Mengejar Senja

Mengejar Senja
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Sementara di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Senja membaca pesan dari sahabatnya


"Sampai ketemu esok beb."


Senja tersenyum, tak sabar untuk bertemu sahabatnya itu.


"Aku kangen. Cup cup.." Balas senja via aplikasi hijau..


'Sekarang waktunya kerja'


Senja mengambil kamera dan laptopnya, lalu menyalin semua foto dan video perjalanannya di laptop miliknya.


Senja yang memang sejak SMA sudah menyukai photography dan editing foto tidak butuh waktu lama untuk membuat sebuah video yang bagus karena dia sudah ahli dengan pekerjaannya itu.


Jam 23.15


Senja tidak bisa tidur, padahal badannya sudah sangat lelah karena perjalanan panjang. Senja hanya bisa istirahat sebentar dalam perjalanan pulang di pesawat menuju Jakarta.


Terbayang wajah Bimo saat tersenyum padanya.


Bimo.


Entah sejak kapan Senja mulai menyukainya. Teringat kembali pertemuan pertama mereka di pulau Bunaken Sulawesi Utara.


*Flashback On*


Bunaken, sebuah pulau kecil dengan pemandangan bawah laut yang sangat eksotis, keindahan warna warni terumbu karang dan berbagai macam biota laut yang luar biasa mempesona. Saat itu Senja duduk di tepi pantai di bawah pohon rindang, beristirahat setelah seharian dia snorkeling, salah satu kegiatan yang sangat di sukainya.


Alat snorkeling yang dia sewa tergeletak asal di sampingnya. Suasana sore hari yang cukup ramai pengunjung domestik maupun pengunjung dari mancanegara..


Senja segera beranjak dari duduknya, mengembalikan alat snorkeling yang dia sewa, kemudian pergi mencari tempat untuk mengganti pakaiannya yang basah.


Sebelumnya Senja mengambil backpack yang sengaja dia titip di warung salah satu penjual makanan, (karena tidak mungkin dia snorkeling pakai backpack.. 😁)


"Makasih ya Bu.." Ucap Senja sambil menyodorkan selembar uang 50 ribuan kepada pemilik warung tempat dia menitipkan barang bawaannya..


"Oh tidak usah nona. Kita ikhlas." Kata si penjual.


(Kita untuk bahasa Manado berarti saya)


"Tidak apa apa Bu. Saya juga iklas" Senja memaksa.


Si Ibu tampak tidak enak dengan jumlah uang yang cukup besar. Orang Manado memang sudah terkenal dengan keramahannya.


"Atau begini saja Bu. Aku pesan pisang goreng sama teh hangat. Nanti aku ambil selesai ganti baju." Senja kembali menyodorkan uang tersebut dan di terima si Ibu dengan enggan.


"Di mana aku bisa ganti pakaian ya Bu?" Tanya Senja kemudian.


"Disana ada Toilet umum. Nona boleh ganti baju di situ." Si Ibu menunjuk toilet yang letaknya tidak jauh dari tempat jualannya.


Senja menatap arah yg di tunjuk Ibu itu, tampak ada beberapa orang yang berkumpul di situ.

__ADS_1


"Oh oke. Makasih bu. Nanti saya balik ambil pisang goreng ya." Senja berlalu meninggalkan si Ibu yang hanya mengangguk dan tersenyum ramah.


Senja harus antri untuk masuk toilet yang hanya ada beberapa, sementara pengunjung saat itu cukup banyak. Mungkin karena saat itu akhir pekan.


Selesai membersihkan diri dan ganti baju Senja kembali ke tempat penjual tadi yang sudah menyiapkan sepiring pisang goreng dan segelas teh hangat.


"Nanti kalau suka tambah pisang goreng atau teh bilang neh..." Ucap si Ibu dengan bahasa Indonesia yang agak kaku.


"Iya Bu."


Senja segera mencari tempat untuk dia duduk.


Bangku bangku yang di sediakan di sekitar tempat itu sebagai tempat santai hampir semuanya terisi. Mata Senja kemudian menangkap sebuah bangku kosong, walau di meja yang sama ada seorang pria yang duduk di bangku yang lain.


"Permisi. Apa ada yang duduk disini?" Tanya senja kepada seorang pria sambil menunjuk bangku yang kosong dengan dagunya karena sebelah tangannya memegang piring berisi pisang goreng dan sebelah lagi memegang gelas teh.


"Tidak ada. Silahkan kalau mau duduk" Sambutan yang ramah membuat Senja tak ragu untuk duduk berhadapan dengannya.


Senja menatap pria di hadapannya. "Hai.. Namaku Senja." Ucap Senja memberanikan diri sambil mengulurkan tangannya kepada pria di hadapannya.


"Bimo." Jawabnya singkat, menyambut jabatan tangan Senja dengan senyuman yang tampak bersahabat.


"Mau?" Senja menawarkan pisang goreng kepada Bimo.


Bimo menggeleng pelan. "Aku juga baru dari makan pisang goreng" Tunjuk Bimo pada piring kosong di sudut meja.


