
"Dia akan baik-baik saja, aku yakin dia sedang tertawa saat ini" ucap Velly yang tak tega melihatnya terus termenung di balkon kamarnya.
"Baik bagaimana, hidup sendiri di kota asing seperti ini pasti berat" ucap Nn Putri seakan bibirnya bergerak sendiri dengan mata terus memandang lurus nan kosong.
"Orang yang dia kenal hanya kita sepertinya, apa harus kita mencarinya?" ucap Velly bangkit lalu menghampirinya.
"Iya kita harus mencarinya" balasnya lagi tanpa sadar.
"Ya sudah ayo kita berangkat" ucap Velly seraya menepuk pundak Nn Putri.
"Hah!? kenapa!?"
"Kita pergi!? cari Ian"
"C-ca-cari Ian!? cari saja sama kamu, aku lebih baik kerja!"
"Cieee ngeles, padahal dari kemarin mikirin terus.Ayo kita cari Pangeran Ian" goda Velly seraya menarik lengannya.
"Nggak!" balasnya ketus seraya menghempaskan tangan lalu duduk memainkan ponselnya.
Velly tersenyum geli lalu duduk di samping Nn Putri, "Jadi kita akan memecatnya Cla? sesuai permintaan Om Ibrahim?"
"Huft! aku berasa jadi orang jahat, tapi apa yang bisa aku lakukan Vel, sulit untuk menyembunyikan apapun dari Papi"
"Miris ya, gak kebayang rasanya memecat orang yang kita sayang" goda Velly lalu ambil langkah seribu.
"Vellyyyyyyyyyy!" Nn Putri dengan cepat melempar Velly yang berusaha kabur dengan bantal sofa.
<|| Flasback ||>
"Tidaaak! jangan libatkan polisi Pi tolonglah"
"Clarisa! kita tidak tahu apa orang ini punya niat jahat atau tidak.Papi gak mau ambil resiko, dia menerobos masuk ke rumah ini saja itu sudah cukup bukti"
"Tapi Pi itu pun hanya kebetulan, Dia terpaksa melakukannya"
"Apa kamu lihat dengan mata kamu sendiri saat itu! bagaimana kalau orang ini beneran pencuri yang sengaja bersembunyi di sini!"
"Ya tapi ... " Nn Putri seakan kehilangan kemampuan debatnya apalagi usapan dan bisikan Maminya membuat ia benar-benar makin tak berdaya.
"Tuan ... maaf jangan terus marah dan menyalahkan Nona, Ian yang salah sudah berani masuk ke rumah ini tapi Ian teh bersumpah bukan orang seperti itu"
"Sumpahmu tak berarti apapun pemuda tak tahu diri! berani membuka mulut artinya kamu siap menjelaskannya di kantor polisi!"
Tiba-tiba Nn Putri berdiri menatap tajam Papinya tanpa rasa takut."Silakan Papi panggil polisi jika ingin Clarisa pun di giring polisi dengan tuduhan ikut menyembunyikan pencuri.Itukah yang Papi mau?"
Deg!
Semua orang nampak terhenyak mendengarnya.Bagaimana bisa seorang sepertinya bisa berkata tak masuk akal seperti itu hanya untuk seorang laki-laki tak jelas seperti Ian.
"Clarisa sayang, tolong jaga sikap dengan Papimu Nak" lirih Ny Meisya seraya menarik lembut tangannya untuk kembali duduk.
"Kamu! ... "
"Papi tahu darah siapa yang mengalir dalam diri Putri.Seorang berdarah Mandala takan mudah merubah keputusannya, silakan panggil polisi" ucapnya begitu santai.
"Kamu masih hijau untuk mengatakan itu Clarisa.Papi tetap akan menyeret orang ini ke penjara dan kamu tak bisa menghentikannya!"
"Ya silakan Pi, semoga Papi siap kehilangan satu putri lainnya seperti saat kehilangan Dayana Eira Miselia"
Deg!
Ucapan tenang Nn Putri bagai hantaman badai besar menerpa relung kedua orang tuanya.Sisanya menatap Nn Putri penuh tanya 'Siapa itu Dayana'.
