
Setelah resign dari pabrik garmen, Aprilia masih belum ingin bekerja lagi. Nampaknya dia masih ingin menikmati 'masa iddahnya' tanpa melakukan apa pun. Namun itu justru membuat Fitria meradang.
"Apa-apaan sih Kamu. Di luar sana perempuan seumuran Kamu tuh lagi giat kerja dan cari pasangan, masa Kamu diem aja di rumah. Kalo kaya gini terus, yang ada Kamu ga bakal bisa jadi apa-apa. Jangan kaya ayam sakit Aprilia !" kata Fitria kesal.
"Ish, apaan sih Mama. Aku ini baru aja ditinggal sama Ricki Ma. Itu artinya Aku punya masa iddah. Nah sebaiknya ...," ucapan Aprilia terputus karena Fitria memotong cepat.
"Lupain masa iddahmu April. Di luar sana ga ada yang tau statusmu. Jadi bangun sekarang, mandi, dandan yang cantik terus cari pasangan sana !" kata Fitria sambil menarik selimut Aprilia.
"Mama nih gimana sih. Yang bener cari kerja atau pasangan Ma ?" tanya Aprilia.
"Terserah !" sahut Fitria sambil membanting pintu.
Aprilia menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya bangkit karena mendengar teriakan sang mama yang membahana di seantero rumah.
\=\=\=\=\=
Adam nampak baru saja turun dari mobil saat tak sengaja melihat Indri dan Dinar sedang duduk di taman kantor.
Sejak ia menjabat jadi direktur, dua rekannya itu juga naik jabatan. Bukan karena KKN, tapi karena kinerja Indri dan Dinar yang memang lebih unggul dibanding karyawan lain. Indri menjadi Manajer Personalia menggantikan Adam, sedangkan Dinar adalah wakilnya.
"Kenapa Kalian masih di sini ?" sapa Adam sambil melangkah mendekati Indri dan Dinar.
"Eh, Mas Adam ...," sahut Dinar sambil tersenyum.
Indri mencubit pinggang Dinar untuk mengingatkan rekannya jika saat itu masih jam kerja. Jadi tak seharusnya mereka memanggil Adam tanpa embel-embel 'Pak'.
"Eh, maaf. Maksud Saya Pak Adam," kata Dinar sambil menutup mulutnya.
"Santai aja Nar, Kita kan cuma bertiga di sini. Ngapain Kalian di sini ?. Terus kenapa Indri, Kamu nangis ya ?" tanya Adam beruntun.
Pertanyaan Adam membuat Indiri dan Dinar tersentuh. Meski pun Adam menduduki posisi tinggi di perusahaan, tapi sikap Adam pada mereka tak berubah. Adam tetap bersikap low profile dan membumi.
"Ehm, begini Mas. Suami Indri ... selingkuh," kata Dinar hati-hati.
"Apa, selingkuh ?. Kok bisa ?" tanya Adam.
Bukan tanpa alasan Adam bertanya seperti itu. Suami Indri yang bernama Rian itu adalah kenalan Adam dan dia tahu betul pria itu sangat mencintai Indri. Mengingat perjuangannya untuk mendapatkan cinta Indri, rasanya Adam tak percaya jika Rian selingkuh.
"Sama siapa ?" tanya Adam kemudian.
"Belum tau namanya, tapi mereka udah sering ketemu," sahut Indri di sela tangisnya.
"Tau darimana kalo mereka sering ketemu ?" tanya Adam.
"Aku ga sengaja denger pembicaraan mereka Mas. Rian bilang suka makan di tempat kemarin daripada tempat sebelumnya. Jadi dia ngajak ketemuan lagi di sana," sahut Indri kesal.
"Mungkin ini cuma salah paham Ndri. Kamu selidiki dulu baik-baik. Kalo terbukti Rian selingkuh, Aku janji bakal bantuin Kamu buat bikin perhitungan nanti," kata Adam.
__ADS_1
"Yang bener Mas ?" tanya Indri.
"Insya Allah. Udah, sekarang sebaiknya Kalian masuk," kata Adam.
"Iya Mas," sahut Indri dan Dinar bersamaan.
"Jangan lupa benerin make up dulu sebelum masuk kantor," kata Adam mengingatkan sambil berlalu.
Indri pun mengamati wajahnya yang belepotan melalui kaca spion mobil. Rupanya lelehan air mata membuat maskara ikut larut hingga membentuk noda kehitaman di pipinya. Indri dan Dinar pun saling menatap kemudian tertawa.
"Udah jadi Bos tapi masih lucu aja," kata Dinar di sela tawanya.
"Iya. Sayang ya cowok sekeren dan sebaik dia harus gagal berumah tangga," sahut Indri sambil memperbaiki make upnya.
"Mungkin Mas Adam terlalu sibuk, makanya Istrinya cari perhatian di luar sana" kata Dinar.
"Atau karena terlalu banyak menuntut sampe lupa kalo Mas Adam cuma manusia biasa yang punya keterbatasan," sahut Indri sambil mencibir namun membuat Dinar tertawa.
Dinar dan lima rekannya tahu jika Adam menikah karena dijodohkan. Hanya karena ingin membalas budi atau sejenisnya. Tapi sayang istri Adam tak bisa meluluhkan pria yang dingin itu. Selain boros, istri Adam juga gemar pamer dan tebar pesona dengan lawan jenis. Dan di pernikahan mereka yang menjelang dua tahun, istri Adam pun 'kepergok' selingkuh. Tanpa mau membuang waktu Adam pun menceraikan istrinya itu.
