
Rian sedang duduk di sebuah diskotik sambil meneguk beberapa gelas minuman keras. Nampaknya Rian kesal usai mendengar pernyataan Indri tadi.
"Cerai. Jadi dia mau cerai. Dia pikir mudah cerai dariku. Aku ga bakal mau lepasin Indri. Dia milikku dan selamanya akan jadi milikku," gumam Rian berkali-kali.
Saat sedang mabuk, Rian melihat sosok wanita mendekat kearahnya. Rian tersenyum saat mengetahui wanita itu adalah Indri, istri yang beberapa waktu ia jauhi dan kini meminta cerai darinya.
"Hai Sayang. Lama ya nunggu Aku ?" tanya wanita itu dengan manja.
"Gapapa. Biar lama tapi Aku bakal nunggu Kamu. Kenapa baru datang ?" tanya Rian.
"Aku sibuk," sahut wanita yang ternyata adalah Ratna itu dengan cepat.
"Kemarilah Sayang. Aku kangen sama Kamu Indriii ...," pinta Rian sambil menepuk pahanya pertanda dia ingin wanita itu duduk di atas pangkuannya.
"Kamu salah manggil lagi. Aku Ratna bukan Indri," kata Ratna kesal.
"Iya iya, Ratna. Ratnaaa ...," sahut Rian diantara kesadaran yang tersisa setengah itu.
Ratna tersenyum lalu duduk di atas pangkuan Rian. Ia pun ikut menikmati minuman keras di hadapan Rian dengan gelas yang sama. Sambil mendengar alunan musik Ratna terus menatap wajah Rian penuh damba.
Ratna memang mengagumi Rian dan tak peduli meski pun pria itu telah beristri.
Ratna ingat bagaimana awal pertemuannya dengan Rian hingga kemudian mereka menjadi dekat layaknya sepasang kekasih.
Ratna bertemu Rian di jalan saat dia pulang dari ziarah ke makam Ricki. Perasaan Ratna yang kacau membuat gadis itu tak menyadari jika ia berjalan terlalu ke tengah dan hampir tertabrak mobil yang dikendarai Rian. Beruntung Rian berhasil mengendalikan mobilnya hingga tak menabrak Ratna.
Rian pun turun dari mobil untuk melihat kondisi Ratna sekaligus menegurnya. Tapi saat melihat wajah Ratna yang basah dengan air mata, Rian pun sadar jika wanita itu sedang tak baik-baik saja.
Karena kondisi menjelang malam dan jalan mulai sepi, maka Rian berinisiatif mengantar Ratna pulang ke rumah. Semula Ratna menolak. Tapi setelah menimbang sejenak, akhirnya Ratna menerima tawaran Rian.
Ratna meminta Rian mengantarnya pulang ke rumah dimana dia dan Ricki berencana tinggal setelah menikah nanti. Tampaknya saat itu Ratna sedang merindukan Ricki dan ingin sedikit bernostalgia dengan datang ke calon istana cinta mereka.
Kondisi rumah tetap rapi dan terawat meski tak seorang pun tinggal di sana. Setelah Fitria dan Aprilia diusir dari sana, Ratna belum memutuskan apa yang akan dilakukan terhadap rumah beserta isinya. Ratna hanya meminta anak laki-laki Kusno untuk membersihkan rumah itu setiap hari. Ratna juga meminta seluruh penerangan dalam rumah itu menyala setiap malam. Alhasil saat tiba di sana Ratna dan Rian mendapati rumah dalam kondisi terang benderang.
__ADS_1
"Mbak Ratna tinggal di sini ?" tanya Rian.
"Iya," sahut Ratna berbohong.
"Bagus banget Mbak, unik. Pasti mahal ya," gurau Rian.
"Untuk pasangan yang dimabuk asmara mah ga ada kata mahal Mas. Iya kan ?" tanya Ratna sambil menatap kearah rumah dengan mata berkaca-kaca.
"Betul juga," sahut Rian cepat sambil tersenyum.
"Mari silakan masuk. Karena Saya ga bisa membalas kebaikan Mas Rian dengan materi, gimana kalo Saya buatin kopi," kata Ratna dengan ramah.
"Oh, ga perlu Mbak. Udah hampir malam. Lebih baik Saya pulang aja," tolak Rian dengan halus.
"Sebentar aja Mas. Saya ga bakal bubuhi sesuatu di kopi itu. Jadi Mas Rian tenang aja.Mas Rian ga bakal ribut sama Istrinya sepulang dari sini kok," gurau Ratna.
Meski diucapkan dengan bergurau namun Rian tahu Ratna sungguh-sungguh dengan ucapannya. Setelah berpikir sejenak Rian pun mengangguk. Ia masuk mengikuti Ratna yang lebih dulu membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.
