Mengejar Senja

Mengejar Senja
Sahabatku Amelia


__ADS_3

Suasana bandara sore itu cukup ramai. Tampak orang orang lalu lalang, sementara Senja bersandar santai di tiang bandara di depan terminal kedatangan, Terminal 1 bandara Soekarno-Hatta. Tidak lama menunggu, tampak seorang gadis berambut hitam berkilau yang sengaja di biarkan terurai melambaikan tangan bersemangat ke arah Senja.


Amelia Risma. Sahabat Senja sejak kecil yang baru saja menyelesaikan program Intership di salah satu Rumah Sakit di kota Pahlawan. Selama magang di sana, Amelia hanya dua kali pulang ke Jakarta.


Senja membalas lambaian tangan Amel. Wajahnya sumringah. Dia sangat merindukan sahabatnya itu.


Senja menatap Amel yang menghampirinya, yang tampak susah payah menarik dua koper yang besar.


Senja terkikik melihat sahabatnya itu dan buru buru menghampiri, mengambil salah satu koper milik Amelia.


"Aku kira kamu sudah bawa pangeran tampan yang dengan sukarela membawa kopermu, yang aku yakin ini belum semuanya di bawah" Ledek Senja.


Amelia nyengir kuda.


"Barang lain sudah aku kirim lewat ekspedisi. Ini hanya beberapa barang penting yang harus aku jaga."


"Woowww. Beberapa mu sangat sedikit yah.." Ucap Senja sarkartis menatap 2 koper berukuran Jumbo itu.


Amelia terkekeh.


Susah payang mereka memasukkan 2 koper raksasa (menurut ukuran Senja) ke dalam mobil.


"Gila kamu Amel. Isinya apa saja?"


"Sudahlah. Nanti kamu juga tahu."


"Ada oleh - oleh buat aku?" Senja


"Memangnya kamu pernah beli oleh - oleh buat aku?" Amelia


Kini dua gadis itu berpelukan melepaskan rasa rindu karena lama tidak bertemu.


"Aku kangen." Senja


"Aku lebih kangen kamu." Amelia


"Balik yuk." Senja melepaskan pelukan dan menuntun Amelia masuk mobilnya.


Senja membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka tak bisa menghindari kemacetan Jakarta di sore hari.


"Bisa bisa sudah larut malam baru kita sampai di rumah. Aku sudah kangen Bunda." Gerutu Amelia karena macet di beberapa tempat yang membuat perjalanan pulang mereka terasa sangat lambat.


"Sabar non. Nanti juga tetap sampai rumah."


Senja kembali menghentikan mobilnya karena lampu merah. Tampak beberapa pengamen yang berebutan menuju mobil incaran mereka masing - masing. Dua orang anak kecil menghampiri mobil Senja. Mereka bernyanyi di iringi sebuah keroncong kecil walau suaranya tak terdengar jelas karena kaca mobil yang tertutup rapat. Senja menatap kasihan kepada dua orang anak yang tampak bersemangat menyanyikan sebuah lagu, berharap uluran tangan orang di dalam mobil mau membagi sedikit rejeki kepada mereka untuk sekedar mengisi perut.

__ADS_1


Lampu sudah berganti hijau, suara klakson mobil menyadarkan Senja dari lamunannya. Senja menurunkan kaca mobilnya memberikan selembar uang berwarna biru kepada dua anak pengamen tadi yang menerimanya dengan penuh sukacita. Senyum merekah di wajah polos mereka.


"Makasih kak." Ucap mereka bersamaan lalu berlari pergi.


Amelia tersenyum menatap sahabatnya. "Kamu tetap saja Senja yang dermawan." Amelia bersorak, bertepuk tangan pelan.


"Mereka anak kecil. Sudah mau gelap tapi masih ngamen di jalanan. Mereka berusaha mencari sedikit uang di tengah ketakutan mereka pada petugas sosial yang mungkin saja menangkap mereka. Apa kamu tidak kasihan?"


"Siapa yang tidak kasihan? Aku juga punya hati yang selembut sutra." Amelia membela diri. "Beruntung lampu sudah hijau tadi. Kalau tidak kamu sudah di kerumuni pengamen yang lain berharap mendapat rejeki yang sama besar." Lanjut Amelia.


Senja tersenyum. Pandangannya fokus menatap jalan, menjaga laju mobilnya tetap stabil.


"Kamu juga masih tetap Amelia yang bawel, yang mulutnya tidak bisa diam. Aku kasihan saja sama pasienmu nanti."


Amelia terkekeh.


"Aku yakin mereka sangat bahagia dilayani dokter yang cantik seperti saya." Ucap Amelia yang memang selalu narsis.


Mereka tetap berceloteh menceritakan pengalaman mereka masing masing sampai mobil mereka memasuki kawasan perumahan elit.


***


"Bundaaaa.."


Ibu dan anak itu berpelukan mesra walau sebenarnya mereka baru bertemu bulan lalu di Surabaya, bertepatan dengan ayah Amelia yang tugas luar di sana..


Ibu Amelia melepas pelukan Amelia lalu memeluk Senja.


"Hallo sayang. Lama tidak bertemu."


