
Matahari baru saja terbit. Sinarnya yang hangat dan lembut menyapa bumi. Membuat embun yang menggantung di ujung dedaunan nampak menguap perlahan. Udara pagi yang dingin tak mampu menandingi dinginnya hati Aprilia karena kepergian Ricki.
Kepergian Ricki untuk menemui Sang Khaliq ternyata telah membuat hati Aprilia yang semula berwarna mendadak membiru dan beku seolah mati.
Aprilia masih terisak sambil duduk menekuri gundukan tanah di hadapannya. Gundukan tanah itu adalah makam Ricki, suami yang ia nikahi secara siri.
Aprilia tak mengerti mengapa Ricki pergi. Meski Aprilia tak terlalu mencintainya, tapi Aprilia tak siap untuk kehilangan secepat itu. Yang Aprilia ingat hanya ia dan Ricki baru saja bicara banyak hal. Tentang cinta, tentang masa depan mereka dan juga tentang anak. Ya, ternyata Ricki menginginkan keturunan dari Aprilia.
Aprilia kembali menangis mengingat permintaan terakhir Ricki.
\=\=\=\=\=
Dua hari yang lalu.
Ricki terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit atas rujukan dokter Helmi.
Saat Aprilia tiba di klinik pabrik, kondisi Ricki memang mengkhawatirkan. Ia segera mendekat dan menyentuh wajah Ricki dengan telapak tangannya. Aprilia tersentak saat merasakan permukaan kulit Ricki yang dingin.
"Rick ... Rickiii ...," panggil Aprilia dengan suara tercekat dan tangan gemetar.
Suara Aprilia berhasil menyadarkan Ricki. Pria itu siuman dari pingsannya. Ia membuka mata lalu tersenyum kearah Aprilia. Melihat hal itu membuat dokter Helmi tersentuh.
"Cinta memang ajaib. Hanya dengan sentuhan dan panggilan dari Mbak April bisa membuat Pak Ricki siuman. Padahal Kami sudah mencoba sejak tadi untuk membangunkannya tapi gagal," kata dokter Helmi hingga membuat Aprilia tersipu malu.
"Masa sih dok ?" tanya Aprilia.
"Iya. Nah, sekarang tolong temani Pak Ricki sebentar ya. Saya mau ngecek pasien di sebelah," kata dokter Helmi.
"Baik dok," sahut Aprilia sambil tersenyum.
Dokter Helmi bergegas ke bilik sebelah dimana Yuna berada. Tempat Ricki dan Yuna berada memang hanya dipisah dengan sekat terbuat dari alumunium berukuran panjang dua meter dan tinggi satu setengah meter.
Setelah mengecek kondisi Yuna, dokter Helmi meminta perawat memberikan cairan infus agar tubuh Yuna yang lemah bisa sedikit bugar.
"Bukannya ini aneh ya dok," kata sang perawat.
"Aneh apanya Sus ?" tanya dokter Helmi.
__ADS_1
"Pasien ini pingsan udah dua jam lebih. Masa daritadi ga siuman juga," sahut sang perawat.
"Tadi kan sempet siuman Sus," kata dokter Helmi mengingatkan.
"Iya, tapi kan cuma sedetik dok. Setelah itu pingsan lagi dan belum siuman juga sampe sekarang," sahut sang perawat.
"Kita tunggu sampe tengah hari ya Sus. Kalo masih ga siuman juga, Kita kirim dia ke Rumah Sakit untuk ditangani lebih lanjut. Saya khawatir benturan di kepalanya tadi mengganggu fungsi beberapa saraf di otaknya," kata dokter Helmi.
"Baik dok," sahut sang perawat sambil mengangguk.
Pembicaraan dokter Helmi dan sang perawat juga didengar oleh Aprilia. Tentu saja itu membuat Aprilia prihatin. Meski hubungannya dengan Yuna memburuk belakangan ini, namun Aprilia masih menyayangi Yuna.
Tiba-tiba Aprilia merasa genggaman tangan Ricki di jemarinya mengerat. Aprilia menoleh dan terkejut melihat wajah Ricki yang semakin pucat dengan kedua mata yang mendelik ke atas.
"Ricki !. Kamu kenapa Rick ?. Dok, dokter ...!. Tolong Suami Saya dok ...!" kata Aprilia lantang.
Suara lantang Aprilia membuat dokter dan perawat bergegas datang untuk mengecek kondisi Ricki. Sesaat kemudian dokter Helmi menghubungi Rumah Sakit karena khawatir dengan keselamatan Ricki.
Sempat terjadi ketegangan antara Aprilia dan Tania karena Tania melarang Aprilia pergi.
Sebelumnya Tania yang mendengar suara sirine mobil Ambulans memasuki pabrik nampak keluar untuk melihat apa yang terjadi. Tania pun menghampiri mobil Ambulans karena ingin tahu siapa yang akan dipindahkan ke Rumah Sakit. Ia terkejut mengetahui Ricki lah yang akan dipindahkan ke Rumah Sakit.
