingungan.


"Ya sudah aku pulang, kalau memang berkas itu mendesak!" Ia langsung menutup panggilan tersebut tanpa perduli Velly mungkin kesal dan memakinya.


"Maaf semuanya Putri pamit duluan, ada keperluan mendesak yang tak bisa di tunda" Nn Putri segera beranjak untuk menyalami semuanya.


"Kamu mau kemana sayang? Mami sama Papi belum selesai bicara" ucap Ny Meisya.


"Maaf Mi, Pi, Putri harus pergi, malam Om, Tante, Andrian"


"Clarisa!" Tn Ibrahim berusaha menahannya namun Nn Putri tetap berlalu.


"Clarisa biar aku antar!" Ucap Andrian seraya menyusulnya,"Andrian izin duluan Om, Tante"


"Ya Andrian dan cobalah bicara padanya" balas Tn Ibrahim.


Sesaat kedua pasangan orang tua itu pun terdiam masih mencoba mencerna dan menenangkan perasaan masing-masing.


"Pak Devan dan Ibu Amira saya harap tidak tersinggung dengan sikap putri kami" ucap Tn Ibrahim mencoba mencairkan suasana.


"Kami harap Bapak dan Ibu bisa memaafkan sikapnya" Ibu Meisya menimpali penuh sesal.


"Tidak masalah kami memakluminya, mungkin Putri sedang ada masalah lain" balas Tn Devan diplomatis.


Sementara di parkiran langkah Andrian yang cepat sudah berhasil menyusulnya.


"Clarisa tunggu!" ucap Andrian seraya menahan lengannya.


"Andrian! sudahlah Andrian aku gak mau berdebat, aku harus segera pulang" balas Nn Putri sedikit jengah.


"Biar aku antar ok"


"Nggak! aku bisa sendiri" balas Nn Putri seraya menghempaskan tangannya.


"Kamu kenapa sih Cla!? apa yang membuatmu tiba-tiba berubah seperti ini!"


"Aku tidak berubah Andrian, hanya berusaha jujur"


"Jujur!? apa itu cuma alibimu saja!?" ucap Andrian lalu menangkup wajah cantik itu dan menatap manik matanya dengan lekat.Sontak bola mata Nn Putri membulat sempurna dengan perasaan tak karuan.Sesaat Nn Putri membuang tatapannya.


"Lepas Andrian!" Sekuat tenaga ia mendorong tubuh Andrian yang begitu dekat.Tanpa berlama-lama Ia masuk ke mobilnya dan berlalu pergi.


"Cih! kau tak akan pernah bisa lepas dariku Cla!" gumamnya penuh keyakinan.


*******

__ADS_1


__ADS_2