
Suara ketukan di pintu kamar menyadarkan Senja dan Amelia yang larut dalam pikiran masing - masing.
"Permisi non.." Pak Johan masuk membawa 2 kopor jumbo milik Amelia, di ikuti bi' Ana istrinya. Suami istri itu sudah bekerja di rumah Amelia sejak Masih muda, tak lama setelah Ayah dan Ibu Amelia menikah dan memilih untuk tidak tinggal bersama kakek dan nenek Amelia di Surabaya.
Pak Johan langsung keluar setelah menaruh kopor di sudut kamar itu, semntara bi Ana tetap tinggal.
"Tuan sudah pulang non. Nyonya menyuruh non Lia dan non Senja turun untuk makan malam" Ucap bi Ana.
"Oke bi'. Bilang sama bunda sebentar lagi Lia turun."
Bi Ana hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan kamar Amelia.
Suami istri itu memang kadang bicara, tapi sangat rajin bekerja.
Amelia segera mengganti bajunya lalu mengajak Senja turun makan malam. Tampak Anwar dan juga Rossi sudah menunggu mereka di meja makan.
"Hai Ayah." Amelia mencium pipi ayahnya lalu duduk di kursi di samping ayahnya.
"Hallo om" Senja juga menyapa Ayah Amelia lalu duduk di samping Tante Rossi.
"Hai Senja. Jam berapa kamu pulang dari Rumah Sakit?"
"Tidak lama om. Tadi begitu kak Radit selesai operasi kami langsung pergi makan siang di kafe di depan rumah sakit."
"Senja ke rumah sakit?" tanya Amelia heran yang di ikuti Rossi dengan anggukan kepala menuntut jawaban dari Senja ataupun suaminya.
__ADS_1
"Kamu tidak sakit kan Ja?" Kali ini ekspresi Amel tampak khawatir. Rossi pun menempelkan punggung tangannya di dahi Senja yang duduk di sampingnya.
Anwar terkekeh dengan tingkah anak dan istrinya. "Heran kan? Tadi juga ayah sempat tidak percaya saat melihat Senja di sana. Ayah pikir hanya seseorang yang mirip. Tapi se mirip miripnya wajah orang, gaya berpakaiannya tidak mungkin sama kan? Begitu melihat rambut kepang dan kemeja kotak kotak itu, ayah yakin dia Senja." Ucap Anwar bangga seolah berhasil menemukan jarum di antara tumpukan jerami.
Sementara yang menjadi topik pembicaraan hanya senyum senyum tak jelas.
"Sudah - sudah. Ceritanya nanti lanjut sebentar. Ayah sudah lapar."
Merekapun mulai makan dalam diam, walau sebenarnya Amelia ingin segera mengintrogasi Senja. Dia begitu penasaran karena tahu sahabatnya itu trauma dengan Rumah Sakit, sehingga tidak pernah mau di ajak ke sana. Pernah suatu kali Senja demam tinggi sampai tidak sadarkan diri. Bi Ratih dan Radit segera membawa Senja ke Rumah Sakit karena khawatir. Tapi begitu Senja siuman dan tahu dirinya ada di RS, Senja langsung histeris seperti orang gila sampai akhirnya dokter berhasil menyuntikkan obat penenang. Kejadian yang sama terulang lagi ketika Senja di bawa ke rumah sakit karena radang usus buntu yang harus segera di operasi. Senja yang sudah tidak kuat menahan sakit jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Setelah sadar (pasca operasi) Senja kembali histeris dan mengamuk sampai dia kembali pingsan karena jahitan di luka bekas operasi terbuka dan mengeluarkan cukup banyak darah, sehingga Anwar dan Radit memutuskan untuk merawat Senja di rumah, apalagi Radit seorang dokter. Semenjak itu mereka tidak pernah membawa Senja ke rumah sakit walaupun ada saat kondisi fisik Senja drop karena kelelahan. Senja pun merasa enggan untuk sekedar menginjakkan kaki di rumah sakit. Memasuki halaman rumah sakit saja dia enggan, sampai akhirnya Radit membawa Senja menemui temannya yang seorang Psikiater. Senja di diagnosis mengidap PTSD dan di haruskan untuk terapi. Hanya tiga bulan Senja mengikuti terapi yang menurutnya tidak berhasil, sehingga Senja memutuskan lebih baik tidak menginjakkan kaki di sekitar rumah sakit, dan selama ini dia memang baik baik saja. Lalu hari ini mereka di kejutkan dengan berita bahwa Senja datang di rumah sakit. Demi apa??
