Mengejarmu Dengan Pelet

Mengejarmu Dengan Pelet
30. Sasaran Baru


__ADS_3

Benzo bisa bernafas lega karena akhirnya Aprilia mau bekerja di perusahaannya. Meski pun Aprilia memilih menyembunyikan diri dan memilih menjadi karyawan biasa, Benzo sudah sangat puas.


"Biarkan saja Dam. Melihat dia mau kerja di perusahaan aja udah bikin Aku senang. Terserah dia mau di posisi apa. Yang penting Aku bisa terus memantaunya setiap hari," kata Benzo saat Adam melaporkan isi pembicaraannya dengan Aprilia.


"Tapi sayang Om. April kan Sarjana, masa cuma jadi receptionist," kata Adam.


"Sarjana dengan nilai pas-pasan. Mungkin itu yang bikin April minder. Selain itu April emang ga suka kerja di balik meja Dam. Anak itu lebih suka berinteraksi dengan banyak orang. Makanya ga heran dia lebih milih kerja di pabrik yang suasananya bising daripada duduk di ruangan ber-AC yang tenang," sahut Benzo sambil tersenyum.


Adam pun mengangguk paham. Ia memang melihat keengganan April untuk bekerja di perusahaan milik Benzo entah karena apa. Dan saat Aprilia memilih posisi receptionist, Adam hanya bisa mengiyakan. Sebelumnya Adam telah menyiapkan posisi yang jauh lebih baik untuk Aprilia. Tapi karena Aprilia menolak, Adam pun tak bisa memaksa.


\=\=\=\=\=


Sejak Aprilia bekerja di perusahaan milik mantan suaminya, Fitria merasa jauh lebih baik. Ia berharap anak-anaknya bisa memberinya kemewahan yang tak pernah lagi bisa ia dapatkan sejak ia bercerai dengan Benzo.


Namun sayang Fitria nampaknya lupa sesuatu. Penunggu ilmu hitam yang pernah ia gunakan untuk memikat Benzo dan membantu Aprilia mengikat Ricki masih berkeliaran mencari mangsa. Dan makhluk itu sekarang sedang menyasar seorang pria yang merupakan suami dari salah satu karyawati perusahaan Benzo. Dan suami Indri adalah pria yang menjadi korban dari ilmu hitam milik Fitria.


Saat pertama kali diperkenalkan dengan Aprilia, Indri nampak merasa tak nyaman. Ia tak mengerti mengapa ia tak menyukai Aprilia padahal baru kali itu mereka bertemu.


"Sebagai staf di perusahaan ini, Saya ingin Kalian juga mengenal Anak dari pemilik perusahaan ini. Perkenalkan ini Aprilia, Anak kandung Pak Benzo. Karena Aprilia masih ingin belajar mengenal situasi perusahaan, maka untuk sementara dia akan menempati posisi Receptionist," kata Adam pagi itu.


"Selamat pagi semua. Saya Aprilia. Mohon bimbingan dan arahan agar Saya bisa bekerja lebih baik ke depannya," sapa Aprilia dengan ramah.


Semua orang di ruangan itu nampak mengangguk dan tersenyum merespon sapaan Aprilia tapi tidak dengan Indri. Entah mengapa wanita itu nampak menatap tak suka kearah Aprilia. Dinar yang melihat sikap atasan sekaligus sahabatnya itu pun mengingatkan.


"Ga usah kaya gitu ngeliatinnya, Dri. Ntar dia takut. Senyum dikit kan bisa. Lagian ngapain Lo jutek banget sama dia. Emangnya dia pernah bikin masalah sama Lo ?" tanya Dinar sambil berbisik.


Seolah tersadar, Indri pun memperbaiki sikapnya. Ia ikut tersenyum walau enggan. Setelah beramah tamah sejenak mereka pun kembali ke ruangan masing-masing. Aprilia pun langsung menuju meja receptionist dan bergabung dengan Rima, karyawati pertama yang menyambutnya di perusahaan itu.


Baru beberapa jam duduk di balik meja receptionist, Aprilia harus berhadapan dengan seorang pria yang menurutnya bersikap tak sopan. Pria itu adalah Rian, suami Indri.


Rian datang ke perusahaan untuk menemui Indri. Rupanya Rian kesal karena Indri mengganti kode pintu masuk apartemen mereka tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


"Selamat siang, ada yang bisa Kami bantu Pak ?" tanya Aprilia dengan ramah.


Untuk sejenak Rian terpaku mendengar sapaan Aprilia. Entah mengapa Rian merasa jika suara Aprilia mirip dengan suara seseorang yang belakangan mengisi hatinya.


Melihat Rian mematung membuat Aprilia dan Rima saling menatap sejenak dengan tatapan bingung.


"Selamat siang, ada yang bisa Kami bantu Pak ?" ulang Aprilia hingga membuat Rian tersadar.


"Oh, i-iya In-Indri. Maksud Saya, Saya mau ketemu Bu Indri, Manager HRD di sini," sahut Rian cepat.


