
"Permisi, apa dokter Radit ada?"
Tanya Senja pada seorang wanita berpakaian semi jas hitam yang tampak sibuk di balik meja Informasi sekaligus meja untuk Registrasi pasien VIP yang terletak di Lantai 7 Rumah Sakit SS.
"Sudah buat janji?" Tanya wanita itu tanpa mengangkat kepala untuk sekedar menatap Senja, tetap melanjutkan pekerjaannya mengetik sesuatu sementara matanya tetap menatap layar komputer..
"Belum mbak. Saya mau ketemu sebentar saja.."
"Sejam ataupun sedetik harus tetap buat janji." Kali ini wanita tersebut menatap Senja dengan agak sinis karena merasa agak terganggu.
"Lagipula dokter Radit sekarang lagi di ruang operasi." Lanjut wanita itu.
"Ohh.. Masih lama mbak Rani? Apa bisa aku menunggu?" Senja membaca papan nama kecil yg tersemat di baju Wanita itu. - R A N I -
Kali ini Rani tidak bisa menyembunyikan ekspresi tidak senangnya pada Senja.
'Siapa dia? Jangan bilang dia pacarnya dokter Radit' Tanya Rani dalam hati sambil menatap Senja yang menurutnya Cantik tapi pakaiannya sangat tidak modis dan sangat tidak mungkin jika harus bersanding dengan dokter Radit pujaannya.
"Maaf mbak. Dokter Radit sangat sibuk. Saya tidak tahu operasinya masih berapa lama. Lagian setelah operasi masih banyak pasien yang harus di tangani. Jadi mbak sebaiknya buat janji dulu kalau mau ketemu." Ucap Rani dengan ketus. "Lagian disini khusus untuk pasien VIP." Lanjutnya.
"Baiklah mbak. Maaf kalau saya mengganggu. Saya pamit."
"Senja...!!!"
Seorang pria terburu buru menghampiri Senja yang baru berniat untuk pergi. Tampak 3 orang dokter dengan usia yang lebih muda berjalan di belakangnya berusaha menyesuaikan langkah pria tersebut.
Senja menatap pria yang menghampirinya tersebut. Pria paruh bayah yang tampil necis dengan jas hitam yang tampak mahal.
"Hallo om Anwar." Senja tersenyum menatap Pria tersebut.
"Kamu apa kabar? Tumben kamu kesini" Pria tersebut tampak senang melihat Senja dan merangkul pundak Senja dengan akrab.
Kali ini Rani yang menatap Senja bingung. Ada sedikit kecemasan terpancar dari wajahnya. Bagaiman wanita itu bisa mengenal dokter Anwar Sarifuddin, Sang Direktur di Rumah Sakit ini? Apalagi Dia juga mengenal dokter Raditya yang menjadi Idola di Rumah Sakit ini karena keahliannya dalam operasi dan juga karena ketampanannya.
'Semoga dia tidak melaporkan sikapku tadi yang sedikit kasar.' Gumam Rani dalam hati.
"Baik om. Aku mau ketemu kak Radit, tapi sepertinya kak Radit lagi sibuk operasi."
"Oh. Kamu tunggu di ruangannya saja. Sebentar lagi Radit selesai.
Jodi, kamu antar Senja di ruangan dokter Radit." Perintah dokter Anwar kepada seorang dokter muda yang sejak tadi mengekor Sang Direktur Rumah Sakit bersama dua dokter lainnya.
"Maaf Senja. Om ada Rapat. Kapan kapan kita ketemu ya. Ada yang mau om bicarakan."
"Baik om. Nanti om bisa hubungi Senja kalau om sudah tidak sibuk.."
"Eh, kamu sudah tau kan kalau Lia akan pulang hari ini. Entar sore dia sudah ada di Jakarta."
"Iya om. Semalam Amel sudah hubungi Senja."
"Baiklah. Gimana kalau nanti malam Senja mampir ke rumah. Tampaknya tantemu lagi masak banyak untuk menyambut anak kesayangannya itu."
__ADS_1
"Rencananya emang gitu Om. Nanti sore Senja mau jemput Amel di Bandara sekalian anterin Amel pulang. Kasihan kalau naik taksi."
"Oke oke. Sampai ketemu di rumah nanti malam yah." Dokter Anwar menepuk pelan bahu senja lalu melangkah pergi bersama 2 dokter lainnya.
"Yuk mba." Ucap Jodi mengajak Senja menuju ke Ruangan dokter Radit, setelah dokter Anwar pergi.
Senja mengikuti langkah dokter dengan postur yang sedikit berisi itu.
"Silahkan duduk disana mbak. Sebentar lagi dokter Radit datang." Jodi menunjuk ke arah Sofa minimalis berwarna hitam yg terletak di sudut ruangan.
"Maaf mbak aku tinggal. Masih ada sedikit pekerjaan." Ucap Jodi sopan dengan nada sedikit segan karena Senja tampak kenal dekat dengan Direktur.
"Silahkan mas." Senja menatap Jodi yg berlalu dan meninggalkannya sendirian di ruangan yang cukup besar dengan set furnitur yg tampak mahal dan berkelas.
Senja memandang sekeliling ruangan itu dengan takjub dan bangga. Semua perabotan di tata dengan rapi.
'Kak Radit ternyata sudah sesukses ini.' Ucap Senja dalam hati.
