
Sejak malam itu Ratna tak pernah lagi keluar rumah. Ia terus mengurung diri di dalam rumah. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minumnya Ratna meminta anak Kusno membeli di warung atau rumah makan.
Meski bingung dengan sikap Ratna yang menutup diri, anak Kusno pun tak berani menegur. Ia hanya mematuhi perintah Ratna yang dilakukan di balik pintu kamar itu semampunya.
Bukan tanpa alasan Ratna terus sembunyi di dalam kamar. Selain merasa putus asa karena tak bisa mendapatkan Rian, Ratna juga merasa malu dengan kondisi kesehatannya yang kian memburuk. Saat itu tubuh Ratna hanya tinggal kulit pembalut tulang. Rambutnya yang panjang pun tak lagi terawat karena rontok helai demi helai.
Saat bercermin pun Ratna hampir tak bisa mengenali dirinya sendiri karena pantulan di cermin sangat jauh berbeda. Tubuhnya terlalu kurus hingga membuat posisi berdirinya sedikit membungkuk. Wajahnya yang makin tirus membuatnya terlihat tua dengan gigi atas yang maju ke depan. Saat tersenyum akan terlihat menyeramkan karena mirip seringai daripada sebuah senyuman. Belum lagi sebagian kepalanya terlihat botak karena rambutnya yang rontok setiap hari.
"Apa itu Aku ?. Kenapa kurus sekali. Lalu wajahku jelek, kusam, pucat seperti mayat. Iiihh ..., pantes aja Rian ga suka lagi sama Aku," gumam Ratna sambil mematut diri di depan cermin.
Karena kesal melihat pantulan dirinya di cermin, Ratna pun memecahkan cermin itu. Ia membiarkan pecahan cermin berhamburan di lantai begitu saja.
Setelahnya Ratna membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia menoleh ke samping ke tempat dimana biasanya Rian berbaring. Dengan tangan gemetar Ratna mengusap tempat kosong di sampingnya itu. Gumaman kecil keluar dari mulutnya. Ia mencoba merapal mantra berharap ada keajaiban yang membawa Rian kembali padanya.
"Kenapa Aku selalu gagal bahagia. Dua orang laki-laki yang Aku cintai dengan tulus tak pernah bisa menghargai cintaku. Jangankan membalasnya dengan cinta yang sama, mereka justru mengkhianati Aku. Ricki ... Kamu membalas kepercayaanku dengan menikahi Aprilia. Dan Rian, kenapa harus Indri yang menguasai hatimu saat Aku jatuh cinta padamu. Aku hanya ingin bahagia, apa itu salah ...?" ratap Ratna sambil menangis.
Tiba-tiba Ratna menghentikan tangisnya saat melihat sosok mirip dirinya tengah berdiri di sudut kamar. Ratna mencoba menajamkan penglihatannya dan terkejut saat menyadari sosok itu memang mirip dengannya tapi bukan dia.
Sosok itu memang mengenakan gaun panjang sama seperti Ratna. Tapi postur tubuhnya lebih tinggi daripada Ratna. Rambutnya pun lebih lebat dibanding Ratna. Dan saat makhluk itu mengangkat kepalanya, Ratna bisa melihat wajah yang hancur dan menghitam.
"Si ... siapa Kamu. Apa maumu ?" tanya Ratna gugup.
Makhluk mirip kuntilanak yang merupakan penunggu ilmu hitam milik Fitria itu nampak menggelengkan kepala sambil menyeringai. Setelahnya ia melayang mendekati Ratna yang sedang berbaring itu. Makhluk itu mendekatkan wajahnya ke wajah Ratna seolah ingin mengukur kemampuan Ratna.
Ratna yang ketakutan mencoba merapal mantra yang tadi dibacanya sekali lagi. Dan makhluk itu menepis sesuatu yang keluar dari dalam tubuh Rtana begitu saja dengan telapak tangannya. Saat sesuatu dari dalam tubuh Ratna membentur dinding dengan keras, Ratna pun terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah segar.
Karena lelah dan ketakutan, Ratna pun jatuh pingsan.
Ratna terbangun keesokan harinya dengan tubuh yang sangat lemah. Ia sadar jika usianya hampir habis. Ratna pun memanggil anak Kusno yang ia ketahui sedang membersihkan rumahnya karena ingin menyampaikan sesuatu. Namun sayang, suara Ratna hilang begitu saja di tenggorokan karena sang maut telah lebih dulu datang menjemput.
Tubuh Ratna menggelepar di lantai dalam kondisi mengenaskan. Kedua mata terbuka dan darah terus mengalir keluar dari sela bibirnya yang pucat itu. Tak lama kemudian Ratna pun tewas tanpa seorang pun menemani untuk melepas kepergiannya.
__ADS_1
Anak Kusno adalah orang pertama yang menemukan jasadnya. Awalnya ia bingung karena Ratna tak juga menyuruhnya membeli makanan padahal waktu telah menunjukkan pukul satu siang. Biasanya Ratna akan memanggilnya berkali-kali hanya untuk memintanya membeli makanan atau apa pun yang Ratna butuhkan.
