
Tanpa Ratna sadari sebenarnya saat itu Aprilia juga ada di sana dan melihat apa yang terjadi. Aprilia juga mendengar jelas perdebatan Ratna dan Rian tadi.
Awalnya Aprilia dan Rima yang memang telah menjadi teman dekat memutuskan untuk makan siang di tempat itu karena letaknya tak terlalu jauh dari perusahaan. Saat tiba di sana mereka pun terpaksa duduk dekat area parkir karena rumah makan sangat padat siang itu.
"Di sini aja gapapa Pril ?" tanya Rima.
"Iya, abis mau gimana lagi. Emang cuma tempat ini yang kosong kan ?" tanya Aprilia.
"Sebenarnya kalo boleh milih sih Aku lebih suka di dalam sana. Lebih luas dan adem," sahut Rima.
"Iya. Lain kali Kita pasti bisa duduk di dalam. Sekarang buruan pesen gih, Aku udah lapar nih," pinta Aprilia.
Rima pun mengangguk lalu bergegas menghampiri meja pemesanan. Sedangkan Aprilia duduk menunggu sambil mengamati sekelilingnya. Saat itu lah matanya tak sengaja melihat Rian sedang bercengkrama bersama teman-temannya sambil makan siang.
"Ngeliatin siapa sih Pril, serius amat," tegur Rima.
"Cowok yang lagi makan di meja itu mirip sama Suaminya Bu Indri ga sih ?" tanya Aprilia ragu.
"Emang itu dia kok. Kenapa, bingung ya ngeliat dia bisa seasyik itu sama temen-temennya ?" tanya Rima.
"Iya. Padahal waktu ke kantor jutek banget dan kaya ga punya sopan santun. Kok bisa ya, cowok kaya gitu punya temen banyak," sahut Aprilia.
Rima nampak menggedikkan bahu dengan enggan karena tak tertarik membahas Rian. Aprilia pun menyudahi pembahasan tentang Rian karena tak mengenal Rian secara pribadi.
Namun tak lama kemudian Aprilia melihat Rian berjalan keluar sambil menarik lengan seorang wanita yang tak lain adalah Ratna. Rian juga membawa Ratna ke area parkir tepat di samping meja makan Aprilia dan Rima. Dan di sana lah terjadi perdebatan antara Rian dan Ratna.
Setelah berdebat Rian masuk ke dalam rumah makan sedangkan Ratna melenggang pergi.
"Jadi Bu Indri udah cerai sama Suaminya gara-gara Ratna. Kok bisa ya ?. Apa jangan-jangan Ratna juga pake pelet untuk memikat laki-laki itu. Kalo emang bener, kenapa kebetulan banget sih," kata Aprilia dalam hati.
__ADS_1
Dan Aprilia terus membawa pikiran tentang Ratna hingga kembali ke kantor. Bukan tanpa alasan Aprilia memikirkan Ratna. Sebab saat Ratna meninggalkan rumah makan itu siang tadi, Aprilia melihat sosok makhluk yang mirip dengan peliharaan sang Mama sedang mengikuti Ratna.
Entah mengapa Aprilia merasa khawatir dengan keselamatan Ratna. Aprilia berniat menanyakan apa yang terjadi pada sang Mama nanti.
\=\=\=\=\=
Rasa sakit hati dan kecewa yang dirasakan Ratna akibat sikap Rian membuatnya tak bisa mengendalikan diri. Ratna pun datang menemui asisten dukun untuk meminta bantuan sekali lagi.
Saat tiba di rumah sang asisten dukun yang dipanggilnya Om itu, suasana rumah sedang ramai. Banyak orang yang datang ke sana untuk meminta bantuan si Om yang dikenal sebagai perantara dukun terkenal itu.
Ratna pun duduk di salah satu kursi kosong yang tersedia. Saat melihat Ratna ada diantara para tamu, sang asisten dukun nampak terkejut. Dia melihat penampilan Ratna yang jauh berbeda dari sebelumnya. Wajah Ratna terlihat sangat pucat dengan tubuh kurus kering seolah tanpa sari kehidupan. Meski pun ditutupi dengan make up dan out fit mahal serta perhiasan yang banyak, namun tak bisa menutupi kondisi Ratna yang sesungguhnya. Pria itu hanya bisa menatap iba kearah Ratna karena tahu jika Ratna sedang sekarat.
Meski penasaran dengan apa yang terjadi pada diri Ratna, namun pria itu tak bisa langsung menghampiri Ratna. Ia harus menghormati peraturan bahwa semua tamu yang datang hanya bisa dibantu sesuai urutan kedatangan.
Karena jenuh menunggu, Ratna pun sempat keluar dari rumah beberapa kali untuk mencari udara segar. Dan menjelang pukul sembilan malam Ratna baru bisa menemui sang Om karena saat itu semua tamu sudah pulang.
