
Senja merebahkan dirinya di kasur Queen Size di kamarnya yang sudah di tinggal dua hari. Matanya menerawang menatap langit langit kamarnya yang tak biru. Senja menarik nafas panjang, bayangan Bimo terlintas di benaknya layaknya sebuah film yang menampilkan video flasback. Bimo yang tersenyum kepadanya dengan kedua lesung pipinya. Bimo yang menggenggam tangannya saat berjalan menyusuri pantai pulau khayangan, Bimo yang berjanji akan menemuinya kembali Minggu depan. Tak sabar rasanya menanti hari itu.
Suara ketukan di pintu kamarnya membuyarkan lamunan Senja.
"Permisi Non Senja.."
"Masuk bi."
Seorang wanita paruh baya masuk dan menghampiri Senja. "Non Senja malam ini mau makan apa? Nanti bibi masakin."
"Tidak usah repot bi. Senja nanti pesan makanan online. Apa bibi mau sekalian Senja pesanin?" Tanya dia pada Bi Rani, ART yang sudah dianggapnya seperti keluarganya sendiri.
Bi Ratih sudah bekerja di rumahnya sejak Senja masih duduk di bangku SD. Dia tidak menikah, tapi memiliki seorang anak yang berusia tiga tahun lebih tua dari Senja. Ayahnya meninggalkan mereka sejak usia kandungan Bi Rani baru empat bulan. Namanya Radit. Dia kini sudah menjadi seorang dokter dan bekerja di sebuah Rumah Sakit swasta yang cukup besar dan terkenal karena fasilitasnya yg lengkap dan canggih dan pelayanannya yang baik. Senja sudah menganggap Radit seperti kakaknya sendiri karena dia anak tunggal. Begitu pula sebaliknya.
"Tidak usah non. Tadi siang bibi masak sedikit. Nanti sayang kalau makanan tidak di habisin. Buang buang uang, apalagi tenaga. Jawab bi Ratih dengan mimik serius.
"Bibi ke taman dulu ya non. Mau lihat pak Suryo lagi bersihin taman belakang." Bi Ratih berlalu meninggalkan Senja sendiri.
Senja menghidupkan ponselnya yang di nonaktifkan sejak dia naik pesawat.. Masuk beberapa notifikasi pesan dari aplikasi hijau. Matanya berbinar ketika melihat nama Bimo..
Senja lebih dulu membuka pesan Bimo..
Tampak foto Senja saat tidur yg di zoom hanya bagian wajahnya. Mulutnya sedikit terbuka seperti ikan lele.
'Oh tidak' senja melempar HP nya di kasur, menutup wajahnya dengan tangan. Dia uring uringan sendiri. Rasanya dia malu seolah dilihat Bimo langsung. Senja membayangkan bagaimana ekspresi Bimo saat melihat dia tidur dengan aneh seperti itu.
'Apa selama ini aku tidur seaneh itu?' Senja guling guling lompat lompat tak jelas di kasur.
__ADS_1
Senja menuju balkon kamarnya dan duduk lemas di kursi santai yang terletak di situ. Senja menatap langit, menyatukan kedua tangannya tanda memohon, lalu mengucapkan doa dalam hati :
'Ya Tuhan, mohon buat Bimo amnesia khusus di saat itu.' Ucap Senja sungguh sungguh berharap dikabulkan.
***
Bimo menatap ponselnya, melihat tanda centang dua warna biru di pesan yg dikirimnya pada Senja, tanda pesannya sudah di baca..
'Apa yang di pikirkannya?'
Bimo cengengesan sendiri.. 'Semoga dia tidak marah.' Bimo berharap sambil membayangkan bagaimana ekspresi Senja melihat foto itu..
Dering telpon membuyarkan lamunan Bimo.
"Hallo." Sapa Bimo dengan nada malas, melihat nama sahabat jahilnya, Fendy.
"Eh. Jijik...!"
"Hahahaha... Udah di rumah? Aku jemput sekarang ya."
"Ogah. Aku capek, mau istirahat."
"Bimo plizzzz... Temani aku kali ini." Ucap Fendi, memohon.
"Memang mau kemana? Buat apa?"
"Kencan. Aku sangat butuh kamu."
__ADS_1
"Butuh aku buat apa?" Tanya Bimo heran.
"Nanti aku jelaskan. Skarang kamu siap siap ya. Bentar lagi aku sampai."
"Siapa bilang aku mau ikut?!"
Tanya Bimo, tapi bukannya menjawab, Fendi malah memutuskan panggilannya.
Fendi Sarwo, Sahabat Bimo sejak bangku SMP. Tingkah jahilnya seringkali membuat Bimo marah. Tapi dia selalu siap membantu ketika Bimo terkena masalah. Pertemuan pertama mereka juga saat Fendi membantu Bimo yang di keroyok kakak kelas di belakang sekolah saat masa orientasi siswa. Fendi yang sama sama siswa baru memukul tiga orang kakak kelas sampai babak belur. Fendi memiliki kakek seorang guru silat, jadi dia sudah menguasai ilmu bela diri sejak bocah.
Selepas kejadian di belakang sekolah Fendi dan Bimo menjadi sahabat dekat. Walaupun mereka harus di hukum karena katanya anak preman, tapi tidak ada kakak kelas yang mau berurusan dengan Fendi. Mereka masuk SMA yang sama bahkan kuliah di kampus yang sama walau berbeda Fakultas.
Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Bimo. Tidak berapa lama tampak Fendi masuk dengan senyum lebarnya, memeluk Bimo seakan mereka tidak bertemu bertahun tahun.
Bimo sendiri sudah biasa dengan kelakuan aneh Fendi.
"Aku kangen kamu istriku." Mulut Fendi maju 5 centi seolah mau mencium Bimo.
"Eh jijik" Bimo bergidik ngeri seolah mau di cium hom*
Fendi terkikik.
"Sudah siap kan."
"Aku capek. Malas keluar rumah."
"Ayolah sayang. Bantu aku hari ini saja. Esok aku akan turuti semua permintaanmu." Fendi menarik tangan Bimo yang terpaksa mengikutinya.
__ADS_1
***