
Ternyata hari itu sidang perceraian Indri dan Rian mencapai titik akhir. Rian yang tak bisa menyangkal bukti-bukti yang dibeberkan Indri pun harus pasrah menerima kenyataan jika pernikahannya dengan Indri harus berakhir.
Usai sidang Indri pun menjabat tangan semua orang termasuk Rian kecuali Ratna. Lalu Indri melangkah cepat meninggalkan ruangan karena merasa tak nyaman dengan tatapan Rian.
"Indri tunggu ...!" panggil Rian saat Indri hampir mencapai ambang pintu.
Indri pun menoleh sebentar namun terus melanjutkan langkahnya. Rian yang penasaran pun masih ingin mengejarnya namun Ratna menghalanginya.
"Ga usah dikejar Mas. Dia bukan siapa-siapa Kamu lagi sekarang !" kata Ratna.
Rian pun menoleh kearah Ratna lalu menghentikan langkahnya. Dari sudut ruangan pengacara Indri yang melihat bagaimana patuhnya Rian pada Ratna pun hanya bisa menggelengkan kepala. Sesaat kemudian pengacara Indri pun keluar menyusul Indri dan tak sengaja melintas di hadapan Rian.
"Bisa Kita bicara sebentar ?" tanya Rian penuh harap.
"Hanya Kita," sahut pengacara Indri.
"Baik. Ratna, tolong tinggalkan Kami. Aku perlu bicara sama pengacaranya Indri sebentar," pinta Rian sambil menatap Ratna.
"Tapi Mas ...," ucapan Ratna terputus saat Rian memotong cepat.
"Aku sudah bercerai dengan Indri. Apalagi yang Kamu ragukan Ratna ?" tanya Rian.
Ratna pun menghela nafas panjang lalu segera melangkah keluar ruangan meninggalkan Rian dan pengacara Indri.
Saat tiba di luar ruangan Ratna berpapasan dengan Adam. Mereka sama-sama terdesak karena koridor dipadati banyak orang. Rupanya mereka adalah para pewarta yang sedang mengejar berita perceraian salah seorang artis ternama ibukota.
Berdiri dalam jarak yang sangat dekat memungkinkan Adam mengetahui sesuatu yang Ratna sembunyikan. Dan Adam pun terkejut saat mengetahui Ratna memang menggunakan sesuatu untuk memikat Rian.
"Jadi begitu rupanya. Pantesan Rian ga berkutik dan patuh banget sama dia," kata Adam dalam hati.
Diam-diam Adam menarik selembar rambut Ratna lalu menggenggamnya dengan erat. Setelah berhasil lepas dari kerumunan para wartawan, Adam pun bernafas lega. Sedangkan Ratna masih harus berjuang untuk bisa keluar dari kerumunan wartawan itu. Dan akibat desakan para wartawan membuat Ratna tak menyadari jika rambutnya dicuri oleh Adam.
Setelahnya Ratna duduk di salah satu kursi yang ada di taman. Dari tempat duduknya ia bisa melihat Indri sedang bicara dengan dua rekannya. Ratna tersenyum puas karena berhasil memisahkan Indri dan Rian. Namun senyumnya memudar saat tatapannya bertemu dengan tatapan Adam. Ratna segera mengalihkan tatapannya kearah lain karena tak kuasa menentang tatapan Adam.
"Ada apa Mas ?" tanya Dinar sambil mengikuti arah tatapan Adam.
"Lagi ngeliatin wanita teman Rian itu. Ternyata wanita itu yang udah bikin Rian berpaling dari Indri," sahut Adam.
__ADS_1
"Tapi Saya ga peduli lagi Mas. Saya udah muak dan jijik sama Rian," sela Indri.
"Jangan gitu Dri. Gue tau kalo Lo cinta mati sama Rian. Ntar kalo marah Lo udah reda, Lo pasti mau diajak balik lagi sama Rian. Nah, kalo udah kaya gitu kan Lo yang malu karena udah menjilat ludah sendiri," kata Dinar mengingatkan.
"Gue serius Nar. Gue emang ga pernah kasih maaf untuk perselingkuhan dan perzinahan. Dan Gue ga perlu berpikir ulang andai dia ngajak balikan karena Gue emang ga mau balik lagi sama dia," sahut Indri tegas.
"Kalo urusan di sini udah selesai, bisa kan Kita pergi dari sini sekarang Dri ?" tanya Adam.
"Bisa Mas. Ayo Kita keluar cari angin. Sambil ngopi pasti enak. Tapi tolong biarin Saya yang traktir kali ini ya. Karena Saya senang bisa mengakhiri pernikahan yang ga sehat ini," sahut Indri sambil tersenyum.
Adam dan Dinar saling menatap sejenak kemudian mengangguk setuju. Tak lama kemudian ketiga sahabat itu nampak meninggalkan area pengadilan agama.
\=\=\=\=\=
Rian sedang duduk di teras rumah saat Ratna datang mendekat. Rian nampak tak peduli dengan kehadiran Ratna yang membawa dua gelas kopi.
"Kopinya Mas ...," kata Ratna.
"Hmm ...," sahut Rian.
"Mikirin apa lagi sih Mas. Kok serius banget keliatannya ?" tanya Ratna pura-pura tak tahu.
