
Tanpa mengeluh Arqian terus membereskan gudang yang akan menjadi tempat tidurnya.Gudang yang berada tak jauh dari teras samping itu terasa cukup nyaman.
"Alhamdulillah selesai juga, saya teh masih beruntung di banding harus tidur di jalan, di sini enak bisa langsung lihat taman juga lapangan" ucap Arqian begitu merasa bersyukur.
Tak lama ia beranjak mengambil wudhu lalu melaksanakan shalat Isya.Selesai shalat tak lupa ia pun berdo'a hingga suara perutnya memangil.
"Krruuuuukkkhh! ya ampun perutku minta di isi tapi tak enak kalau minta, gimana ya?" ucap Arqian merasa serba salah.
Saat Arqian nampak kebingungan tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Ian!"
"Iya saya" balas Arqian lalu keluar kamarnya, "Eh iya Bi ada apa!?"
"Di panggil Nona, ayo cepat jangan lama-lama" ucap Bi Asih nampak serius.
Tanpa berlama-lama Arqian beranjak pergi menemui Nona yang kebetulan berada di ruang makan.
"Maaf, Tuan Putri memanggil saya?" tanya Arqian begitu tergugah oleh makanan yang tersaji di meja.
"Darimana saja kamu!? kamu di sini untuk bekerja bukan malas-malasan! ingat itu!" ucap Nn Putri lalu menyuap makanannya.
"Iya Tuan Putri, saya teh mengerti" sahut Arqian, "Kriiuuukkkkhhh" tanpa kompromi perutnya kembali bersuara.
Arqian langsung menunduk malu tatkala Nona mudanya menatap penuh selidik.
"Mau makan!? lapar?" tanya Nn Putri seraya tersenyum.
"Mau Nona kalau di izinkan" sahut Arqian bersemangat.
Nampak Nn Putri segera mengambil satu piring nasi lalu menyerahkannya.
"Nih, mumpung saya lagi baik" ucap Nn Putri seraya menyerahkannya.
"Terima kasih Nona" sahut Arqian seraya menarik satu kursi untuknya duduk.
"Heh! suruh siapa kamu duduk!" seru Nn Putri seraya menatap tajam.
Arqian yang terkejut urung untuk duduk lalu merapikan kursi itu kembali.
"Nih, ambil!" ucap Nn Putri penuh penekanan.
"Iya Nona, terima kasih" sahut Arqian seraya meraih piring berisi nasi.
"Kenapa bengong! ayo makan!" seru Nn Putri nampak kesal.
"Emm, maaf Nona, saya teh ini gak ada temennya?"
"Apa!? siapa sudi temenin kamu, sana makan sendiri" seru Nn Putri begitu kesal.
__ADS_1
"Bukan temenin saya Nona, tapi temenin nasinya, kasihan jomblo" sahut Arqian polos.
"Heehmkkkh!" Nn Putri berusaha menahan tawanya lalu kembali memasang wajah serius, "Nih buat kamu! cepat makan atau saya suruh kamu puasa sampai pagi!"
Bagai kerbau dicocok hidung Arqian mendekat lalu mengambil sepotong tempe goreng itu.Karena tak enak ia pun beranjak pergi ke kamarnya.
"Hei mau kemana kamu! siapa suruh kamu pergi!" seru Nn Putri.
"Ehh, saya teh gak mungkin makan sambil berdiri, di kursi juga gak mungkin, tadinya mau di teras samping saja" sahut Arqian.
"Di lantai sinikan luas, duduk saja di situ!" perintah Nona Putri.
"Baik atuh kalau di bolehkan" ucap Arqian lalu duduk di lantai ruang makan tak jauh darinya.
Dari arah dapur Wati dan Bi Asih yang melihatnya jadi merasa kasihan.Bagaimana tidak Arqian seakan di permainkan Nona mereka.
"Kasihan banget si Abang Ian, mau makan aja di kerjain gitu Bi" ucap Wati.
"Iya, mungkin Nona masih tak percaya Ian orang baik-baik" sahut Bi Asih seraya terus sesekali meliriknya.
Arqian sendiri duduk bersila di lantai lalu berdoa dengan penuh syukur.
"Mari makan Nona" ucapnya seraya tersenyum.
"Ni orang aneh sebenarnya siapa sih?" gumam Nn Putri, "Tapi bagaimanapun jangan lengah oleh tampang tak berdosanya itu, dia pasti modus" gumamnya lagi.
Nona Putri sudah tak fokus pada makanannya ia terus menatap Arqian yang begitu lahap makan padahal hanya dengan sepotong tempe.
