
"Emhhhhhhh!" Nn Putri mengulet lalu mengucek matanya.
"Loh!? kenapa bisa aku di sini!? sial aku pasti ketiduran!" begitu panik ia menyingkap selimutnya seakan ingin memeriksa kondisi dirinya.
"Astaga! bagaimana ini! apa pemuda sialan itu mengambil kesempatan saat aku tidur!? tidak, tidak! bagaimana bisa gue terpedaya sama orang sialan itu! bodoh!" rutuk Nn Putri dengan keringat dingin.
"Tidaakkk! aku tak menyangka hari ini hilang sudah harga diriku" gumamnya dengan wajah semakin panik.
Dengan tergesa Nn Putri memeriksa satu persatu ruangan di rumahnya berharap menemukan Arqian.
"Ada apa Non? kok seperti panik gitu?" tanya Bi Asih yang sudah bangun dari subuh.
"Eh Bi! emmm lihat pemuda udik itu gak!?" tanyanya dengan setengah berbisik.
"Maksud Non, Ian? setahu Bibi tadi kayanya ada di kamarnya yang gudang itu Non" balas Bi Asih tak yakin.
Tanpa berkata lagi Nn Putri segera menuju gudang tempat Arqian.Dengan perasaan gugup perlahan ia membuka pintu ruangan tersebut.
"Loh kosong!" ucap Nn Putri begitu terhenyak, "Huft! terang saja kosong, orang kurang ajar itu pasti sudah kabur!" ucap Nn Putri bermonolog penuh penyesalan.
Tiba- tiba terdengar suara jejak kaki yang nampak tengah berlari pelan.Ia pun segera mencari asal suara tersebut.
"Ian!" pekik Nn Putri tertahan saat tahu siapa yang tengah berlari mengitari lapangan.
"Dasar pemuda tak tahu diri, orang panik dia malah tenang-tenang olah raga!" gerutu Nn Putri lalu kembali masuk ke rumahnya.
"Bi! Bi Asih!" seru Nn Putri dengan wajah menegang.
"Iya Non, ada yang bisa Bibi bantu?" sahut Bi Asih mulai ketakutan.
"Sini Bi" ucap Nn Putri lalu menarik Bi Asih ke tempat yang agak tersembunyi, "Coba ceritakan apa yang Bibi ketahui soal semalam, kenapa saya bisa tidur di sofa!?"
"Oh itu, yang Bibi tahu Non di pijat sama Ian lalu tertidur dan Ian minta selimut untuk Non, terus Ian nemenin Non di situ" sahut Bi Asih apa adanya.
"A, apa! nemenin! maksud Bibi dia, itu ... tidur dengan saya!" tanya Nn Putri kembali dengan wajah memucat.
"Iya Non, Nona di sofa Ian di duduk di lantai, setahu Bibi ya begitu, selebihnya Bibi masuk kamar Non"
"Astaga Bibi ini gimana sih gak jelas gitu" kesal Nn Putri, "Ya sudah kembali bekerja sana!" perintah Nn Putri begitu emosi.
"Kalau ucapan Bibi benar itu artinya dia gak ngapa-ngapain tapi saat Bi Asih di kamar!? sial kenapa bisa senyenyak itu sih gue tidur!" Nn Putri bermonolog penuh emosi.
"Arrgggggghhhhh! lebih baik gue mandi buat ngedinginin pikiran ini" seru Nn Putri putus asa.
Pikiran kacau Nn Putri ternyata terus menghantuinya.Hingga di kantor pun perasaan gusarnya tak sedikit jua mereda.
"Fuahhhhh! kopi apaan ini, gak enak banget! panggil OB!" teriak Nn Putri seraya memuntahkan kembali kopinya.
__ADS_1
Tak lama satu petugas OB pun datang dengan perasaan begitu tertekan.
"Maaf Bu apa Ibu memanggil saya?" tanyanya dengan gemetaran.
"Heh! jadi kamu yang bikin kopi!? kenapa rasanya gak enak begitu!? kamu mau bikin saya mati!" herdiknya tanpa tertahan lagi.
"Maaf Bu, memang saya yang bikin soalnya OB yang biasa bikin mengundurkan diri, eh tapi saya bikinnya sesuai sama yang biasa di buat Bu, emm 1 banding 1" balasnya seraya terus menunduk.
"Alasan! cepat bikin lagi yang baru, awas kalau masih tak enak saya hukum kamu! sana pergi!" perintahnya nampak begitu kesal.
"Maaf Nona apa semua baik-baik saja? saya lihat Nona terlihat gusar? apa ada sesuatu yang mengganggu?" tanya Velly yang sejak pagi melihatnya uring-uringan.
"Apaan sih kamu Vel, aku biasa saja! sebaiknya rencana pertemuan hari ini di undur saja, aku akan fokus membereskan beberapa dokumen penting" sahut Nn Putri terlihat serius.
"Ada apa lagi sama Ian?" tanya Velly menebak yang membuat Nn Putri menatapnya dengan terhenyak.