Jawaban singkat Rian justru membuat Ratna naik pitam. Ratna tak menyangka jika Rian masih memikirkan mantan istrinya itu padahal ada dia di sisinya.
"Apa lagi yang Kamu pikirin Mas. Indri aja selapang itu menghadapi perceraian Kalian. Masa Kamu ga bisa. Lagian Kamu udah punya Aku sekarang. Apa Aku ga cukup baik menggantikan Indri ?!" kata Ratna marah.
Rian menoleh kearah Ratna lalu memandangnya dengan lekat.
"Kamu ga sebanding sama Indri. Dia jauh lebih baik dari Kamu. Dan Aku menyesal bercerai dengannya. Andai aja Aku ga terpengaruh sama Kamu, Aku yakin Indri masih jadi Istriku," kata Rian dingin lalu beranjak meninggalkan Ratna sendiri.
Ucapan Rian mengejutkan Ratna. Ia tak menyangka pria di hadapannya akan mampu mengucapkan kalimat yang melukai hatinya. Ratna menatap punggung Rian yang menjauh dengan tatapan nanar.
"Ada apa ini ?. Kenapa Rian berubah. Padahal kemarin semuanya masih baik-baik aja. Jangan-jangan pengaruh pelet yang Aku kirim udah mulai luntur," gumam Ratna cemas.
Ternyata tanpa Rian sadari, ia telah masuk perangkap yang dibuat Ratna. Awalnya Ratna hanya terpikat dengan kebaikan Rian. Ratna ssngaja memancingnya agar selalu datang tiap kali ia menghubungi via telepon. Seperti janji Rian sebelumnya, dia selalu datang tiap kali Ratna membutuhkannya. Meski diucapkan asal namun membuat Ratna menganggap serius janji itu.
Karena pertemuan yang intens perlahan membuat Ratna jatuh cinta pada pesona Rian dan berambisi untuk memilikinya. Namun lama kelamaan cinta Ratna berubah menjadi obsesi yang justru melukai Rian. Terbukti Rian bercerai dengan Indri. Meski itu memenuhi harapan Ratna namun justru membuat luka di hati Rian.
__ADS_1
Ratna pun bangkit dari duduknya. Ia menjauh dari rumah hanya untuk menghubungi seseorang.
"Ada apa Ratna ?" sapa sebuah suara dari seberang telephon.
"Apa-apaan nih Om. Katanya yang sekarang bisa bikin dia bertekuk lutut selamanya. Tapi mana buktinya ?. Aku udah bayar mahal ya. Tapi kenapa sikap Rian sama Aku justru berbeda sekarang ?!" kata Ratna ketus.
"Masa sih ?" tanya suara di seberang telephon tak percaya.
"Aku ga bohong Om !" sahut Ratna setengah memekik.
"Mungkin Kamu ga sengaja melanggar pantangannya Ratna," kata pria di seberang telephon.
"Ga ada !. Aku ga makan pantangan dan ga melakukan yang dilarang. Pokoknya Aku ga mau tau. Om harus bantu Aku ngiket dia lebih keras lagi !" kata Ratna.
"Jangan terlalu keras mengikatnya Ratna. Dia bisa gila nanti," kata pria dari seberang telephon mengingatkan.
"Itu lebih baik. Daripada dia sehat tapi dimiliki wanita lain, lebih baik dia gila biar ga ada satu pun wanita yang mau sama dia kecuali Aku," sahut Ratna di akhir kalimatnya.
Setelah mengucapkan kalimat itu Ratna berbalik. Ia terkejut melihat Rian duduk di tempat semula sambil menatap lekat kearahnya.
"Apa dia denger semua ucapanku tadi ya. Tapi ga mungkin. Jarak teras ke sini kan lumayan jauh," gumam Ratna khawatir.
Untuk sejenak Ratna masih berdiri di tempat semula sambil merapal mantra untuk menaklukkan Rian. Dan berhasil. Tatapan Rian yang semula dipenuhi kecurigaan itu perlahan memudar lalu berganti dengan tatapan lembut dan penuh cinta.
"Ratna. Ngapain Kamu berdiri di sana ?. Apa Kamu sengaja membiarkan tubuhmu jadi santapan nyamuk ?" tanya Rian.
Ucapan Rian membuat Ratna tersenyum. Ia bahagia karena menganggap pria di seberang telephon tadi telah membantunya menaklukkan Rian lagi. Ratna pun bergegas menghampiri Rian lalu duduk di sampingnya.
"Ngapain sih berdiri di sana ?" ulang Rian.
"Aku tertarik sama bunga sedap malam yang mekar di pojok sana Mas, makanya Aku ke sana sebentar. Eh, kopinya kok belum diminum Mas ?" tanya Ratna mengalihkan pembicaraan.
"Iya, ini juga mau minum. Kamu minum juga kan ?" tanya Rian.
"Iya dong Mas. Aku kan sengaja bikin dua gelas supaya bisa ngopi bareng sama Kamu," sahut Ratna antusias.
Rian pun tersenyum lalu menyodorkan segelas kopi kearah Ratna.
__ADS_1
Dengan senang hati Ratna menerima gelas berisi kopi pemberian Rian lalu meneguknya perlahan. Tanpa Ratna sadari, dia salah meminum kopi. Kopi yang sedianya akan ia berikan pada Rian justru telah ia teguk sendiri hingga tersisa setengah gelas.
\=\=\=\=\=