
Sebelum berangkat kerja, Bimo menatap bayangan dirinya di cermin.. Kantung matanya tampak jelas karena semalaman tidak bisa tidur memikirkan kelancangannya mengatakan rindu pada gadis yang baru di kenalnya.. 'Apa aku terlalu lancang?' batinnya menanti jawaban dari sang bayangan.
Sementara di tempat berbeda, Amelia terus saja membaca pesan yang di kirim Bimo semalam. Rona bahagia tampak jelas di wajahnya.. Dia tidak tahu harus membalas apa. Apakah tidak terlalu murahan jika dia juga merindukan pria yang baru di kenalnya?
Senja yang baru terbangun menatap Amel yang senyum-senyum sendiri menatap ponselnya..
"Mimpi apa kamu Mel? Pagi pagi udah senyam senyum sendiri.." Senja
Amel menyodorkan ponselnya kepada Senja. "Baca" Ucapnya..
Senja membaca pesan yang di terima Amel.
"Bimo mengatakan dia merindukanku" Amel mengambil ponsel dari tangan senja lalu lompat lompat kegirangan di atas tempat tidur.. Tampak jelas rona bahagia di wajahnya..
"Apa gak terlalu berlebihan Mel bilang rindu padahal kalian baru pertama bertemu.. Jangan jangan dia player yang sudah sering menggoda wanita" Ucap senja yang langsung menghentikan kegiatan Amel jingkrak jingkrak kegirangan. Senja hanya tidak mau sahabatnya di permainkan. Sudah berulang kali Amelia di khianati pacarnya karena begitu mudah percaya mulut manis mereka..
"Kata Susan dia baik kok.. Gak mungkin sepupu aku kenalin aku sama pria gak baik" Amel berusaha melawan gundah yang tiba-tiba muncul.
"Semoga saja Mel. Aku hanya tidak ingin kamu di sakiti lagi. Bosan aku Mel temani kamu nangis semalaman setiap di khianati pacar kamu." Senja
Amel mengerucutkan bibirnya.. "Aku yakin Bimo beda sama mantan-mantan sialan itu"
"Semoga saja. Maaf kalau perkataanku menyakitimu. Aku hanya tidak ingin kamu disakiti lagi."
Amel memeluk sahabatnya itu. "Aku tahu kok kamu sayang sama aku." Amel menepuk nepuk punggung sahabatnya. "Makasih Ja karena kamu selalu ada setiap aku di sakiti"
Senja mempererat pelukannya mereka. "Makasih juga Mel karena kamu selalu menemaniku di saat hidupku seperti akan hancur."
Suara notifikasi pesan membuat mereka melerai pelukan.. Amel mengambil ponselnya dan membaca pesan Bimo.
(Maaf Lia kalo semalam aku lancang. Tolong jangan marah) Bimo
Amelia tersenyum membaca pesan Bimo. Senja yang sudah mengerti langsung menuju kamar mandi.
__ADS_1
(Aku tidak marah kok Bim.) Amelia
Berdebar hatinya menunggu pesan balasan dari Bimo, tapi sekian menit Menunggu, pesannya tak kunjung di balas.
'Mungkin dia sibuk' batin Amel. 'Apa aku harus mengirim pesan lagi padanya?'
Senja yang baru selesai mandi menatap sahabatnya yang masih memandangi gawainya.
"Mandi dulu Mel biar tubuh dan juga otak bisa fresh"
Amel menatap sahabatnya sendu. "Apa tidak terlalu murahan jika aku meneleponnya duluan?" Tanpa menunggu jawaban Senja Amel segera menuju kamar mandi.
'Mungkin dia benar-benar telah jatuh cinta' Batin senja menatap punggung Amel yg menghilang dibalik pintu kamar mandi.
***
Bimo yang duduk di sudut roof top kafenya tampak tersenyum menatap gawainya. Ini pertama kalinya dia penasaran pada wanita yg baru di kenal.
"Ini kopinya pak. "
Bimo tersadar dari lamunannya, menatap Feli yg meletakkan kopi di mejanya bersama dengan toples cookies kacang kesukaannya (sebenarnya kesukaan Sofie mantannya).
"Makasih Fel. Kalau pak Iwan sudah sampai, tolong suruh langsung kesini."
"Iya pak." Feli segera pergi meninggalkan Bimo.
Bimo sedang menunggu Iwan, sahabat serta orang kepercayaannya untuk membicarakan tentang pembukaan cabang kafe'nya di Jakarta. Saat ini Bimo sudah memiliki empat cabang, 3 di Surabaya dan 1 di Semarang. Dia ingin mengembangkan bisnisnya ke Jakarta.
Seorang pria dengan pakaian casual menghampiri Bimo.
"Hai Bim." sapanya.
Iwan Rudi. Seniornya di fakultas dan sekarang menjadi andalannya dalam mencari lokasi maupun investor. Pembawaannya yang riang dan menyenangkan membuat dia banyak disukai sehingga dia memiliki banyak teman, dalam hal ini banyak relasi. Dan itu sangat menguntungkan Bimo.
__ADS_1
"Makin eksotis saja kulitmu." Goda Iwan yang memang tahu kalau akhir-akhir ini Bimo sering bepergian.
Bimo tersenyum menatap senior yang sekarang menjadi temannya itu..
"Gimana. Apa sudah dapat tempat yang bagus di Jakarta?" Tanya Bimo tanpa basa basi.
"Ya elah Bim. Tawarin minum dulu Napa.."
Bimo tersenyum samar.
"Untuk lokasi yang kamu mau aku belum menemukan tempat yang sesuai kriteriamu. Tapi aku dengar ada yang mau menjual cepat kafenya. Tapi lokasinya sangat jauh dari standarmu, walau sebenarnya cafe itu sangat menarik. Aku kemarin pergi melihatnya."
"Di mana itu??"
"Di depan RS swasta. Disana rame, walaupun pengunjungnya 70% pekerja RS ataupun keluarga pasien, tapi banyak juga pengunjung yang datang karena suasana cafenya yang menurut mereka Instagram Able yang enak buat foto-foto. Tapi sekali lagi, lokasinya jauh dari tempat yang kamu inginkan."
Bimo tampak berpikir..
"Aku ingin semua detail tentang kafe itu."
"Oke. Esok aku akan mengirimkannya padamu. Yang pasti menurutku, kamu tidak akan rugi kalau membeli kafe itu."
"Aku akan melihat detailnya dulu." Tegas Bimo. Dia memang tidak ingin sembarangan dalam membuat keputusan sebelum memikirkan untung rugi maupun berbagai kemungkinan lainnya..
"Ya sudah. Aku makan dulu. Dari pagi aku belum makan. Cacing di perutku susah kekurangan gizi, berontak minta makan" Iwan meninggalkan Bimo yang mulai sibuk dengan ponselnya.
Bimo membuka Instagram miliknya, melihat sebuah notifikasi unggahan foto selfie Senja saat dia di dermaga pulau khayangan. Senyum manis gadis berkepang dengan latar pesona matahari terbenam.
'Senjanya Senja' Caption yang di tulis senja. Bimo menatap foto Senja intens dan segera menekan tombol hati.
Bimo memiliki dua akun. Satu akun pribadinya dan satu lagi akunnya sebagai seorang fotografer yang di ketahui Senja, Akun yang hanya menampilkan hasil fotonya, walupun sebenarnya kedua akun itu memfollow Senja.
'Sampai ketemu di Jakarta' Batin Bimo.
__ADS_1