Mengejar Sang Putri

Mengejar Sang Putri
Saingan Berat


__ADS_3

Jam istirahat telah tiba namun Arqian sendiri masih terus bekerja.Sudah menjadi hal biasa mereka memanfaatkan waktu istirahat secara bergiliran.


"Aku bantu ya Na" ucap Arqian tak tega.


"Gak apa-apa, aku masih bisa" balas Ina.


"Udah, dari pada saya teh diem, lebih cepet di kerjain sama-samakan" ucap Arqian lalu meraih lobby duster, "Kamu lap kaca saja, biar saya yang sapu, sekalian belajar pake ini hehe"


Dengan sedikit kaku Arqian mulai menyapu setiap sudut lantai hingga mendekati area lift.Saat asyik dari lift keluar seseorang hingga tak sengaja terkena sapuannya.


"Dukhh!" kaki orang itu pun tersandung alat sapunya hingga terjatuh.


"Brugghh! akhhh! Sialan siapa yang berani buat gue celaka!" teriak laki-laki itu yang membuat beberapa staf melihat ke arahnya.


"Aduh! kok bisa pas gitu ya?" gumam Arqian terpaku menatapnya.


"Heh kamu! kamu sengaja ya! mau bikin saya celaka!" ucapnya lalu berdiri dan menghampiri Arqian.


"Emmh maaf Om" sahut Arqian tak enak hati.


"Seenaknya Am Om Am Om, emang gue setua Om lo! lo bisa kerja gak bodoh!" seru laki-laki itu nampak emosi.


"Eh Pak maafkan teman saya, ia tadi tak sengaja, sedang nyapu malah nyenggol" ucap Ina menengahi.


"Diam kamu! jangan ikut campur! pergi gak!" perintahnya begitu serius.


Arqian yang tak tega memberi kode pada Ina untuk pergi.Sepeninggal Ina laki-laki tersebut menari Arqian ke tempat yang lebih tersembunyi.


"Heh! berani lo cari masalah sama gue! bosan hidup lo!" ancam laki-laki itu seraya mendorong bahu Arqian.


"Tidak Om, sekali lagi saya minta maaf tadi teh benar-benar tak sengaja atuh, kebetulan pisan saya nyapu Om keluar" Arqian mencoba menjelaskan.


"Oh, jadi ini salah gue!? lo udah bikin celaka gue dan lo salahin gue, hebat!" ucapnya lalu dengan tiba-tiba mencengkram kerah baju Arqian dan menghempaskannya ke dinding.


"Dengar sialan! lo gak tahu siapa gue, sebaiknya lo minta maaf dengan bersujud, atau lo akan menyesal telah bertemu gue" ancamnya begitu dingin.


"Om saya teh sudah minta maaf, tak bisa kitu di lupakan saja!?" sahut Arqian seraya berusaha melepaskan cengkramannya.


"Tidak semudah itu anak kecil! sujud dan bilang kamu menyesal!" ucapnya seraya menekan Arqian ke dinding.


"Saya minta maaf dan saya teh menyesal" sahut Arqian tak ingin memperpanjang masalah.


"Bagus, sekarang sujud!" ucapnya belum puas.


"Maaf Om, saya tak berniat memperpanjang masalah, tapi saya sujud hanya pas shalat" sahut Arqian terus menatap ke lantai.

__ADS_1


"Bener-bener minta di hajar lo bocah!" ucapnya seraya mendorong Arqian lalu mengangkat tangannya.


Saat laki-laki itu melayangkan pukulan reflek Arqian meraih sesuatu di lantai.Membuat pukulan orang itu mengenai stik lobby duster yang di pegang Arqian.


"Arrgggghhhh!" pekiknya seraya mengibas-ngibaskan tangannya.


"Wow, alhamdulillah ini teh beneran duit! tapi punya siapa ini ya!?" Arqian bermonolog.


Seraya meringis laki-laki itu benar benar di buat makin emosi melihat sikap Arqian yang seakan tak menganggapnya.


"Dasar orang gak beres, rasakan ini"


Belum juga ia melakukannya seseorang datang lalu menyapanya membuat laki-laki itu diam mematung.


"Tuan Andrian!? sedang apa di pojokan sini?" tanya Velly yang kebetulan melewatinya.


Perlahan Andrian menurunkan tangan seraya merapikan jasnya.Seakan tak terjadi apa-apa ia memaksakan satu senyum.


"Eh Velly, enggak ada apa-apa kok, saya sedang menanyakan sesuatu aja sama dia, benar gak!?" ucap Andrian seraya memegang bahu Arqian lalu menekannya dengan keras.


Arqian yang terkejut lalu menahannya sekuat tenaga, "Iya Teh, itu benar" sahutnya.


"Tuh benarkan" ucap Andrian lalu tersenyum puas.