Amelia begitu penasaran, tapi Anwar ayahnya menjunjung tinggi kebiasaan untuk tidak berbicara saat makan.
Senja tampak menikmati makan malamnya. Piringnya sudah licin tanpa sisa makanan padahal dia beberapa kali tambah. Senja mengelus perutnya yang tampak buncit karena kekenyangan. Keluarga Amelia sudah seperti keluarga kedua buat Senja, jadi saat itu tidak ada kata malu untuk makan banyak sampai kenyang.
Tanpa sengaja pandangan matanya bertemu dengan Amelia yang menatapnya lekat. Senja menunjukkan senyum smirk karena dia tahu Amelia penasaran dengannya, tapi tidak bisa bertanya karena Ayahnya tidak suka ada yang bicara saat makan.
"Sekarang cerita padaku." Amelia sudah tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya begitu mereka duduk di ruang keluarga.
"Cerita apa?" Senja pura pura tidak tau apa maksud Amelia.
"Bagaimana kamu bisa datang ke rumah sakit? Kamu tidak sakit kan? bagaimana di sana? apa kamu tidak histeris? Ayolah Ja. Aku penasaran."
"Kalau tanya itu satu - satu." Sela Anwar pada anaknya.
Senja terkekeh melihat sabatnya yang begitu penasaran.
__ADS_1
"Iya Senja. sekarang cerita. Tante juga penasaran loh. Apa diam diam kamu memutuskan untuk melanjutkan terapi?" Ucap Rossi yang duduk sambil memotong apel untuk suaminya.
Senja menarik nafas pelan. Tiga pasang mata menatap Senja menanti jawaban.
"Sebenarnya tadi juga aku takut untuk masuk di rumah sakit. Sekitar dua jam aku hanya mondar mandir karena takut, lalu aku memutuskan minum obat sebelum masuk rumah sakit. Jadi mungkin itu yang menyebabkan aku bisa masuk dan keluar hidup hidup" Senja terkekeh pelan seolah sedang menceritakan sesuatu yang lucu, sementara tiga orang yang bersamanya hanya diam melongo, menunggu Senja melanjutkan ceritanya..
"Udah? cuma begitu?" Tanya Amelia setelah Senja lama terdiam.
Senja mengangguk pelan..
Tampak jelas raut kecewa dari wajah mereka bertiga.
"Yang pasti kali ini aku tidak mengamuk dan histeris sampai pingsan. Memang ada sedikit kecemasan sampai keluar keringat dingin, tapi aku baik baik saja sampai keluar rumah sakit. Kak Radit saja tidak sadar kalau saat itu aku sebenarnya sangat takut. Om Anwar juga tadi lihat aku baik baik saja kan?" Tanya Senja berusaha meyakinkan 3 manusia yang masih penasaran.
"Ya ampun Senja. Bukan itu yang membuat kami penasaran. Tapi mengapa kamu tiba tiba mau ke rumah sakit. Aneh saja selama ini kami sudah berusaha menghilangkan traumamu, tapi tidak ada cara dan metode yang berhasil. Saat sakit saja kamu tetap menolak ke rumah sakit. Lalu roh apa yang merasukimu hari ini sampai kamu berani menginjakkan kaki di rumah sakit secara tiba - tiba." Ucap Amelia bersemangat.
Senja mengangkat bahu pelan. "Entahlah. Tiba tiba saja aku kangen Ibu sama Bapak." Senja diam sejenak. "Dan juga kak Radit" lanjutnya sambil tersenyum paksa, dan itu di sadari oleh Amelia dan orang tuanya.
Sejenak mereka dia dalam kesunyian, tenggelam dalam jalan pikiran masing - masing.
"Senja menginap di sini kan?" Tanya Tante Rossi memecah kesunyian.
"Jangan pulang. Ini sudah larut. Berbahaya seorang gadis keluyuran sendirian." Lanjut om Anwar.
"Senja nginap kok. Sudah di paksa Amel sejak semalam, jadi Senja sudah ijin sama Bi' Ratih dan kak Radit. Senja juga sudah bawa baju ganti." Ada sedikit nada bangga dalam suaranya seperti bocah yang menginap di luar rumah untuk pertama kalinya.
__ADS_1
"Ya sudah. Om istirahat dulu yah. Kalian juga jangan begadang." Pesan Anwar sebelum meninggalkan Senja dan Amelia. Rossi pun pergi mengikuti suaminya.
***