"Bener kata Velly orang ini lumayan, tapi sayang ni orang kampung bukan orang baik-baik pastinya"
"Nona Alhamdulillah saya sudah selesai, boleh saya teh izin minum?" ucap Arqian dengan sopan.
Nn Putri sendiri terdiam tak menjawab ia terbengong menatap Arqian.
"Nona, Nona! Hei!" seru Arqian saat tak mendapat jawaban.
"Ehh! apaan sih! gak usah teriak, gak sopan banget" ucap Nn Putri kesal bercampur malu.
"Maaf, habis Nona diam saja, saya sudah selesai, boleh saya pamit ke dalam"
"Iya iya sudah sana pergi!" balas Nn Putri sinis.
Arqian pun beranjak ke dapur, setelah mengambil minum ia pun lalu mencuci piring bekas makannya.Saat Arqian menuju gudang yang sudah menjadi kamarnya tiba-tiba Nn Putri kembali buka suara.
"Hei kamu! jangan pergi dan gak boleh tidur kalau saya belum tidur!" perintah Nn Putri yang sengaja terus ingin membuatnya kesal.
"Iya Nona tapi kalau Ian ketiduran tolong bangunin ya" sahut Arqian seraya cengengesan.
"Diam! jangan ngomong kalau belum saya suruh!" teriak Nn Putri kesal.
__ADS_1
Arqian pun hanya membalas dengan anggukan.Lalu berdiri menunggu Nn Putri selesai makan.
"Ayo ikut saya!" ucap Nn Putri beranjak ke ruang tengah.
Arqian mengangguk lalu mengikutinya.Sementara Nn Putri duduk di sofa lalu meluruskan kakinya.
"Pijit kaki saya cepat!" perintah Nn Putri begitu serius.
Arqian lagi-lagi hanya mengangguk lalu duduk bersila di lantai tepat di hadapannya.Dengan meragu Arqian meraih sebelah kakinya dan memijatnya.
"Kamu tuh niat gak sih! badan doang gede tapi gak ada tenaganya" ucapnya seraya mendelik.
Arqian kembali mengangguk lalu menambah tenaga pada pijatannya.
"Aduhh! duhh! hei bisa pelan-pelan gak! kamu dendam sama saya hah!" seru Nn Putri seraya mendorong Arqian dengan kakinya.
Arqian hanya menangkupkan tangan seraya membungkuk beberapa kali tanpa berkata apapun.
"Lo bisu atau gimana! nyebelin banget malah gerak gak jelas!"
Arqian terus mengangguk dan menggeleng seraya menggerakkan tangannya gak jelas.
"Bener-bener ni orang aneh! ngomong yang bener kamu!" seru Nn Putri seraya memukul Arqian dengan bantal sofa.
"Maaf, Nona bilang tadi teh gak boleh ngomong, makanya saya diam, takut salah"
"Astaga! bener-bener orang aneh, kalau di tanya ya jawab! bisa gila gue lama-lama" ucap Nn Putri makin emosi.
"Jangan gila Nona gak enak, nanti Nona pada di jauhin orang" sahut Arqian.
"Bodo amat! cepat pijat lagi!" perintah Tn Putri.
Dengan hati-hati Arqian kembali memijatnya.Ia hanya berani dari jari hingga betisnya saja itu pun dengan rasa canggung yang mengganggu.
"Nona, bagaimana kalau badannya juga? biar besok Nona lebih segar" tawar Arqian tulus.
"What! kurang ajar kamu pasti berniat megang tubuh saya ini ya!? dasar mesum!" seru Nn Putri tak terima.
"Astagfirullah, tidak atuh Nona saya mana berani, hanya bahu dan punggung saja, saya teh dulu biasa mijit Nenek waktu di kampung, katanya sih enak"
Dengan ragu-ragu Nn Putri pun menurut.Dari arah belakang sofa Arqian mulai memijit bahunya.
"Emmhhh, boleh juga pijitannya" gumam Nona Putri merasa nyaman.
Tanpa di sadari beberapa lamanya di pijat Arqian, Nona Putri pun tertidur oleh nyamannya tangan Arqian.
"Aduh! Nona malah tidur di sini, apa harus saya bangunkan!? tapi kasihan, kalau saya pindahin tar di bilang aneh-aneh, kumaha atuhnya!?"
Setelah kebingungan Arqian lalu meminta Bi Asih membawakan selimut.Setelah mendapatkannya ia lalu menyelimuti Nona mudanya itu lalu berjaga tak jauh darinya hingga sama-sama tertidur.
__ADS_1
[[ Bersambung ]]