"Beraninya kamu mengancam Papi! kamu kira Papi takut!?" Ucap Tn Ibrahim mencoba menyelamatkan wibawanya.Namun hanya di balas senyum tipis putrinya seraya mengangkat bahu.
"Clarisa, mengapa kamu begitu melindunginya!? yang ku lihat kamu begitu membencinya!?" Andrian tak bisa terus berdiam diri.
"Tidak" balasnya pendek, santai tapi tegas.
"Lalu saat kau memarahinya kemarin!? tak mungkin itu hanya akting"
"Ya itu benar bukan akting" balasnya masih datar.
Andrian semakin di buat bingung oleh jawabannya yang setengah-setengah.Begitupun yang lain hanya mampu mengerutkan dahinya.
"Hemh! aku memang marah padanya tapi marahnya benar-benar terasa, ada sensasi yang tak bisa aku mengerti, berbeda dengan marah padamu aku tak merasa ada sesuatu yang lain malah yang ada malas.Sepertinya aku menyukai untuk marah padanya"
Jreng!
"Wah ini nih, parah nih.Ajaran aliran mana suka dari marah, masa i love u jadi aku marah padamu?" Velly memngguman dalam hati.
__ADS_1
"Ya Allah apa mungkin hati beku putriku mencair oleh pemuda itu? apa mungkin!? dia cukup tampan tapi ... " Ny Meisya menatap intens Arqian dari atas ke bawah.
"Kamu mau bilang kalau kamu lebih tertarik padanya dari padaku Cla!?" ucap Andrian tak terima.
Nn Putri kembali mengangkat bahunya seraya berucap, "Mungkin"
"Sudah cukup! Papi gak mau dengar apapun lagi! Papi sudah putuskan tak akan memanggil polisi tapi ... orang ini harus pergi dan jangan pernah berani mendekatimu!"
"Satu lagi Om, dia bekerja satu kantor dengan Clarisa" Andrian kembali buka suara.
"Apa! sejauh itu kamu bertindak!?" Tn Ibrhamin menggelengkan kepalanya tak percaya, "Papi gak mau tahu pecat dia dan pastikan pergi dari rumah ini!"
"Baik tapi dengan satu syarat, Papi dan Mami berhenti menjodoh-jodohkan Putri dengan siapapun" setidaknya jika kehilangan sesuatu maka Ia harus mendapatkan sesuatu.
Dengan berat akhirnya perdebatan itu berakhir walau di warnai protes Andrian yang di pastikan kehilangan dukungan dari calon mertuanya itu.Arqian sendiri menerima dengan lapang dada, Ia cukup bahagia melihat Nn Putri tak di hukum lebih berat oleh kedua orang tuanya.
<|| Flashback End ||>
Sementara Arqian sendiri di hari ke duanya ia tidur di sebuah tambal ban.Ia pun terbangun saat seseorang mengoyangkan tubuhnya, "Bang bangun! maaf saya mau buka tempat ini"
"Emmhhhh, maaf kalau saya teh ngehalangin.Saya bantu, hitung hitung balas budi karena saya tidur disini"
"Hehe ya sudah kalau kamu mau bantu, ayo"
Tak lama yang punya tempat kembali berucap, "Maaf sebenarnya Abang dari mana mau kemana?"
"Ini eh ... jujur saya teh gak tahu, saya dari kampung sengaja ke sini mau mengadu nasib tapi yah nasib saya teh malah gak jelas gini"
"Hehe semua orang hampir sama, padahal justru kota besar lebih keras dari pada di kampung.Begini saja untuk sementara bantu saya di sini mau gak?"
"Wah beneran itu teh!?"
"Iya, soalnya yang biasa bantu sudah dapat kerjaan baru, agak repot kalau sendiri soalnya nyambi cuci motor juga.Cuma gajinya harian tergantung kondisi pemasukan, gimana ok?"
"Ok, im yes n you no, ok ok wae lah"
"Haha lets go man, oh iya saya Jamil, mudah-mudan pelanggan makin banyak kalau ada yang ganteng di sini"
"Halah si Akang bisa saja, saya Ian dan mudah-mudahan rejekinya ya Kang" Arqian bersyukur bisa bertemu orang baik.
