Mengejarmu Dengan Pelet

Mengejarmu Dengan Pelet
21. Hantu Pabrik ?


__ADS_3

Dokter Helmi nampak tersenyum saat melihat Yuna menggeliat lalu perlahan membuka matanya. Namun saat kedua matanya benar-benar terbuka, Yuna justru menjerit lalu kembali jatuh pingsan. Dan hal itu jelas mengejutkan sang dokter.


Dokter bernama Helmi itu nampak menepuk-nepuk pipi Yuna berharap wanita itu mau membuka mata. Namun usaha dokter Helmi tak membuahkan hasil.


Seorang perawat nampak bergegas masuk untuk melihat apa yang terjadi.


"Ada apa dok ?. Saya denger suara orang menjerit kenceng banget tadi. Apa itu suara pasien ini ?" tanya sang perawat.


"Iya Sus. Abis menjerit, pasien ini justru pingsan lagi. Saya udah coba bangunin dari tadi tapi ga berhasil. Keliatannya wanita ini sengaja ga mau membuka mata karena takut," sahut dokter Helmi.


"Jangan-jangan dia ngeliat sesuatu dok," kata sang perawat dengan ragu.


"Sesuatu apa maksud Kamu Suster ?. Setan atau hantu penunggu pabrik ?" tanya dokter Helmi.


"Kan Saya cuma nebak dok. Abisnya pasien pingsan mendadak, dan pas bangun malah balik pingsan lagi. Masuk akal kan kalo dia pingsang gara-gara ngeliat hantu yang serem, terus pas bangun dia ngeliat hantu itu lagi. Jadi ga heran kalo dia pingsan lagi," sahut sang perawat sambil tersenyum.


Dokter Helmi nampak tertegun mendengar ucapan asistennya itu. Selama ini dokter muda itu hampir tak percaya dengan adanya hantu atau apa pun yang berkaitan dengan hal mistis. Namun sejak dia bekerja di klinik perusahaan itu, mau tak mau dokter Helmi harus percaya. Bagaimana tidak. Beberapa pasien yang datang ke klinik membawa keluhan yang sama. Yaitu sama-sama melihat penampakan makhluk astral di dalam pabrik. Meski pun awalnya tak percaya, toh lama kelamaan dokter Helmi percaya.


"Biarkan pasien istirahat Sus. Jangan dibangunin. Kalo dia bangun jangan lupa dikasih minum ya," pesan dokter Helmi sambil berjalan keluar ruangan.


"Baik dok," sahut sang perawat.


Tiba di pintu klinik dokter Helmi berpapasan dengan Lisa. Dokter Helmi tahu jika Lisa dan Yuna bersahabat karena sering melihat mereka bersama.

__ADS_1


"Temennya masih pingsan, tapi tolong jangan berisik ya," pinta dokter Helmi saat melihat wajah Lisa yang penuh tanya itu.


"Saya ga lama kok dok. Cuma mau tau keadaannya aja. Apa Yuna belum siuman juga daritadi ?" tanya Lisa.


"Udah, tapi pingsan lagi. Kayanya temen Kamu kelelahan atau lagi banyak pikiran," sahut dokter Helmi.


Lisa mendekati Yuna lalu mengamatinya sebentar. Setelah memastikan Yuna baik-baik saja, Lisa pun bergegas pergi. Rupanya Lisa tak ingin mendapat omelan dari supervisor baru itu. Apalagi ia hanya pamit ke toilet tadi.


\=\=\=\=\=


Jika Yuna masih pingsan di klinik, keadaan berbeda justru terjadi pada Ricki. Pria itu merasa gelisah sepanjang perjalanan menuju ruang kerjanya. Ricki merasa pingsannya Yuna seolah memberi firasat bahwa akan ada sesuatu yang buruk yang akan mendatanginya.


Ricki berhenti melangkah lalu menoleh ke sekelilingnya karena merasa dirinya sedang diintai atau diawasi oleh sesuatu. Perasaan aneh yang belakangan ini terus mengikutinya dan kadang membuatnya takut. Bahkan saking takutnya tak jarang Ricki harus membuka pintu ruang kerjanya agar bisa melihat lalu lalang karyawan yang melintas di depan ruangan kerjanya. Dengan melihat mereka membuat perasaan Ricki sedikit lebih nyaman karena merasa tak 'sendirian' di ruangan itu.


Saat Ricki mendaratkan bok*ngnya di kursi, tiba-tiba Ricki dikejutkan dengan gorden jendela yang bergerak dengan sendirinya. Ricki menoleh dan terkejut mendapati gorden jendela bergeser ke kanan dan ke kiri seolah ada yang sesuatu yang membuat benda itu bergerak.