"Jangan bahas orang gak jelas itu! rasanya aku ingin menghajarnya lalu buang ke laut! euhhhhhhhhhh!" seru Nn Putri seraya merobek kertas kosong lalu meremasnya penuh emosi.
"Ada kejadian apa di rumah?" tanya Velly lagi seraya tersenyum.
Nn Putri pun terdiam lalu nampak berpikir.Cukup lama terdiam dengan sedikit ragu ia pun kembali berucap.
"Kamu bisa jaga rahasiakan!?" ucapnya dengan manatap tajam.
"Sejak kapan saya ini gak bisa menjaga lidah saya ini Nona? tak mungkin saya di posisi ini jika seperti itu" sahut Velly meyakinkan.
"Apa! maksud Nona? Ia berlaku kurang ajar sama Nona!?" balas Velly sedikit berteriak tak percaya.
"Huss! berisik gak bisa pelan dikit suaranya!? kalau ketahuan orang mau di taruh dimana muka saya"
"Maaf Nona, lalu apa Nona punya bukti soal itu atau saksi!?" tanya Velly lagi.
"Enggak!" balasnya pendek.
"Tapi Nona yakin Ian melakukan hal itu!?" tanya Velly masih tak percaya.
"Gak tahu juga sih, yang aku tahu aku tertidur di sofa dan Ian ada di dekatku semalaman, bisa sajakan ia berbuat macam-macam dan aku yakin itu" ucap Nn Putri mulai ragu.
"Ya ampun Nona, sekarang saya tanya apa saat itu Nona tidak merasakan apa-apa?"
"Enggak, aku tertidur pulas karena pijatan orang udik itu nyaman sekali, tubuh aku terasa enak saat bangun"
"Tak terasa ada yang sakit!? di dada atau di sana" tanya Velly seraya melirik ke arah bawah Nona beberapa kali.
"Apaan sih gak jelas kamu Vel, gak ada yang terasa sakit sih di sini sama di sini" balas Nn Putri nampak risih seraya melirik ke bawah.
"Maaf, bisa Nona berjalan dari sini kesana, anggap saja lagi fashion show" pinta Velly.
__ADS_1
"Makin gak jelas kamu Vel, buat apa sih pake acara catwalk segala" ucap Nn Putri seraya berlenggak lenggok.
"Hehe ini kalau kata saya ya Non, sepertinya Anda baik-baik saja, menurut saya Nona hanya berhalusinasi" sahut Velly menahan geli.
"Bagaimana bisa kamu seyakin itu!? berlaga dukun kamu Vel" ucap Nn Putri terlihat sebal.
"Baik saya tanya apa Ian memberikan makanan atau minuman yang bisa saja mengandung obat tidur atau apapun pada Anda?"
"Tidak, saya hanya makan masakan Bi Asih" balas Nn Putri.
"Nah itu artinya Anda tertidur pulas secara normal, logikanya sepulas-pulasnya kita tidur normal, pasti akan merasakan bila ada sentuhan apalagi paksaankan?" ucap Velly seraya menatap Nn Putri.
"Sepertinya begitu" sahutnya berharap dalam cemas.
"Kesimpulannya, Anda tidak merasakan sakit, tidak merasakan sentuhan dan tidak ada satu pakaian pun yang terbuka atau acak-acakan saya yakin, benar" ucap Velly lagi.
"Sepertinya begitu" sahut Nn Putri tersenyum malu.
"Fix Nona hanya paranoid!" ucap Velly seraya mengusap wajahnya.
"Tapi bisa ajakan dia curi kesempatan!? tanpa saya sadar dia melakukan semua itu!?" Nn Putri kembali menyangkal semuanya.
"Nona, yang saya dengar, seorang istri yang rela saja saat pertama akan merasakan seluruh badannya sakit terutama di situ, apalagi jika di paksa!" jelas Velly sedikit gemas.
"Gitu ya Vell!?" ucap Nn Putri lalu duduk seraya tersenyum-senyum sendiri.
"Kalau masih belum yakin apa perlu tanya Ian atau perlu di visum biar Anda yakin!?" sahut Velly.
"Nggak! enak saja kamu bilang!" ucap Nn Putri tegas.
Tak lama mereka teralihkan saat seorang OB kembali membawa satu cangkir kopi.
"Maaf Bu ini kopi baru yang Ibu minta" ucapnya.
"Ya taruh sini, terima kasih ya.Oh iya tadi kamu bilang salah satu petugas OB resign, apa benar!?" ucap Nn Putri dengan wajah lebih bersahabat.
"Be, benar Bu, ia mendapat pekerjaan di tempat lain sebagai sopir, di sini kita jadi kekurangan orang" sahutnya tanpa berani menatap.
"Oh begitu" ucap Nn Putri seraya duduk menyandar lalu tersenyum seakan mendapat ide.
"Ya sudah, kamu boleh kembali bekerja" balas Nn Putri penuh semangat.
"Sekarang apa yang Nona pikirkan? tiba-tiba senyum-senyum sendiri begitu" ucap Velly terheran
"Besok kamu akan tahu sendiri" balas Nn Putri dengan senyum terkembang.
[[ Bersambung ]]
__ADS_1