Saat Ratna masuk ke dapur untuk membuat kopi, Rian mengamati seluruh ruangan dengan cermat. Entah mengapa ada rasa nyaman yang aneh menyelusup masuk ke dalam hatinya. Rasa nyaman itu menuntun Rian untuk duduk dan memejamkan mata di sofa ruang tamu.
Dulu saat ia dan Ricki berkunjung untuk menata rumah itu, Ricki seringkali tertidur dalam posisi duduk karena kelelahan. Kemudian Ratna akan mendekati Ricki sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan makanan ringan persis seperti saat itu.
"Kenapa Aku nyaman sama dia. Tapi ini salah dan ini ga boleh. Dia kan udah punya Istri. Kalo Aku deketin dia, terus apa bedanya Aku sama si April," batin Ratna gusar.
Ratna makin gusar saat melihat cincin platinum melingkar manis di jari Rian. Cincin itu adalah cincin pernikahan Rian dengan Indri. Dia memang selalu mengenakannya sebagai bukti cintanya pada sang istri. Entah mengapa itu membuat Ratna kesal.
"Tak peduli seperti apa nanti. Pokoknya Mas Rian harus Aku miliki," kata Ratna dalam hati sambil menatap Rian lekat.
Ratna terus menatap Rian dalam diam. Ia sengaja tak membangunkan Rian karena tak ingin Rian pergi tergesa-gesa meninggalkannya sendirian di rumah itu.
Sedangkan Rian yang tidur nyenyak dalam posisi duduk nampak tak terusik seolah tak mendengar suara apa pun. Pria itu baru terbangun saat jam dinding berdentang delapan kali pertanda saat itu waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Rian tersentak kaget lalu bergegas memperbaiki posisi duduknya. Sesekali ia mengucek matanya karena tak menyangka bisa tidur senyenyak itu di rumah Ratna.
"Maaf Mbak. Saya ketiduran ...," kata Rian tak enak hati.
__ADS_1
"Gapapa Mas," sahut Ratna sambil tersenyum.
"Kok ga bangunin Saya sih Mbak ?. Ga enak Saya jadinya, bertamu tapi kok malah tidur," kata Rian.
"Abis Mas Rian keliatan capek banget. Makanya Saya ga tega banguninnya. Oh iya, nih kopinya Mas. Udah dingin sih. Kalo mau yang panas biar Saya buatin lagi ya," kata Ratna.
"Oh ga usah Mbak. Yang ini aja. Makasih ya," kata Rian.
"Sama-sama ...," sahut Ratna sambil tersenyum.
Setelah meneguk kopi, Rian pamit undur diri. Ratna pun tak mencegah meski dalam hati sangat ingin menahan Rian di rumahnya. Sebelum Rian pergi, Ratna memberanikan diri meminta nomor telepon Rian. Tanpa curiga Rian memberikan nomor ponselnya begitu saja.
"Kalo ada apa-apa hubungi Saya aja Mbak," kata Rian basa-basi.
"Pasti. Setelah ini jangan kaget ya kalo Saya bakal sering ngerepotin Mas Rian," sahut Ratna sambil tersenyum penuh makna.
Rian pun mengangguk lalu segera melajukan mobilnya perlahan meninggalkan rumah itu.
Ratna pun melepas kepergian Rian dengan senyum mengembang. Kemudian Ratna menatap foto profile WA milik Rian di ponselnya. Di sana Rian nampak tersenyum bahagia sambil memeluk Indri dari belakang.
"Sebentar lagi bukan dia yang Kamu peluk tapi Aku Rian ...," gumam Ratna sambil tersenyum.
Senyum Ratna memudar tiba-tiba saat ponsel yang dipegangnya itu berdering. Ratna mencoba mengatur nafas sambil memperbaiki ekspresi wajahnya saat mengetahui orangtua Ricki lah yang menghubunginya.
"Assalamualaikum Ratna ...," sapa ibu Ricki dari seberang telephon.
"Wa alaikumsalam. Iya, kenapa Bu ?" tanya Ratna.
"Kamu dimana sekarang Nak ?. Kok belum pulang juga ke kamar hotel. Bapak sama Ibu khawatir banget sama Kamu," kata ibu Ricki.
"Lagi di jalan Bu. Sebentar lagi Saya sampe hotel kok," sahut Ratna cepat.
"Ya udah kalo gitu. Hati-hati ya Nak ...," kata ibu Ricki di akhir kalimatnya.
__ADS_1
Ratna pun menghela nafas panjang. Ia harus kembali ke hotel karena tak ingin membuat mantan mertuanya itu cemas. Nampaknya setelah bertemu Rian, Ratna tahu apa yang harus ia lakukan untuk melupakan kesedihannya.
\=\=\=\=\=