Ricki menghela nafas lega saat mengetahui penyebab gorden itu bergerak adalah dua ekor cicak yang sedang memadu kasih. Setelahnya Ricki kembali fokus ke meja kerjanya.


Namun saat sedang fokus bekerja, Ricki dikejutkan dengan pintu yang tertutup tiba-tiba. Suara itu sangat keras seolah ada sebuah kekuatan besar yang membuat pintu itu terbanting dengan sendirinya.


Ricki pun seketika bangkit dari duduknya lalu menatap nanar ke seluruh penjuru ruangan. Entah mengapa tiba-tiba Ricki merasa perutnya mual, jantungnya berdebar, kepala pusing dan tubuhnya juga mengeluarkan keringat dingin. Ricki merasa sangat tak nyaman. Ditambah dengan rasa takut hingga membuatnya hampir tak bisa berdiri tegak. Ingin memanggil seseorang pun rasanya sulit seolah ada sesuatu yang menahan pita suaranya. Meski Ricki berhasil membuka mulutnya, tapi tak ada suara yang keluar dari sana.


Saat sedang didera rasa tak nyaman itu lah tiba-tiba sekumpulan asap berwarna kehitaman melintas di depan Ricki. Pria itu menelan saliva dengan sulit sambil terus mengamati pergerakan asap hitam yang entah darimana datangnya. Setelah bergerak beberapa waktu, asap hitam itu berhenti tepat di balik pintu. Perlahan asap hitam itu berubah menjadi gumpalan yang lebih padat.

__ADS_1


Ricki merasa jantungnya berdebar kian cepat seiring perubahan asap hitam itu menjadi sesosok makhluk mirip manusia. Dan saat sosok yang mirip manusia kini mewujud sempurna di hadapannya, tubuh Ricki pun jatuh merosot ke lantai.


Ricki mengira makhluk di hadapannya adalah hantu pabrik yang sering dibicarakan para karyawannya. Sosok makhluk itu mirip wanita dewasa hanya saja ukuran tubuhnya lebih besar dan lebih tinggi dari manusia biasa. Dengan kulit hitam legam, rambut dan gaun yang kusut, wajah yang rusak dan mata putihnya itu membuat jantung Ricki serasa lepas dari tempatnya.


Perlahan makhluk itu melayang mendekati Ricki sambil tersenyum. Entah mengapa Ricki merasa senyum itu justru mirip seringai malaikat kematian yang akan membawanya pergi.


Dengan susah payah Ricki menggeser tubuhnya ke belakang agar bisa jauh dari jangkauan makhluk itu. Ricki terus mundur. Namun karena tubuhnya terlalu lemah, akhirnya Ricki terkapar di lantai dengan posisi tubuh telentang. Dengan mudah makhluk itu menggapainya dan kini bahkan berdiri di atas tubuhnya yang terlentang di lantai itu.


Dari jarak yang sangat dekat Ricki bisa menatap wajah makhluk itu hingga membuatnya sesak nafas. Ricki juga merasa sakit bukan kepalang saat tatapan makhluk itu mengarah ke jantungnya.


Sambil terus menatap kearah jantung Ricki makhluk itu menjulurkan lidahnya yang berwarna hitam berlendir. Ricki bergidik jijik melihatnya. Namun semua berubah saat Ricki melihat lidah hitam berlendir itu menjulur lebih panjang seperti ular yang meliuk-liuk lalu mematuk tepat ke jantungnya.


Jangan ditanya bagaimana rasanya. Selain jijik, Ricki juga merasa kesakitan saat lidah makhluk itu melekat kuat di kulit dadanya tepat dimana jantungnya berada. Rupanya lidah hitam berlendir itu adalah alat untuk makhluk itu menghisap darah Ricki.


Tubuh Ricki menggelepar saat makhluk itu menghisap darahnya. Tak terbayangkan bagaimana sakitnya apalagi Ricki juga tak bisa menjerit saat itu. Dari guratan urat yang tercetak jelas di seluruh permukaan kulitnya Kita bisa tahu betapa sakitnya Ricki saat itu.


Ricki hanya bisa menatap ke langit-langit ruangan dengan tatapan kosong seolah berharap semuanya segera berakhir. Dan saat pandangannya hampir menggelap, Ricki mendengar pintu ruangannya terbuka lalu sebuah suara memanggilnya.


"Pak Ricki ...!" kata seorang karyawan Ricki dengan lantang.


Diantara batas ambang kesadarannya, Ricki menoleh dan melihat seorang pria berpakaian supervisor tengah berdiri di ambang pintu sambil menatap lekat kearahnya.


Ricki pun tersenyum lalu jatuh pingsan.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2