
Senja menyeruput Jus Jeruk yg di pesannya, memperhatikan suasana Kafe yg semakin ramai karena sudah hampir jam makan siang. Tampak beberapa org memakai Jas dokter dan beberapa perawat juga memilih makan siang disini, mungkin karena letaknya tepat di depan Rumah Sakit.
Senja sadar kalau saat ini dia sedang menjadi topik pembahasan mereka, mungkin karena saat ini dia duduk berdua saja dengan Radit. Terlihat jelas karena mereka sering melirik dan mencuri pandang ke meja mereka yang letaknya paling sudut. Meja khusus dua orang.
Sejak Senja dan Radit keluar dari ruangan sampai mereka keluar dari Rumah Sakit, sangat jelas terdengar bisik bisik perawat yang menatapnya tak senang. Entahlah apa yg mereka pikirkan dan bicarakan.
Senja menatap Radit yang sibuk dengan ponselnya. Jus Jeruk yg di pesannya belum tersentuh.
"Kak Radit sibuk amat. Tidak kangen apa sama Senja?"
"Kangen lah." Radit menjawab tanpa menatap Senja, masih sibuk dengan ponselnya.
"Kangen tapi dari tadi cuma diam." Ngambek ceritanya.
Radit meletakkan ponselnya di atas meja, tersenyum menatap Senja. "Maaf. Tadi kak Radit hanya memastikan kepada keluarga pasien untuk operasi esok."
"Pasien yang mana kak?"
"Yang bukan VIP."
"Oh."
Senja kembali menyeruput Jus jeruknya yang tinggal setengah gelas. "Lama amat makanannya kak. Senja sudah lapar."
"Kamu itu yah. Dari dulu tidak bisa sabar. Baru 10 menit kita duduk. Mungkin karena suasana kafe lagi ramai."
Senja memperhatikan sekeliling kafe. Kafe yang di design dengan konsep modern minimalis. Di dominasi dengan cat berwarna putih membuat kafe itu senada dengan suasana Rumah Sakit yang terletak tepat di depannya. Semua tempat duduk hampir terisi, sementara hanya ada 2 orang pramusaji yang mondar mandir mengantarkan pesanan.
'Kenapa cuma dua orang pelayan sementara kafe lagi ramai begini?! Batin senja.
"Dari tadi aku tidak lihat kak Martha." Mata Senja sibuk mencari sosok yang di kenalnya sebagai owner Kafe ini.
"Dia akhir akhir ini jarang ke Kafe. Ayahnya tiga bulan lalu stroke jadi sibuk merawat ayahnya." Radit menjelaskan.
"Oh. Kasihan kak Martha."
Seorang pelayan datang membawa pesanan makan siang mereka. Seporsi nasi bakar dengan ayam kremes untuk Senja dan Sop Iga asam manis untuk Radit.
"Makasih mba."
Pelayan itu tersenyum lalu pergi untuk mengantar pesanan lainnya.
"Kasihan mereka pasti capek ka. Begitu banyak pengunjung tapi hanya dua orang yang melayani."
"Sudah makan saja. Katanya tadi sudah lapar."
__ADS_1
Senja menarik nafas berat. Mengucap doa sebentar, baru menikmati makan siangnya. Radit pun melakukan hal yang sama.
"Kenapa kak Martha tidak menambah karyawan?"
Tanya Senja pada Radit. Senja tau Radit cukup akrab dengan Martha karena mereka lulusan SMA yang sama. Senja juga mengenal Martha dari Radit, dan dulu Senja sering mengunjungi Kafe ini sebelum ada kejadian itu. Kejadian yang membuat Senja tidak pernah mau ke Rumah Sakit.
"Kondisi keuangannya tidak baik sejak ayahnya sakit. Banyak biaya di keluarkan untuk pembayaran Rumah Sakit. Jadi dia tidak mungkin menambah karyawan. Membayar gaji dua orang pelayan dua orang koki dan seorang kasir saja sudah cukup berat. Kamu tahu sendiri kan ini sumber penghasilan Martha satu satunya."
Senja diam dengan pikirannya sementara mulutnya tetap sibuk menikmati makanannya, sementara Radit juga makan sambil mengecek notifikasi pesan yang tak pernah berhenti di ponselnya.
"Kak. Gimana kalau aku kerja disini bantu kak Martha."
Ide senja yang tiba tiba membuat Radit menghentikan aktifitasnya dan menatap Senja lekat.
"Sekalian biar aku bisa dekat terus dan mengawasi kak Radit. Pasti kak Radit sering melewatkan waktu makan kan? Nanti kalau kak Radit sakit yang repot pasti aku sama bibi." Ucap Senja tersenyum sumringah tanpa beban.
"Kalau mau dekat dan mengawasi kakak, kamu selesaikan cita citamu sana!"
Senja terdiam.
Radit menatap Senja sendu. Tampak raut kesedihan di wajahnya.