"Bu Indri sedang keluar Pak. Mungkin sebentar lagi kembali. Kalo Bapak mau, Bapak bisa menunggu di sofa sebelah sana," kata Aprilia dengan santun.


Rian pun berdecak sebal. Ia menolak menunggu di sofa yang ada di loby dan memaksa masuk ke ruangan Indri.


"Kamu ga tau siapa Saya ya ?. Saya ini Suaminya Bu Indri. Seharusnya Saya dipersilakan menunggu di ruangannya dan bukan malah suruh nunggu di loby. Sekarang kasih tau Saya dimana ruangannya, biar Saya tunggu di sana !" kata Rian.


"Maaf, ga bisa Pak. Biar pun Bapak Suami Bu Indri, tapi Bapak adalah tamu di sini. Dan tamu hanya boleh masuk jika tuan rumahnya mempersilakan. Bukan begitu Pak ?" tanya Aprilia dengan berani.


"Saya kenal sama Direktur bahkan pemilik perusahaan ini. Kalo Kamu macem-macem, Saya bisa aja minta mereka buat mecat Kamu. Ngerti ga ?. Karyawan rendahan aja pake bertingkah. Sekarang kasih tau Saya dimana ruangan Bu Indri !" kata Rian lantang.


Aprilia dan Rima hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban dan itu membuat emosi Rian makin memuncak.


Dua orang security yang mengamati dari jauh pun segera mendekati Rian dan menegurnya. Tapi Rian justru marah hingga memaksa security meringkusnya agar tak membahayakan Aprilia dan Rima.


Saat itu bertepatan dengan kedatangan Indri. Wanita itu terkejut saat mengetahui suaminya telah berbuat onar.


"Mas Rian, ngapain Kamu di sini ?!" tanya Indri lantang sambil bergegas menghampiri Rian.


"Maaf Bu. Laki-laki ini ngaku sebagai Suami Ibu dan maksa masuk ke ruangan Ibu. Apa Bu Indri kenal sama dia ?" tanya salah seorang security yang meringkus Rian.


"Iya, ini Suami Saya. Tolong lepasin ya Pak," pinta Indri dengan wajah merah padam menahan malu.

__ADS_1


Dua security mengangguk lalu melepaskan Rian. Setelah terbebas dari cekalan security, Rian pun langsung menghardik Indri.


"Ini lagi. Kemana aja sih Kamu. Kerja apa keluyuran ?!" tanya Rian.


"Langsung aja ke intinya Mas. Mau ngapain Kamu ke sini ?" tanya Indri.


"Aku ke sini gara-gara Kamu ga angkat telepon Aku. Tadi Aku pulang ke apartemen tapi ga bisa masuk karena pinnya salah. Kenapa ganti pin tapi ga ngasih tau Aku. Apa Kamu sengaja ga bolehin Aku masuk ke sana ya ?!" tanya Rian.


"Daripada apartemen itu dipake untuk hal yang ga bener, lebih baik Aku ganti nomor pinnya. Kenapa, Kamu ga suka ?. Kan Kamu yang bilang ga mau pulang lagi. Jadi untuk keamanan, Aku emang sengaja ganti nomor pinnya. Aku juga ganti kunci pintu rumah supaya Kamu ga bisa seenaknya ngajak masuk orang ga jelas Mas," sahut Indri tegas.


Keributan antara Indri dan suaminya membuat suasana loby menjadi panas. Meski mereka bicara dengan nada suara yang tak terlalu tinggi, tapi gestur tubuh Indri dan Rian menunjukkan mereka memang sedang meributkan sesuatu.


"Jangan kurang ajar Kamu. Aku berhak atas apartemen itu karena Aku juga ikut patungan untuk membelinya Indri !" kata Rian.


"Jadi Kamu mulai perhitungan sekarang Mas ?. Ok, kalo itu mau Kamu, ayo Kita berhitung secara adil di pengadilan nanti," sahut Indri sambil menatap Rian lekat.


"Apa maksudmu ?" tanya Rian.


"Aku udah ajuin gugatan cerai di pengadilan Mas. Kita ketemu di sana nanti. Siapin semuanya biar Kamu bisa ambil semua hakmu itu," sahut Indri sambil berlalu.


Ucapan Indri mengejutkan Rian. Entah mengapa mendengar kata cerai dari mulut Indri membuat sisi hati Rian bergetar. Ada rasa tak rela tapi Rian enggan mengakuinya.


"Ok, siapa takut !" sahut Rian sambil melangkah lebar menuju pintu.


Sesekali Rian menoleh untuk melihat Indri. Jauh di lubuk hatinya Rian berharap Indri akan meralat ucapannya dan meminta maaf. Tapi sayang harapan Rian sia-sia. Indri nampak masuk ke dalam lift dan tak menoleh sekali pun kearahnya.


Rian pun menggerutu sambil melangkah cepat ke area parkir.


Di sisi lain terlihat Adam yang berdiri sambil menggelengkan kepala. Rupanya ia sempat menyaksikan ketegangan antara Indri dan Rian saat keluar dari lift tadi. Sekali melihat saja Adam tahu jika ada sesuatu yang tak beres dengan Rian dan itu membuatnya prihatin.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2