Karena khawatir, anak Kusno memberanikan diri mengetuk pintu. Saat tak mendengar jawaban, anak Kusno pun berinisiatif naik ke atas kursi dan terkejut saat melihat tubuh Ratna terbaring diam di lantai kamar. Dengan panik ia memanggil warga dan menghubungi ketua RT untuk membantu mengurus jenasah Ratna.
Sebagai orang pertama yang menemukan jasad Ratna, maka polisi pun menginterogasi anak Kusno. Dari mulut pemuda itu diperoleh keterangan jika selama ini Ratna tinggal bersama dengan Rian tanpa ikatan pernikahan.
Usai memperoleh keterangan, polisi pun bergerak cepat. Mereka mencari Rian karena pria itu diduga terlibat dengan kematian Ratna. Karena tak kunjung ditemui, Rian pun menjadi buronan polisi.
Kabar Rian yang masuk daftar pencarian orang atau DPO pun sampai ke telinga Indri. Meski pun hanya berstatus mantan istri, tapi polisi juga mendatangi Indri untuk mengorek informasi.
Awalnya Indri tak tahu menahu tentang itu. Siang itu Indri yang baru saja usai meeting dengan petinggi perusahaan di restoran pun tiba di loby perusahaan lebih dulu. Rima menghampiri Indri lalu menyampaikan jika ada tamu untuknya.
"Selamat siang Bu Indri. Maaf, tadi ada tamu yang minta ijin ketemu sama Ibu," sapa Rima saat Indri melintas di depan meja receptionist.
"Oh ya. Tamu darimana ?" tanya Indri sambil menghentikan langkahnya.
"Dari kepolisian Bu," sahut Rima ragu.
"Ada apa Bu Indri. Kenapa berhenti di sini ?" tanya Adam tiba-tiba.
Indri menoleh dan tersenyum melihat kehadiran Adam. Ia berharap Adam bisa membantunya. Indri pun menceritakan apa yang terjadi hingga membuat Adam ikut bingung.
"Sekarang dimana tamunya ?" tanya Adam sambil menatap ke seluruh penjuru ruangan.
"Beliau bilang masih ada urusan lain di luar dan janji kembali nanti Pak," sahut Rima.
"Kalo nanti datang lagi tolong kabari Saya ya Rim ...," pinta Adam.
"Baik Pak," sahut Rima cepat.
Setelahnya Adam dan Indri naik ke lantai atas melalui lift yang sama.
__ADS_1
"Ada apa ya Mas. Kok perasaan Saya jadi ga enak gini," kata Indri gusar.
"Saya juga ga tau. Coba Kamu ingat-ingat apa belakangan ini Kamu pernah terlibat masalah dengan orang lain. Kecelakaan misalnya ?" tanya Adam.
"Kayanya ga Mas. Sejak bercerai Saya kan ga pernah nyetir sendiri dan selalu pake taxi online kalo supir kantor lagi berhalangan jemput," sahut Indri.
"Gitu ya. Kamu tenang aja Dri. Kalo Kamu ga merasa melakukan kesalahan dan memang ada di pihak yang benar, Saya pasti bakal dukung Kamu," kata Adam tegas.
"Iya Mas, makasih ...," sahut Indri sambil tersenyum.
"Sama-sama. Udah sampe Dri, selamat bekerja ya ...," kata Adam saat Indri keluar lebih dulu dari lift.
Indri pun mengangguk lalu melangkah cepat menuju ke ruangannya.
Saat tiba di ruangan Indri bergegas meraih ponselnya setelah meletakkan tasnya di atas meja. Namun Indri nampak ragu saat akan menghubungi Rian. Entah mengapa Indri merasa jika kedatangan polisi karena ingin mencari Rian yang kini sudah berstatus sebagai mantan suaminya.
Bukan tanpa alasan jika Indri menduga seperti itu. Beberapa hari yang lalu Indri bertemu dengan rekan kerja Rian yang mengatakan perubahan drastis Rian sejak bercerai darinya. Kini Rian suka bertingkah seenaknya dan tak disiplin dalam bekerja.
"Jangan-jangan Mas Rian bikin ulah yang merugikan perusahaan tempatnya bekerja," gumam Indri cemas.
Namun saat ingat jika Rian telah memiliki Ratna sebagai pendamping hidup yang bisa memberi segalanya, Indri pun urung menelepon Rian.
Indri pun menghela nafas panjang beberapa kali. Setelahnya Indri duduk lalu mulai melanjutkan pekerjaannya.
\=\=\=\=\=
Sementara itu di tempat lain Fitria nampak sedang tertawa puas menertawakan sesuatu. Namun tawanya terhenti saat sebuah suara menyapanya.
Fitria menoleh dan tertegun menyaksikan sosok yang lama ia rindukan berdiri tak jauh darinya. Tawa yang tadi menghias wajahnya pun kini berganti dengan kesedihan yang berujung tangis.
\=\=\=\=\=
__ADS_1