"Senja. Inikan cita citamu. Apa kamu mau menyerah setelah semua perjuanganmu. Tidak ada yang memaksamu melalui jalan ini. Ini pilihanmu sendiri."
"Senja belum siap ka. Otak dan tubuh Senja belum bisa diajak bekerja sama. Senja tidak bisa terlalu lama berada di rumah sakit. Senja selalu ingat hari itu."
Radit tersenyum memaparkan ide cemerlang (menurutnya) yang tiba tiba terlintas di pikirannya. 'semoga Senja setuju' batinnya.
Senja diam, tampak berpikir.
"Tanya kak Martha berapa gaji Senja." Ucapnya kemudian.
Senyum cerah tampak di wajah tampan Radit. Senja sudah setuju. Ada sedikit harapan adiknya akan menjadi Senja yang dulu.. Senja yang selalu ceria dan gigih dengan cita citanya sejak kecil, yang membuat Radit mengambil jalan yang sama mendahului Senja karena ingin terus membantunya dengan impiannya.
"Memangnya Senja butuh duit?" Radit balik bertanya.
Senja hanya mengangkat kedua bahunya dan tersenyum menatap Radit.
"Tapi Senja tidak bisa terlalu sering bantu kak. Senja masih senang Traveling. Senja juga punya subscriber yg selalu menanti video liburan Senja"
"Idih. Adikku ternyata punya jiwa selebriti." Radit mencubit pipi Senja gemes sementara tampak beberapa pasang mata memperhatikan mereka.
"Kakak jangan begitu di tempat umum. Senja malu. Nanti dikira kita pacaran."
Radit terkekeh melihat Senja yang mengelus pipinya yang tampak memerah.
__ADS_1
"Sakit?"
Senja mengangguk.
"Kakak pulang kapan? Tidak kangen sama masakan bibi? Lagian tinggal sekota tapi ketemunya jarang"
Radit memang memilih tinggal di apartemen dekat rumah sakit yang bisa di tempuh dengan jalan kaki selama sepuluh menit. Jadwal operasi yang tak ada habisnya membuat Radit susah untuk bisa pulang rumah tepat waktu. Rumahnya (Rumah Senja) terlalu jauh untuk dia bolak balik dari rumah sakit.
"Besok selesai operasi kakak pulang."
Senja tersenyum sumringah. "Bibi pasti senang deh."
"Jam berapa pesawat Lia datang? Katanya tadi mau jemput Lia di bandara."
Senja mengangguk. "Nanti sore. Senja sekalian makan malam di rumah Amel. Mungkin Senja mau nginap di rumah Amel. Tadi juga Senja sudah bilang sama bibi."
"Oke. Kamu hati hati yah. Bawa mobil jangan buru buru.."
"Iya kak. Kita pergi sekarang ya. Kak Radit pasti banyak kerja. Maaf Senja mengganggu."
"Kakak senang sekali Senja datang hari ini. Setidaknya Senja sudah bisa menginjakkan kaki di rumah sakit." Radit mengacak rambut kepang Senja. Dia memang sangat senang dengan kedatangan Senja. Entah apa yang merasukinya sehingga hari ini Senja bisa datang mencarinya di rumah sakit.
Sementara Senja sebelum menemui Radit, selama sejam lebih dia hanya mondar mandir di depan rumah sakit, ragu untuk masuk. Entah kenapa tadi pagi begitu dia bangun tidur dia sangat merindukan Radit yang tidak di lihatnya selama hampir dua Minggu. Radit memang pernah pulang ke rumah tapi saat itu Senja sedang liburan.
Radit segera membayar makan siang mereka, dan terlihat cukup akrab dengan petugas kasir. Tampak mereka berbincang sebentar lalu Radit menghampiri Senja yang menunggu di depan pintu masuk kafe.
Radit mengantar Senja menuju parkiran rumah sakit.
"Sampai ketemu esok kak. Jangan telat makan yah. Dan jangan lupa lirik kiri kanan, siapa tau kesenggol jodoh. Bibi ingin menantu, dan aku ingin punya kakak ipar." Goda Senja.
Bicara sembarangan lagi kakak yang akan jodohkan kamu. Biar kakak punya adik ipar yang bisa bantu jaga kamu.
"Yeeee.. Senja masih mau mengejar cita cita"
"Benar mau mengejar cita cita?"
Senja mengangguk pelan. "Senja akan berusaha kak."
Radit tampak senang dan kembali mengacak rambut Senja sehingga kepangnya semakin berantakan. "Sana pergilah. Hati hati di jalan yah. Salam buat Lia."
Senja menatap rambutnya yg sudah Awut awutan di kaca spion mobilnya. "Rambut senja sudah berantakan begini tapi di suruh cepat cepat ke bandara. Kakak pikir gampang apa mau kepang rambut sendiri." Senja sewot sementara Radit hanya terkekeh.
***
Hai Readers
__ADS_1
Mohon dukungannya Like dan Komennya ya..
Terima Kasih 🙏🙏