
30 menit berlalu, tapi Fendi dan Susan belum kembali.
Bimo sadar bahwa mereka sengaja meninggalkan dia bersama Amelia, tapi dia tetap bertingkah seolah olah sedang menanti Fendi dan Susan kembali..
Bimo sendiri merasa senang berbicara dengan Amelia yang ternyata asyik untuk diajak bertukar pikiran.
Bimo menatap gadis yang sekarang duduk di depannya dan tampak sibuk memainkan jemarinya, mengetikkan pesan di ponselnya. Sekilas terlihat Amelia tak bisa menahan senyuman saat menulis pesan di ponselnya..
'Apa itu pesan untuk pacarnya?' Batin Bimo sedikit penasaran.
Amelia Risma.
Gadis cantik dengan senyumannya yang menawan membuat Bimo terpesona saat pertama kali melihatnya tadi. Rambut hitam panjangnya di biarkan terurai indah, sementara bando mutiara di kepalanya menambah manis penampilannya. Sungguh kecantikan alami khas Indonesia.
"Tampaknya Fendi dan Susan tak akan kembali" Ucap Bimo memecah kesunyian diantara mereka.
Dia sendiri sadar mereka pasti tak akan kembali.
Amelia menarik nafas panjang, menatap pintu masuk cafe, tampak berharap kalau sepupunya akan datang.
"Mungkin mereka sengaja meninggalkan kita" Ucapnya kemudian.
'Itu mah aku sudah tau' Batin Bimo.
"Mau pulang? Nanti aku antar."
__ADS_1
"Bentar lagi deh. Ini malam terakhir aku di Surabaya. Aku masih ingin menikmati suasana disini." Katanya sambil menyeruput kopi yang baru di pesannya.
"Malam terakhir?" Tanya Bimo penasaran.
Amelia mengangguk, meletakkan cangkir kopi di meja.
"Esok aku harus balik Jakarta. Aku baru saja menyelesaikan program Intership di sini. Minggu depan aku mulai kerja di Rumah Sakit."
"Ohhhh......" Ternyata dia seorang dokter muda, batin Bimo. Rasanya sedikit tak rela untuk perkenalan mereka yang begitu singkat. 'Kenapa tidak dari dulu dia mengenal Amelia? Kenapa nanti di hari terakhir Amelia di Surabaya?' Bimo gusar.
"Gimana kalau kita jalan jalan? Hitung hitung perpisahan dengan Kota kelahiran ku yang kucintai." Tawar Bimo yang langsung di iyakan oleh Amelia..
"Kota kelahiranku juga." Kata Amelia kembali menyeruput kopinya. "Aku habiskan kopi dulu ya. Sayang kalau gak habis.."
"Pecinta kopi ternyata. Bukannya seorang dokter harus jaga kesehatan?"
"Pergi sekarang?" Tanya Bimo ketika cangkir kopi Amelia sudah kosong, dan di jawab dengan anggukan kecil.
"Aku pinjam mobil sebentar.."
Bimo pergi meminjam mobil Andre, Sahabatnya dan juga Fendi sekaligus Manajer di cafe tersebut. Bimo tadi di jemput Fendi, jadi dia tidak membawa mobil.
Suasana malam itu begitu ramai. Hampir sejam Bimo dan Amelia hanya berkendara tanpa arah menikmati suasana malam kota itu sampai akhirnya Bimo mengantar Amelia di depan sebuah rumah yang cukup besar yang Bimo tau itu rumah Susan. Bimo pernah bareng Fendi menjemput Susan waktu mereka pergi ke suatu acara.
"Selama ini kamu tinggal disini?" Tanya Bimo ketika Amelia mau turun.
__ADS_1
Amelia hanya mengangguk. "Mau mampir?" Tanya kemudian.
"Tidak usah. Sudah malam. Tidak enak sama yang punya rumah."
"Oke. Sampai ketemu lagi ya Bim. Nanti kapan kapan kalau ke Jakarta hubungi aku.."
"Gimana mau hubungi nomor Hape saja tidak punya.." Canda Bimo, dalam hati berharap Amelia akan memberikan nomor hp'nya.
"Oh iya.." Amelia tersenyum singkat.
Mereka kemudian bertukar nomor HaPe.
"Aku panggil kamu apa?? Tampaknya Amelia terlalu panjang."
"Semua orang biasa memanggilku Lia" Ucap Amelia dengan senyumnya yang menawan. "Aku masuk ya Bim.."
Bimo mengangguk dan menatap Lia yang berjalan memasuki rumah bercat putih dengan pagar yang tinggi.. Seorang satpam tampak membuka pintu pagar untuk Lia.
'Amelia.'
Gumam Bimo dan jantungnya terasa berdebar. Mungkinkah ini cinta pada pandangan pertama??
Bimo kembali ke kafe untuk mengembalikan mobil Andre, dan pulang menggunakan taksi online karena yakin Fendi tidak akan kembali, sementara ponselnya dan Susan tidak aktif, mungkin sengaja di matikan.
Bimo ingin mengumpat, tapi tidak jadi mengingat malam ini dia cukup senang bisa berkenalan dengan Lia, yang entah mengapa membuat Bimo sangat tertarik. Bimo tersenyum, wajah Lia seakan menari di pelupuk matanya.
__ADS_1
***