Senja mulai menikmati pisang goreng dengan dabu dabu khas Manado. Awalnya terasa aneh, tapi kemudian dia mulai menikmatinya. Senja yang sebenarnya tidak terlalu suka pisang goreng malah tampak lahap menikmati sajian khas Manado tersebut.


"Ternyata kamu doyan pisang goreng yah." Ucap Bimo membuka percakapan.


Senja menggeleng.


"Aku tidak suka. Ini pertama pertama kali aku bisa menikmati pisang goreng dengan lahap. Mungkin karena di Jakarta pisang goreng di sajikan dengan berbagai macam toping yang manis jadi membuatku tidak suka, karena aku tidak terlalu suka makanan manis. Tapi di sajikan begini aku kok suka ya. Apalagi dengan sambal dabu dabu yang pedis menggigit.." Ucap senja panjang lebar sambil mengusap peluh di wajahnya tanda dia kepedisan..


"Jadi kamu dari Jakarta?"


"Iya. Kamu dari mana? Apa orang sini? Tapi logatmu bukan dari Manado.."


Bimo tersenyum menatap Senja dengan pertanyaan pertanyaan yang di lontarkannya..


"Aku dari Surabaya. Teman temanmu di mana?" Bimo balik bertanya.


"Aku datang sendiri. Biasanya kemana mana juga sendiri." Ujar senja dengan percaya diri.


"Aku juga datang sendiri. Apa kamu mau bermalam di sini?"


Senja menggeleng. "Sebentar lagi aku balik Manado. Kira kira sejam lagi kapal kami akan berangkat."


Senja memang sengaja memilih menginap di Manado dan hanya mengambil perjalanan sehari ke pulau Bunaken. Senja yang mengambil penerbangan tengah malam dari Jakarta baru sampai di Manado ketika subuh. Senja tidak ingin membuang waktunya yg hanya sebentar di Manado sehingga pagi hari setelah beristirahat sebentar, Senja langsung pergi ke Bunaken.


Senja melihat arloji yang digunakannya. Jam 15.10 yang berarti jam 16.10 waktu setempat. Perahu mereka akan kembali jam 5 sore.

__ADS_1


"Kalau kamu?" Senja balik bertanya


"Aku dari kemarin disini. Rencananya memang mau menghabiskan akhir pekan di sini. Besok baru balik Manado." Bimo tampak berpikir.


"Apa aku balik ke Manado saja bareng kamu? Bisa kan aku menumpang di kapalmu?"


Senja kaget dengan pertanyaan spontan Bimo, yang terdengar seperti sudah sangat akrap padahal mereka baru kenal.


'Tidak mungkin dia orang jahat. Wajah ganteng begini.' Batin Senja.


"Kebetulan kan kita datang sendiri sendiri, jadi bisa jadi teman seperjalanan.." Lanjut Bimo meyakinkan.


Senja tertawa kecil. "Mau balik sekarang, besok, Minggu depan, atau tahun depanpun terserah kamu lah. Lagian aku tidak sewa satu kapal. Itu transportasi umum, siapa saja boleh naik."


"Kamu tunggu disini ya. Aku ambil barang di cotagge"


Tanpa menunggu jawaban, Bimo segera berlalu meninggalkan Senja yang heran dengan tingkah makhluk ganteng yang baru di kenalnya, yang sudah akrab seolah mereka telah lama berteman.


15 menit berlalu dan tampak Bimo yang datang menggendong Carrier.


"Ke pelabuhan yuk. Takut ketinggalan kapal." Kata Senja begitu Bimo sampai di tempatnya duduk.


Sebelumnya Senja mengembalikan piring dan gelas yang sudah kosong kepada si Ibu penjual makanan.


"Makasih ya Bu. Pisang gorengnya enak." Puji senja tulus.


"Sama sama nona" Ucap Ibu tersebut tersenyum.


Senja dan Bimo segera menuju dermaga, dan disana sudah ada beberapa penumpang yang duduk di Kapal yang akan membawa mereka ke pulau besar, ke Manado.


Tidak menunggu lama kapal kecil tersebut berangkat, memecah samudra dengan riak ombak yang tidak terlalu besar.


Senja diam menatap matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat, mengabadikan pesona alam dengan jepretan kamera ponsel. Beberapa foto Selfi yang diambil membuat Bimo tersenyum menatapnya.


Gadis berkepang dengan kemeja kotak kotak berwarna biru yang baru di kenalnya. 'Gadis yang unik', batin Bimo.


*Flashback Off*


***


Hai Readers yang baik..


Sudah 10 Episode nih.


Othor sadar tulisan ini masih jauh dari kata sempurna, tapi Othor akan terus belajar untuk bisa menulis dengan baik.


Mohon dukungannya buat Othor lewat Like, Vote, ataupun komennya. Mohon di kritik jika ada yg salah.. Othor percaya kritik yang baik akan membuat Othor belajar untuk membuat karya yg lebih baik juga.


Terima kasih sebelumnya.


Salam,

__ADS_1


Author Pemula yg tidak jenius.


__ADS_2