
"Ja, pernahkah kamu jatuh cinta?" tanya Amelia dengan tatapan mata menerawang.
Senja menatap Amelia yg berbaring di sampingnya sambil menatap lurus ke arah langit langit kamar itu. "Apa kamu pernah melihatku jatuh cinta?" Tanya Senja dan di jawab dengan gelengan kepala Amelia Tanpa menatap Senja.
"Aku mungkin sedang jatuh cinta." Ucap Amelia kemudian, lalu menatap Senja. Pandangan mereka beradu. Senja menatap Amelia yang kini tampak malu seolah sedang mengaku dosa pada sahabatnya. Terlihat jelas rona merah muda di pipi Amelia.
"Ini sudah kesekian kalinya kamu bilang jatuh cinta." Ucap senja datar.
Amelia memang sudah beberapa kali pacaran, dan tiap memiliki pacar dia selalu mengatakan kalau dia sedang jatuh cinta. Dan cinta itu hanya bertahan beberapa saat sampai berubah menjadi benci.
"Kali ini aku serius Ja. Cinta pada pandangan pertama." Amelia kini duduk bersila, matanya berbinar dengan kedua tangan yang memegang pipinya, senyum seketika menghiasi wajah cantiknya.
"Sama Lukman juga kamu bilang jatuh cinta pada pandangan pertama." jawab senja dan di hadiahi tatapan sinis Amelia.
"Kali ini benar benar cinta Ja. Senyumnya selalu menghiasi pikiranku."
"Ah Lebay." Senja melemparkan bantalnya ke arah Amelia. "Orang mana? Sudah berapa lama pacaran?" Tanya Senja kemudian
"Belum pacaran. Aku baru semalam kenalan dengannya."
Senja menatap Amelia yang mulai tampak muram. "Baru kenalan semalam, dan hari ini kamu sudah kembali ke Jakarta?" Senja tertawa mendengar kata kata Amelia. "Kasihan sekali kamu Mel."
"Kalau jarak tidak masalah Ja. Yang jadi masalahnya aku belum tahu dia suka tidak sama aku. Semalam kami cukup lama bicara. Dan saat itu aku merasa nyaman dengan dia. Sejak pagi tadi saat mau siap - siap balik Jakarta, hatiku terasa berat untuk kembali. Padahal aku sudah lama ingin pulang. Kenapa juga Susan baru mengenalkan dia semalam." Gerutu Amelia.
"Jadi dia kenalannya sepupumu?"
Amelia hanya mengangguk.
"Kamu punya nomor HaPenya kan?"
Amelia kembali mengangguk.
"Ya sudah. kamu tinggal telepon atau kirim pesan. Gitu aja kok repot." Ucap Senja menirukan quotes salah satu tokoh politik idolanya.
"Malu. Aku kan perempuan." Jawab Amelia polos.
"Ya ampun Mel. Jaman gini masih saja malu. Sudah tidak jaman lagi untuk membedakan gender dalam urusan mengejar cinta. Tapi dia belum punya pacar kan?"
Amelia menggeleng. "Kata Susan dan Fendi dia jomblo."
"Bagus dong. Jadi kamu bisa mengejar cinta tanpa merusak hubungan orang lain. Siapa namanya?"
"Bimo."
Deg.
'Bimo? Kenapa kita bisa kebetulan menyukai orang dengan nama yang sama? Bimo juga dari Surabaya. Tidak mungkin. Di Surabaya pasti nama Bimo tidak hanya satu' Batin Senja
"Kenapa diam Ja?"
Senja yang berbaring pun memilih duduk dan menghadap sahabatnya.
"Apa pekerjaannya?" Tanya Senja sedikit ragu. 'Semoga bukan fotografer.' Ucap Senja dalam hati.
"Dia owner beberapa kafe dan resto."
"Ohhhh" Tampak jelas kelegaan di wajah Senja. 'Syukurlah bukan Bimo yang aku kenal' batin Senja.
Senja menatap Amelia yg tampak muram. "Sudah. Ambil Hapemu dan bilang kamu kangen."
__ADS_1
Amelia menggeleng.
"Hellowww. Apa sejak di lantik jadi dokter keberanianmu mengejar cinta langsung hilang? Biasanya juga kamu tidak memperdulikan masalah gender kalau soal mengejar pria idamanmu."
"Kali ini beda Ja."
"Apa yg beda?"
"Entahlah Ja. Aku juga bingung."
Mereka sama sama menghembuskan nafas panjang. Diam dengan pikiran masing masing.
"Gimana denganmu Ja? Bukannya kamu pernah bilang menyukai teman perjalananmu itu?"
"Mungkin. Tapi aku tidak yakin. Kamu tahu sendiri kan aku tidak pernah pacaran."
"Siapa namanya?"
"Sama seperti pria pujaanmu itu. Bimo. Dia juga dari Surabaya."
"Apa? Jangan bilang kalau kita menyukai orang yang sama."
Senja terkekeh. Pikiran yang sama juga tadi sempat terlintas.
"Tenang saja. Nama Bimo tidak hanya satu di kota Surabaya. Bimo'ku hanya seorang fotografer, bukan pengusaha seperti Bimo'mu.."
"Ohhhh." Tampak jelas kelegaan di wajah Amelia.
"Kalaupun kita menyukai orang yang sama, aku pasti akan merelakannya. Karena bagiku kamu sahabatku, jauh lebih penting dari pria manapun." Lanjut Senja.
"Berpelukan" Amelia terharu lalu memeluk Senja, sahabat yang sudah seperti saudara baginya.. "Bagiku kamu juga lebih penting dari pria manapun. Aku juga akan mengalah jika ternyata kita menyukai orang sama."