Sudah hampir 3 tahun Senja tidak datang ke Rumah Sakit ini. Saat itu, Rumah Sakit belum di renovasi seperti sekarang ini, dan juga ruangan dokter Radit masih di Lantai 3 karena waktu itu belum ada ruangan khusus untuk pasien VIP. Senja menatap papan nama yang terbuat dari kayu hitam yang terletak di atas sebuah meja berukuran 1,5 meter dengan ukiran nama yang indah :
dr. RADITYA DIRGA SpBS
'Bibi pasti bangga kak anaknya berhasil.' Tampak Rona bahagia dari wajah Senja.
Senja menoleh begitu mendengar suara pintu dibuka. Seorang dokter muda yang masih menggunakan pakaian operasi masuk ke ruangan tersebut dan langsung menuju jendela kaca yang besar, yang menampilkan sebagian pemandangan di bagian belakang Rumah Sakit. Dia tampak sibuk berbicara di telepon genggamnya tanpa sadar kalau di ruangan tersebut, di belakang meja kerjanya, ada Senja yang menatapnya lekat.
"Maaf pak. Saya tidak bisa kalau besok. Semua harus tetap sesuai jadwal pak. Besok saya harus menangani pasien lain."
" . . . . . . . . . . . "
"Memang bukan pasien VIP pak. Tapi dia sudah lama jadi pasien saya. Saya bertanggung jawab penuh padanya."
" . . . . . . . . . . . "
"Maaf pak. Ini bukan masalah uang. Aku hanya tidak bisa mengabaikan tanggung jawabku begitu saja."
" . . . . . . . . . . . "
"Baiklah pak. Sekali lagi saya mohon maaf. Selamat siang."
Senja menatap Radit yang hanya diam mematung menatap kosong pemandangan di balik jendela. Tampaknya Radit belum menyadari kehadiran Senja di ruangannya.
"Mikir apa kak? Serius amat."
"Oh my God. Senjaaaaaaaaaaaaa" Radit spontan berteriak kaget dengan kehadiran Senja yang dianggapnya tiba tiba.
"Aku kangen kak" Senja memeluk Radit yg masih diam dan mengelus elus dadanya karena kaget.
Radit balas memeluk Senja dan mencium puncak kepala Senja. "Kakak juga kangen."
Ada sedikit air di ujung matanya, entah karena kaget atau karena terharu melihat Senja yang bisa berada di ruangannya.
__ADS_1
Hampir 3 tahun Senja tidak pernah mau menginjakkan kaki di Rumah Sakit, apalagi di Rumah Sakit tempat Radit bekerja ini.
"Kamu sejak kapan disini? Kenapa tidak bilang kalau mau datang?"
Radit menarik Senja untuk duduk di sofa hitam di sudut ruangan itu.
"Aku kangen makanya kesini. Kak Radit sudah lama tidak pulang rumah. Bibi juga sudah kangen sama kak Radit."
Radit tersenyum menatap Senja, gadis yang baru di kenalnya ketika dia kelas 4 SD ini sudah dianggapnya seperti adik kandungnya sendiri. Mereka tumbuh besar bersama.
"Aku juga kangen sama adikku yang cantik ini dan juga Ibu." Radit mencubit pipi Senja gemas. Baginya Senja tetaplah seorang gadis kecil yang ingin di terus manja.
"Kakak apaan sih. Sakit pipi Senja."
Radit tertawa ringan menatap ekspresi Senja yang sedang merajuk sambil mengelus pipinya.
"Siapa tadi telpon kak? Serius amat!" Tanya senja tiba tiba mengingat pembicaraan Radit tadi di telepon.
Huuuffttthhhhhh..
Radit membuang nafas panjang, seolah berusaha mengurangi tekanan di dalam dirinya.
"Pasien kakak. Dia salah satu pengusaha sukses dan merupakan pasien VVIP. Seharusnya dia operasi Minggu depan tapi dia ingin di majukan esok karena minggu depan dia harus ke luar negeri untuk urusan bisnis yang sangat penting katanya."
Radit diam sejenak, tampak memikirkan perkataan si penelepon tadi.
"Dia mau laporkan kakak ke Direktur Rumah Sakit karena menolak permintaannya."
"Emang besok kakak benar benar tidak bisa ya?"
Radit hanya mengangguk pelan.
"Besok kakak ada dua jadwal operasi. Salah satunya memang pasien VIP juga, tapi ada 1 pasien biasa yang hanya mengandalkan asuransi kelas menengah. Entah dia mendapatkan informasi dari mana soal pasien tersebut. Dia ingin kakak menukar jadwal operasinya dengan pasien yang bukan VIP. Dia merasa berhak mendapat perlakuan khusus dan bersedia membayar mahal."
"Apa dia tidak bisa ditangani oleh dokter lain kak?"
"Itu masalahnya. Dia hanya ingin kakak yang menanganinya. Kakak juga tidak bisa mengabaikan pasien lainnya karena keluarganya sudah sangat percaya sama kakak."
"Ya sudah. Cerita saja yang sebenarnya pada Om Anwar. Dia pasti mengerti kok." Senja menepuk pelan bahu Radit berharap itu akan mengurangi beban pikiran Radit.
"Gimana kalau kita makan siang skarang? Kakak pasti belum makan kan?" Senja tersenyum, berusaha mengalihkan pikiran Radit.
"Jangankan makan siang. Kakak tadi tidak sempat Sarapan. Mau makan di mana?"
"Di Kafe depan RS saja kak. Tidak usah jauh jauh. Kak Radit kan orang paling sibuk, bahkan pulang rumah saja tidak punya waktu." Sindir Senja.
"Okelah. Kakak ganti baju sebentar"
Radit meninggalkan senja dan menghilang di balik pintu menuju ruangan lain yang selalu di gunakan Radit untuk berganti pakaian dan beristirahat.
***
__ADS_1