"Apa Anda mau menemui Nona Putri? kalau benar, Nona sebentar lagi akan pergi" ucap Velly yang seakan mencium gelagat tak baik.


Saat Velly beranjak pergi Andrian kembali menghampiri Arqian, "Urusan kita belum selesai, jangan merasa senang dulu.Siapa nama lo!? biar gue simpan di daftar hitam gue"


"Ya ampun, masih aja Om teh terus mempermasalahkannya, nama saya Brandon Om" balas Arqian asal.


"Brandon!? kebagusan amat lo! Heh! lo gak bisa sembunyi selamanya, gue pasti tahu nama lo" ucap Andrian lalu beranjak pergi seiring tatapan Velly yang seakan mengawasinya.


Arqian sendiri kembali melanjutkan menyapu lalu menuju pantry setelah semuanya selesai.


"Kringg! krinng!' telepon berbunyi, dengan segera Ardi mengangkatnya.


"Baik Bu segera di buatkan" ucap Ardi lalu menutupnya, "Ian kata Bu Boss bikin kopi hitam tapi gulanya dikit"


"Oh siap atuh, bikin berapa?" sahut Ian balik bertanya.


"Saya gak nanya lagi, gimana dong!?" balas Ardi merasa bersalah.


"Ya sudah atuh saya bikin dua saja kalau begitu, dari pada kurang, kudu bolak balik" ucap Arqian dengan cepat membuatnya.


Dengan perlahan Arqian membawa kedua kopi itu menuju ruangan Nn Putri.

__ADS_1


"Maaf permisi, ini minumannya" ucap Arqian lalu tak lama Velly membukakan pintu.


Arqian kembali terkejut melihat Andrian yang memang ada di dalam.Sepertinya memang begitu kenal dengan Nn Putri.


"Ini Om, silahkan" ucap Arqian lalu menaruh di depan Andrian.


"Hmmm! terima kasih ya" ucap Andrian seraya menepuk Bahu Arqian sedikit keras.


Arqian hanya melirik sesaat lalu kembali menaruh satu kopi lagi di depan Nn Putri.


"Nah ini teh khusus buat Nona, biar tamunya gak minum sendirian" ucap Arqian dengan tersenyum.


"Heh! baik juga ini bawahan kamu Cla!? pantas bisa kerja di sini, btw siapa namanya?" ucap Andrian seraya tersenyum kecil.


"Dia Ini cuma cari muka saja di sini! dia namanya ... "


Sedikit panik Arqian memotong ucapan Nn Putri dengan segera,


"Maaf kalau begitu teh Brandon pamit dulu, silahkan di cicipi" ucap Arqian lalu segera beranjak pergi.


"Memang benar namanya Brandon Cla!? Brandon kok logat sunda gitu?" tanya Andrian menahan geli.


Nn Putri pun saling memandang dengan Velly seakan tak habis pikir dengan tingkah Arqian.


"Brandon apaan dia itu Ian, kaya Jakarta-London saja Brandon, jauhhh! jangan denger omongannya dia itu gila"


"Ohhh begitu ya" sahut Andrian seraya tersenyum, "Sudah gue bilang lo gak bisa sembunyi selamanya bocah!" gumam Andrian.


"Oh iya kamu ngapain ke sini!? apa ada urusan kantor?" tanya Nn Putri nampak penasaran.


"Kenapa sih!? gak boleh emang kalau aku nemuin calon jodoh, harus terus soal pekerjaan!? balas Andrian balik bertanya seraya meminum kopinya.


"Bukan begitu inikan jam kerja, kamu tahu aku selalu sibuk" balas Nn Putri nampak malas.


"Kamu ni kerja juga ada waktunya, ini sudah jam makan siang, kita makan dulu di luar, gimana? Om Ibrahim pun pasti tak suka melihat kamu selalu menunda makan" ucap Adrian sengaja menyebut Nama Papanya.


"Selalu saja bawa nama Papa, jika bukan di paksa, malas gue ladeninnya" gumam Nn Putri dalam hati.


"Ya sudah, kebetulan memang kita mau keluar untuk makan siang" balas Nn Putri.


"Ok kalau begitu, ayo" ucap Adrian seraya berdiri.


Tak lama mereka berjalan bersama dengan Velly mengikutinya dari belakang.Tanpa di sangka Arqian pun melihat mereka.


Dengan tatapan sok Andrian menatap Arqian seraya merangkul bahu Nn Putri.

__ADS_1


"Hmmmh, sepertinya orang itu teh orang dekatnya Nona, cocok sama-sama berkelas mereka teh, Ian mah apa atuh, cuma OB yang gak punya apa-apa cuma Alhamdulillah gak kalah kalau gantengnya mah hehe" gumam Arqian bermonolog.


[[ Bersambung ]]


__ADS_2