Dan kini sudah empat tahun lebih Adam menyandang status duda. Banyak wanita yang mencoba mendekat, tapi Adam selalu memasang sikap tak peduli. Adam seolah membangun benteng tinggi di sekelilingnya agar para wanita tak mencoba masuk dan mengusik hatinya.
Selain dengan Indri, Dinar, Winda dan Tasya, Adam sama sekali enggan berinteraksi dengan wanita meski pun itu bawahannya sekali pun. Bahkan saking tak mau didekati wanita, Adam menunjuk karyawan pria untuk menjadi sekretarisnya.
"Udah kan Ndri ?" tanya Dinar setelah beberapa saat menunggu.
Setelah Indri memperbaiki riasannya, ia dan Dinar pun bergegas masuk ke dalam kantor sesuai perintah Adam tadi.
Sementara Adam yang baru saja tiba di ruangannya nampak gelisah. Ia memikirkan ucapan Indri tadi. Ia berjalan ke jendela untuk menatap pemandangan pagi di luar jendela.
"Kok bisa sih. Rian kan bucin abis sama Indri dulu," gumam Adam tak percaya.
Ingatan Adam kembali melayang ke masa itu. Masa dimana Rian datang padanya dan mengatakan kesungguhan perasaannya pada Indri.
"Ngapain ngomong sama Gue sih. Ngomong langsung lah sama orangnya," protes Adam.
"Gue takut ditolak Dam. Kan malu ...," sahut Rian kala itu.
"Ck, Cemen amat sih Lo. Ditolak kan resiko. Kenapa harus takut sih," kata Adam tak mengerti.
"Bukan gitu Dam. Soalnya Gue sayang banget sama Indri. Gue serius mau nikahin dia. Kalo Gue ga bisa nikah sama dia, lebih baik Gue pindah aja ke Batam," sahut Rian.
"Dih, ngambek. Ga lucu tau. Mau ngapain Lo ke Batam ?, jualan cilok ?" gurau Adam.
"Gue serius Dam !. Kalo Gue ga bisa nikah sama Indri, Gue ga mau lagi tinggal di Jakarta. Soalnya semua tempat ngingetin Gue sama Indri," kata Rian dengan mimik wajah sedih.
Melihat wajah Rian kala itu membuat Adam setuju untuk membantu menjadi 'Mak comblang' antara Rian dan Indri. Meski sulit karena Indri juga type cewek yang sedikit bar-bar, tapi berkat kesabaran Rian akhirnya Indri luluh juga.
__ADS_1
Suara dering telepon membuyarkan lamunan Adam. Ia menoleh dan segera meraih ponselnya yang ada di atas meja. Ia tersenyum melihat nama 'Om Benzo' di layar ponselnya.
Untuk sejenak Adam melupakan masalah perselingkuhan Rian dan fokus membahas kerjasama yang baru saja ia tandatangani.
\=\=\=\=\=
Indri nampak sedang gelisah menunggu kepulangan suaminya. Namun tak lama kemudian senyumnya mengembang saat mengetahui Rian pulang.
Namun Indri harus kecewa karena Rian tak menggubris kehadirannya. Jangankan mencium kening seperti kebiasaannya selama ini, menyapa pun Rian enggan.
"Mas ...," panggil Indri.
"Hmmm ...," sahut Rian sambil menanggalkan pakaian.
"Darimana Mas. Kok jam segini baru pulang ?" tanya Indri dengan lembut.
"Pulang kerja Aku ke kafe ketemu sama temenku. Kenapa, ga boleh ?" tanya Rian sambil menatap Indri dengan lekat.
"Oh, boleh kok. Temen Kamu yang mana Mas, Aku kenal kan ?" tanya Indri.
"Ga lah. Ini temen baru, cewek, cantik lagi. Masih muda, kaya juga," sahut Rian tanpa perasaan sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Mendengar jawaban Rian membuat Indri cemburu. Namun ia ingat pesan Adam yang memintanya menyelidiki semuanya sebelum menuduh tanpa bukti.
"Kamu ... Kamu pacaran sama dia Mas ?" tanya Indri hati-hati.
Tak ada jawaban karena Rian sudah mendengkur. Indri menggelengkan kepala melihat sikap suaminya yang tak sehangat dulu.
Perlahan Indri memungut pakaian Rian yang dilempar sembarangan ke lantai. Saat itu lah sebuah benda terjatuh dari saku pakaian Rian.
"Apaan nih ...?" gumam Indri sambil mengamati benda itu dengan seksama.
Namun tiba-tiba Rian bangun lalu merebut benda itu dari tangan Indri. Setelahnya Rian menyembunyikan benda itu di balik pakaian dalamnya hingga membuat Indri membelalakkan mata saking terkejutnya.
"Mas ...," panggil Indri.
"Aku ngantuk Dri, jangan ganggu Aku !" kata Rian sambil mulai memejamkan mata.
"Bilang dulu itu benda apaan Mas," kata Indri tak mau kalah sambil mengguncang tubuh suaminya.
"Berisik !. Kalo Kamu ganggu terus, lebih baik Aku pergi. Kamu mau Aku pergi dan ga balik lagi ke sini Indri ?!" tanya Rian marah.
Indri menggelengkan kepala dengan cepat sebagai jawaban.
"Kalo gitu diem dan jangan sentuh Aku. Denger ya, jangan sentuh Aku !" kata Rian sambil membanting pintu hingga membuat Indri terkejut.
\=\=\=\=
__ADS_1