Tante Rossi, begitu Senja memanggilnya. Seorang wanita paruh baya yang tetap cantik dan tampak awet muda di usianya yang sudah di pertengan 50an, seorang mantan artis yang memilih pensiun dari dunia Entertainment tidak lama setelah menikah dengan om Anwar. Tante Rossi mendedikasikan hidupnya untuk mengurus keluarganya.


"Senja juga kangen Tante Rossi." Senja membalas pelukan erat bundanya Amelia.


"Ayah belum pulang?" Tanya Amelia pada sang bunda.


"Sejak kapan ayah pulang jam segini?" Tante Rossi balik bertanya


Amelia nyengir kuda, memamerkan giginya yang seputih susu.


"Mungkin saja kan ayah pulang cepat demi putri semata wayangnya. Walau kemungkinannya satu banding sejuta sih."


Mereka bertiga tertawa ringan.


"Sudah ke kamar dulu sana ganti baju. Sudah bau asem. Bunda juga mau lanjut bantu bi' Ana menyiapkan makan malam."

__ADS_1


Amelia mencium pipi bundanya lalu pergi ke kamarnya di ikuti Senja.


"Aku kangen kamarku yang sederhana ini." Amelia menjatuhkan dirinya di tempat tidur besar yang terletak di tengah kamarnya yang cukup luas.


"Kalau kamar mewah begini kamu bilang sederhana, kamarku pasti masuk kategori kumuh."


Ucap Senja membandingkan ukuran kamarnya yang hanya Setengah dari ukuran kamar Amelia, yang di dominasi warna pink, warna favorit Amelia yang tetap konsisten sejak dia bocah, warna yang justru tidak di sukai oleh Senja.


"Huuuu Jangan berlagak miskin Ja." Amelia memajukan bibirnya seolah mengejek Senja.


"Hello Kitty sayang.." Amelia mendekap boneka kepala kucing yang lebih besar dari kepalanya.


"Hai barbie's..." Amelia lanjut menyapa gadis gadis yang berjejer rapi tanpa nyawa tapi pakaiannya jauh lebih bagus dan lebih mahal dari bocah bernyawa yang tadi mengamen di lampu merah. Boneka mainan dari negeri Paman Sam yang hanya bisa di beli anak gadis kelas atas yang pakaian dan asesorisnya bahkan bisa di ganti ganti, yang sudah di koleksi Amelia sejak dia kecil.


Senja menatap Amelia tak mengerti dengan tingkahnya yang menyapa satu persatu mainannya yang disusun rapi di lemari kaca yang besar lengkap dengan koleksi pakaian mahal para boneka itu..


"Tampaknya kamu lebih kangen mereka dari pada sahabatmu ini. Dasar dokter aneh" Ucap Senja sewot.


Amelia terkekeh. "Yang aneh itu orang yang cemburu sama boneka."


"Aku kira kamu bakal insaf setelah setahun tidak bermain dengan gadis gadismu itu."


"Aku tidak mungkin melupakan dan meninggalkan anak - anakku. Kamu tahu sendiri kan bagaiman aku mengurus mereka sejak kecil."


"Iya iya Barbie's mommy. Terserah kamu saja." Senja mengalah karena tahu kalau berdebat soal Boneka koleksinya itu Senja tidak akan pernah menang.


"Senang bertemu denganmu sahabatku." Senja tersenyum menatap sahabatnya yang sangat di rindukannya itu.


Setahun lebih mereka tidak bertemu, hanya berkomunikasi lewat kecanggihan teknologi. Itupun jarang karena kesibukan Amelia saat kerja di Rumah Sakit. Amelia di tempatkan di UGD yang pasiennya tidak pernah habis. Waktu senggang di manfaatkan Amelia untuk mengistirahatkan tubuhnya. Hanya 2 kali Amelia pulang ke Jakarta, tidak lama. Dan itu ketika Senja sedang berada di luar kota. Senja juga pernah ke Surabaya dan menyempatkan waktu ke Rumah Sakit tempat Amelia magang. Berniat memberi kejutan sebelum pulang Jakarta, tapi dia pulang dengan kekecewaan karena saat itu Amelia sedang menghadiri Seminar, sedangkan Senja tidak bisa menunggu karena jadwal keberangkatannya.


"Senang bertemu denganmu juga sahabatku yang merasa dirinya seperti Lara Croft."


Amelia menghampiri Senja, memeluknya erat, mencoba melepaskan kerinduan mereka yang untuk pertama kalinya terpisah dengan waktu yang cukup lama.


"Ceritakan pengalamanmu. Senang kerja di Rumah Sakit?"


Amelia mengangguk dan mulai menceritakan pengalamannya dengan bersemangat.


Kali ini Senja serius mendengarkan kata demi kata yang keluar dari bibir Amelia. Tersenyum saat Amelia tersenyum menceritakan pasien anak pria yang selalu mengejarnya dengan gigih, menitikkan air mata saat Amelia dengan wajah sedih menceritakan pengalaman pertama melihat orang yang di rawatnya menghembuskan nafas terakhir di depan Amelia. Ada sedikit rasa aneh yang menggelitik di hati Senja.


Amelia menatap Senja yang diam dalam lamunannya, tanpa menyadari kalau Amelia sudah berhenti bicara.


"Suatu hari nanti, kamu bisa merasakan pengalaman yang sama Ja." Amelia memeluk Senja erat. Dia sangat mengerti apa yang di rasakan sahabatnya itu.


***

__ADS_1


__ADS_2