"Mau kemana Kamu ?. Ini masih jam kerja dan tugasmu belum selesai Aprilia !" kata Tania.
"Lepasin sia*an. Gue mau ikut ke Rumah Sakit !" kata Aprilia dengan marah hingga mengejutkan Tania.
"Berani Kamu menentang Saya Aprilia ?. Saya bilang masuk !" kata Tania sambil menarik lengan Aprilia dan menyeretnya beberapa langkah.
"Lepasin dia Bu Tania !. Biarkan Mbak April mendampingi Suaminya ke Rumah Sakit. Pak Ricki pasti membutuhkannya nanti !" kata dokter Helmi dengan lantang.
Ucapan dokter Helmi tak hanya mengejutkan Tania tapi juga Aprilia. Nampaknya Aprilia lupa jika dia lah yang telah mengakui status pernikahannya dengan Ricki tadi.
Saat Tania mengendurkan cengkraman tangannya, Aprilia pun bergegas lari lalu masuk ke dalam mobil Ambulans menemani Ricki. Setelah Aprilia masuk, mobil Ambulans pun bergerak perlahan lalu melaju meninggalkan area pabrik.
Dokter Helmi menoleh dan tersenyum saat mendapati Tania masih berdiri di sampingnya.
"Apa Aprilia beneran Istrinya Pak Ricki, dok ?" tanya Tania dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Iya. Saya denger dia menyebut Pak Ricki dengan sebutan Suami tadi," sahut dokter Helmi mantap.
Saat Tania membuka mulut untuk bertanya lagi, suara perawat terdengar lantang memanggil dokter Helmi. Pria itu bergegas masuk ke dalam klinik meninggalkan Tania seorang diri.
"Jadi, Gue emang kalah sejak awal. Aprilia ..., Gue ga nyangka Lo bisa memenangkan dia," gumam Tania sambil mengepalkan tangannya.
Untuk sejenak Tania nampak berusaha mengatur nafasnya. Ia menghela nafas panjang sekali lagi lalu kembali melangkah. Bayangan wajah kecewa Agnes membayang jelas di pelupuk matanya.
"Sorry Agnes, Gue gagal. Ternyata mereka sudah terikat entah sejak kapan," batin Tania sambil tersenyum kecut.
Tania terus melangkah sambil mengingat permintaan Agnes, sepupunya yang pernah bekerja di pabrik itu.
Meski pun Agnes adalah karyawan teladan, tapi Agnes tetap tersingkir dari perusahaan itu hanya karena dia berani menyinggung Aprilia. Dan Tania masuk ke perusahaan itu atas rekomendasi Agnes.
Awalnya Tania datang untuk menekan 'Aprilia'. Tapi saat melihat Ricki, Tania pun tertarik dan mencoba memikatnya. Namun sayang usahanya gagal karena Ricki telah memiliki Aprilia.
Sementara itu Ambulans yang membawa Ricki melaju cepat membelah kepadatan jalan raya. Perawat dan dokter yang ada di dalam mobil Ambulans nampak berusaha memberi pertolongan pada Ricki yang semakin kritis.
Di sisi lain Aprilia hanya bisa menangis menyaksikan suaminya terkapar tak berdaya.
"Apa ini. Kenapa jadi begini Rick ...?" tanya Aprilia berkali-kali dalam hati sambil mengusap air matanya.
Aprilia merasa sangat cemas. Ia tak pernah menghadapi situasi seperti itu selama hidupnya.
Aprilia menoleh dan menghela nafas lega saat mobil Ambulans memasuki Rumah Sakit. Ia berharap Ricki bisa mendapat pertolongan yang maksimal mengingat peralatan di Rumah Sakit yang jauh lebih memadai.
Aprilia pun terus mengikuti pergerakan para tenaga medis yang membawa Ricki masuk dengan brankar.
"Maaf Bu, Ibu ga bisa ikut masuk. Ibu tunggu di luar aja ya," kata seorang perawat dengan santun saat Aprilia ingin menerobos pintu masuk ruang UGD.
"Tapi Suster ...," ucapan Aprilia terputus karena sang perawat memotong cepat.
"Maaf Bu, tapi memang begitu peraturannya. Selain itu Kami akan lebih leluasa melakukan pertolongan pasien jika keluarga pasien percaya pada Kami," kata sang perawat dengan tegas.
Aprilia mengangguk lalu mundur. Ia memilih duduk di ruang tunggu. Sesekali matanya tertuju ke pintu ruang UGD. Aprilia berharap Ricki bisa segera pulih. Tapi sayang harapan Aprilia tak terwujud.
Setelah kritis selama hampir dua puluh jam, Ricki dinyatakan meninggal dunia tepat saat jam menunjukkan pukul dua dini hari keesokan harinya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=