Siang hari saat Arqian tengah membereskan peralatan kerjanya Jamil yang selesai makan siang datang. "Ian, kamu istirahat saja dulu siang gini biasanya jarang yang datang"
"Baik Kang, saya izin sebentar ya ada perlu"
Tak berlama-lama dengan menggunakan ojol menggunakan ponsel Jamil Ia segera menuju perusahaan Nn Putri.Sesampainya di sana Ia lalu masuk dan menuju pantry.
"Pak Angga saya teh mohon maaf bila selama ini saya punya salah, semoga lain kali kita bisa kerja bersama lagi" ucap Arqian namun Angga mengacuhkan jabatan tangannya dan Arqian hanya tersenyum.
"Ardi dan yang lain saya minta maaf juga, semoga kita teh bisa bertemu lagi" Arqian lalu menyalaminya satu persatu.
"Ya sudah Ian teh pamit mari Pak Angga, semuanya.Semangat" pamit Arqian lalu beranjak pergi.
Tak banyak yang mereka ucapkan toh kebersamaan mereka terlalu singkat.Banyak yang menyayangkan karena Arqian pribadi yang menyenangkan.
Arqian sendiri segera mengetuk ruangan Velly setelah Sofie mempersilakannya. "Teh Velly" ucapnya menirukan suara kartun.
"Siapa? loh perasaan barusan ada yang buka pintu" Velly menggelengkan kepalanya lalu kembali fokus ke laptopnya.
"Teh Velly main yu" goda Arqian seraya mengintip.
"Eh Ian!? tapi suaranya kok aneh? masuk siapapun itu" Velly terus menatap ke arah pintu.
Tak lama seseorang masuk dengan berjalan mundur dan perlahan."Teh Velly cari aku" ucap Ian lalu bersembunyi di bawah meja.
"Haha apaan sih kamu Ian, bener-bener super aneh, udah ih bangun" Velly tertawa geli.
"Hehe maaf aneh ya? oh iya maaf Teh Ian teh gak bisa lama cuma mau pamit, terima kasih atas semua kebaikan Teteh sama saya selama ini"
"Huft ... sepertinya saya akan kehilangan banyak waktu tertawa tanpa kamu di sini.Saya hanya bisa berdoa yang terbaik dan maaf tak bisa banyak membantu"
"Ya sudah kalau begitu teh ini sebagai hadiah perpisahan, Ian akan nyanyikan sebuah lagu paling populer saat ini" ucap Arqian lalu berdiri, Velly hanya menatap dengan menaikan satu alisnya dan Ian pun memulai aksinya.
"Lagu spesial nih Teh"
Daeng taing to baeing 🎸
Taing tu de baiing
Der bang dik kis doun
Der bang ding doun
__ADS_1
Dir dur daeeiing
Ding bikistong bikis daeng 🎶
Ding bikistong fiki baeiiing
Ting feng bikis toung
Nyiu feir dir daeing
"Hahaha" Velly sungguh tak tahan melihat Ian nyanyi sambil joget begitu sekenanya."Udah udah Ian hihihi... bisa mati muda saya, udah"
"Hihi ya ampun Ian-Ian dasar alien" ucap Velly seraya mengusap matanya yang berair, "Sebaiknya kamu temui Nona, sepertinya ada yang mau Ia sampaikan"
"Iya Teh, kalau boleh di antar atuh ya" pinta Ian sedikit sungkan.
Velly tersenyum mengerti lalu mereka berdua menuju ruangan Nona Putri.Setelah beberapa kali mengetuk dan memanggil Velly pun masuk karena tak ada jawaban.
"Nona!?" Velly melihat Nona Putri terus membenamkan wajah di meja kerjanya beralaskan kedua tangannya.
"Jangan ganggu aku dulu Vel, kamu handel pekerjaanku dulu ok" ucapnya begitu tak bersemangat.