"Mendongeng kisah nyata. Aku juga rindu kamu Ja."
"Ceritakan tentang Bimomu" Amelia melepaskan pelukannya.
"Tidak ada yang perlu di ceritakan. Aku sendiri tidak yakin apa benar menyukainya sebagai pria, atau hanya sekedar rasa nyaman karena memiliki teman dalam bepergian."
"Apa kamu pernah merindukannya?"
"Entahlah. Hanya saja akhir akhir ini aku mulai tidak sabar untuk melakukan perjalanan bersama dengannya lagi."
"Itu berarti kamu merindukannya Senjaku sayang" Amelia mencubit pipi senja gemas.
Tampak rona merah muda di pipi Senja yang tersenyum. "Benarkah?"
Amelia terkekeh. "Ini pertama kalinya aku melihat sahabatku menyukai seseorang. Aku jadi penasaran sama Bimo'mu. Punya fotonya?"
Senja menggeleng. "Pernah berpikir untuk memotretnya diam - diam, tapi aku tidak seberani itu."
"Media sosial?"
"Dia tidak pernah meng-upload foto dirinya. Semua hanya hasil jepretannya. Kalau kamu?"
"Gimana punya fotonya Ja. Ketemu saja baru tadi malam." Amelia kembali terkekeh.
"Ya sudah. Sekarang kita tidur. Siapa tahu pangeran kita datang di mimpi kita."
"Memangnya ada pangeran bernama Bimo? Namanya seperti merk minyak goreng." Kelakar Senja dan dibalas tawa dari Amelia.
__ADS_1
"Aku malah berpikir seperti Bemo." Tambah Amelia.
Amelia dan senja mengambil posisi tidur berdampingan di kasur king size yang cukup lapang bagi mereka.
"Kapan kamu mulai kerja Mel?"
"Senin depan. Jadi aku masih punya beberapa hari untuk istirahat. Bagaimana denganmu?"
"Rencananya aku akan kerja di kafe yang di depan rumah sakit milik kak Martha. Esok aku dan kak Radit akan ketemu kak Martha."
"Serius kamu? Berapa gajinya?"
Senja tersenyum menatap sahabatnya. "Ini bukan soal gaji. Aku hanya ingin melakukannya. Aku ingin membantu kak Martha."
"Lalu bagaimana dengan cita - cita luhurmu itu? apa kamu benar - benar ingin berhenti di tengah jalan? Apa kamu mau menyerah begitu saja? Ayolah Senja, aku sangat mengenalmu. Kamu yg begitu terobsesi dengan impianmu sampai tidak ada waktu bagimu untuk bersenang - senang."
"Makanya sekarang waktuku untuk bersenang -
senang." Potong senja.
"Sudah hampir 3 tahun Ja."
"Aku tahu Mel. Aku masih perlu sedikit waktu. Hari ini aku sudah memulai langkah awal. Dan Anggap saja bekerja di kafe sebagai usahaku untuk membiasakan diri di lingkungan itu. Kak Radit sudah setuju dan mendukung keputusanku. Aku harap kamu juga mau mendukungku." Senja menatap Amelia Sendu, seolah memohon dukungan .
"Baiklah. Aku akan terus mendukungmu, apapun keputusanmu. Berarti kita akan sering bertemu dong." Amelia kembali memeluk Senja dalam posisi tidur. "Aku sayang kamu Ja. Ingatlah, kamu tidak pernah sendiri. Masih banyak orang yang mencintaimu."
Suara notifikasi pesan membuat Amelia melepas pelukannya dan mengambil HP yang terletak di atas nakas di samping tempat tidur.
Senyum merekah di wajah Amelia setelah membaca pesan di hapenya, lalu menyodorkan hapenya pada Senja "Coba baca"
Senja mengambil hape dari tangan Amelia.
"Bagaimana kabarmu? Sudah sampai?" - Bimo
"Aku bahagia Ja." Amelia segera mengambil hapenya dan memainkan jemarinya mengetik pesan untuk membalas.
"Ya sudah. Selamat melepas rindu. Aku tidur duluan yah."
Amelia hanya mengangguk dan tetap sibuk berbalas pesan dengan Bimo'nya..
***
Bimo POV
Entah mengapa seharian ini Bimo tidak fokus kerja. Wajah dan senyum Amelia teringat jelas di mata Bimo. Sempat ada sedikit penyesalan karena mereka baru di kenalkan di saat Amelia sudah akan kembali ke Jakarta, tempat asalnya.
'Apa dia juga memikirkan ku?' tanya Bimo dalam hati.
Bimo mengambil hapenya dan mengirimkan pesan pada Amelia. Beruntung dia sempat meminta nomor ponsel sang dokter cantik. Pesan terkirim. Bimo menanti dengan harap - harap cemas. Tak lama terdengar suara notifikasi pesan di ponselnya.
"Aku baik. Sampai rumah tadi soreh. Gimana kabarmu?" - Amelia
"Baik. Hanya saja aku merindukanmu." - Bimo
Pesan terkirim. Bimo segera meletakkan hapenya diatas nakas. Entah mengapa dia tiba - tiba seberani itu mengatakan rindu pada wanita yang baru di temuinya tadi malam. 'Betapa bodohnya aku. Bagaimana jika dia marah?' Bimo merutuki keberaniannya. Baru mau menghapus pesannya tapi terlihat tanda jika pesannya sudah di baca.
10 Menit berlalu tidak ada balasan. Bimo langsung menonaktifkan hapenya. 'Esok aku harus minta maaf karena sudah lancang.' Batin Bimo lalu memilih untuk tidur.
***
__ADS_1