"Om ...," panggil Ratna saat sang Om mengantar tamu terakhir hingga ke teras rumah.
"Aku ga bisa pulang kalo urusanku belum selesai Om," sahut Ratna cepat.
Ucapan Ratna membuat pria itu tersentak kaget. Pria itu menatap Ratna lekat lalu menghela nafas panjang.
"Apa lagi yang Kamu mau Ratna ?" tanya pria itu kemudian.
"Kenapa Rian berubah Om ?. Kenapa sekarang dia menjauh dariku. Dia bahkan tega ngatain Aku pelakor ...," sahut Ratna gusar.
"Kok bisa ?" tanya pria itu tak percaya.
Ratna pun menceritakan apa yang terjadi termasuk kalimat pedas yang dilontarkan Rian padanya. Selama Ratna bercerita, pria itu terus mengamati Ratna.
__ADS_1
"Kamu sudah melanggar pantangan Ratna ...," kata pria itu usai Ratna berkeluh kesah.
Meski pun diucapkan dengan santai namun berhasil membuat Ratna terkejut bukan kepalang.
"Aku melanggar pantangan ?. Pantangan yang mana Om ?" tanya Ratna tak percaya.
"Aku ga tau. Tapi melihat kondisimu sekarang, rasanya ibarat senjata makan tuan. Kamu yang ingin mengikat Rian, tapi justru Kamu yang terbelenggu dalam lingkaran hitam. Kamu ga bisa keluar dari sana Ratna. Dan Pak Tua juga ga bisa membantumu," sahut pria yang dipanggil Om itu sambil menggelengkan kepala.
"Maksud Om apa sih ?. Belenggu apa dan kenapa Pak Tua ga bisa bantu Aku ?!" tanya Ratna ketakutan.
Pria yang dipanggil Om itu mengabaikan pertanyaan Ratna. Ia berbalik lalu bersiap menutup pintu. Tentu saja itu membuat Ratna panik. Ia datang ke sana dan rela menunggu berjam-jam hanya agar bisa mendapat bantuan untuk menaklukkan Rian. Tapi bukan bantuan yang didapat melainkan vonis kejam yang didengarnya.
"Om ..., tolong kasih tau Aku apa yang terjadi," pinta Ratna menghiba sambil menahan daun pintu yang akan tertutup itu dengan telapak tangannya.
"Kamu mengonsumsi sesuatu yang telah dimantrai yang seharusnya Kamu berikan ke Rian. Sampe sini apa Kamu paham Ratna ?" tanya pria itu sambil menatap Ratna dengan lekat.
Ratna tersentak kaget. Ia mencoba mengingat kesalahan apa yang telah ia lakukan. Tubuh Ratna pun membeku saat ingatannya kembali melayang ke saat ia menghubungi pria itu untuk meminta bantuannya yang ke sekian kali. Ratna ingat saat itu ia sangat marah karena Rian menyindirnya dengan kalimat yang pedas. Tapi semua kembali normal usai Ratna menghubungi pria di hadapannya itu.
Namun setelah malam itu semua berubah 180°. Rian yang awalnya masih bisa ia kuasai meski masih melakukan 'perlawanan kecil', perlahan mulai tak terkendali. Bahkan Rian tak pulang ke rumah dan meninggalkannya begitu saja tanpa kabar berita seolah mereka tak pernah punya hubungan apa pun selama ini.
"Ko-kopi itu. Apa kopi itu Om ...?" tanya Ratna ragu.
"Betul. Dan sesuatu yang lain yang ada di sekitarmu sedang mengejarmu. Dia jauh lebih dulu ada, itu sebabnya Pak Tua ga mau turun tangan. Bukan karena ga bisa tapi karena Pak Tua ga mau bersinggungan. Jadi sebaiknya Kamu pergi dari rumah ini sekarang Ratna. Aku ga mau Kamu membawa pengaruh buruk untuk rumah ini," sahut pria itu sambil mendorong tubuh Ratna agar tak menghalangi pintu.
Kalimat terakhir pria itu membuat Ratna tertegun. Sesaat kemudian wanita itu pun menangis.
"Jadi Aku sekarat Om ...?!" tanya Ratna dari balik pintu dengan suara yang parau.
Tak ada jawaban. Pria yang dipanggil Om itu justru memadamkan seluruh lampu sebagai jawaban. Dalam sekejap rumah dan sekitarnya menjadi gelap gulita. Ratna pun tahu artinya.
__ADS_1
Dengan terpaksa Ratna pergi meninggalkan tempat itu karena sang penghuni rumah tak lagi sudi membantunya.
\=\=\=\=\=