Dengan mengendap-endap Arqian beranjak ke belakang Nn Putri.Dengan isyarat Ia meminta Velly bersuara.
"Nona apa mau ... saya ...pijit?" ucap Velly menirukan isyarat Arqian.
"Kalau kamu bisa boleh saja" balasnya tanpa bergerak sedikitpun.
Dengan perlahan Arqian mulai memijat bahu Nn Putri dengan lembut namun tepat di titik titik refleksi.Membuat Nn Putri begitu nyaman.
"Hemmmh, pintar juga kamu Vell"
"I-iya sedikit" balas Velly kembali mengikuti isyarat Arqian.
Beberapa lamanya Nn Putri terbuai oleh pijatan Arqian akhirnya ia kembali buka suara, "Jadi sepertinya dia gak akan datang ya Vell? dia pasti sakit hati sama ucapan Papi"
Velly. tersenyum lalu menyahut, "Saya rasa sih Ian bukan orang seperti itu, bukan dia itu alien"
"Aku benar merasa tak enak karena tak mampu berbuat banyak, entah maaf atau terima kasih pun aku tak sempat mengatakannya" Nn Putri mengangkat wajahnya namun tetap terpejam.
"Nona teh sudah melakukan segalanya, harusnya Ian yang minta maaf sudah membuat Nona dan Papinya bertengkar"
"Haha bahkan aku seakan mendengar suara dia Vell, lucukan!?"
"Hihi iya itu lucu sekali, sepertinya anda kena sindrom r-1-ndu alias rindu"
"Dih! mulai kamu ya" Nn Putri lalu membuka matanya dan sonttak Ia terkejut, "Velly! lalu ini ...Hah Ian!"
"Ya sudah saya permisi, sepertinya ada kerjaan yang harus segera di kerjakan" Velly dengan cepat keluar dari ruangan.
"Ian ... yang sopan kamu, silakan duduk" ucap Nn Putri terkesan gugup.
Setelah Arqian duduk tak seorangpun bersuara hingga akhirnya Arqian berinisiatif, "Maaf Nona saya teh ke sini mau pamit, terima kasih atas semua kebaikannya, saya teh tak akan pernah lupa"
Nn Putri hanya tersenyum, "Terimalah, ini sudah menjadi hak mu selama kerja di sini, gajimu tetap full" ucapnya seraya menyerahkan sebuah amplop.
"Aduh Non, ini teh terlalu banyak tak pantas buat Ian yang baru bekerja satu minggu"
"Tak apa ambilah, setidaknya ini yang bisa saya lakukan buat kamu"
Arqian tak kehilangan akalnya ia meraih amplop tersebut lalu membagi isinya dan mengambil seperempat bagian dan memasukan sisanya.
"Ini Nona simpan sisanya, Ian teh sudah dapat sesuai haknya"
Nn Putri begitu tak percaya orang seperti Ian bisa melakukan hal itu.Entahlah itu benar-benar membuatnya kagum mungkin.
"Ya sudah Ian pamit ya Nona" Arqian berdiri lalu mengulurkan tangannya.Tak lama Nn Putri menyambutnya.
"Nona teh jaga kesehatan ya, jangan telat untuk makan, jangan terlalu lelah bekerja dan yang terpenting senyum" ucap Arqian yang membuat Nn Putri seperti tersengat aliran listrik.
"Saya teh izin pulang dulu, Assalamualaikum Nona" Arqian berlalu meninggalkan Nn Putri yang mematung.
Tak lama saat dirinya tersadar Nn Putri berusaha mengejar Arqian. "Ian! Ian!" Serunya seraya membuka pintu ruangannya.
"Ya Nona?" Arqian menghentikan langkahnya.
"Emhh ... hati-hati" hanya itu yang bisa Ia ucapkan tertahan oleh tatapan Sofie juga Velly yang kebetulan mendengarnya berteriak.
Arqian berjalan ke arah meja Sofie lalu meraih kertas note dan pena.Tak lama Ia kembali menghampiri Nn Putri dan menaruh kertas note tersebut di telapak tangannya.
"Mari semuanya" ucap Ian singkat lalu benar-benar meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
********