Mengejarmu Dengan Pelet

Mengejarmu Dengan Pelet
24. Hengkang


__ADS_3

Aprilia kembali menangis mengingat saat menghadapi berita kematian Ricki. Saat itu Aprilia masih di Rumah Sakit dan masih duduk di ruang tunggu.


Sebelumnya beberapa rekan Aprilia datang untuk menjenguk Ricki. Namun karena Ricki masih ditangani dokter dan belum boleh dijenguk, terpaksa mereka duduk di ruang tunggu.


Diantara mereka ada Lisa yang ikut datang sambil membawakan tas milik Aprilia yang tertinggal di lockernya.


"Makasih ya Lis. Maafin sikap Gue yang kasar selama ini," kata Aprilia dengan mata berkaca-kaca saat menerima tas yang disodorkan oleh Lisa.


"Iya Pril, sama-sama ...," sahut Lisa sambil tersenyum.


"Mmm ..., gimana Yuna. Apa dia masih pingsan di klinik ?" tanya Aprilia.


"Oh ga kok. Alhamdulillah Yuna udah siuman dan dibolehin pulang pas jam istirahat," sahut Lisa.


Aprilia pun menghela nafas lega mendengar berita baik itu.


"Eh, Pril. Sekarang di pabrik lagi rame sama berita tentang Lo sama Pak Ricki. Lo mau tau ga ?" tanya salah seorang rekan kerja April tiba-tiba.


"Bukannya tiap hari gosip tentang Gue selalu ada ya ?" gurau April.


"Ck, iya sih. Tapi yang ini beda Pril," kata rekan April lainnya.


"Beda apanya ?" tanya April.


"Gue denger Lo sama Pak Ricki udah married. Emang bener Pril ?" tanya rekan April.


April terdiam sejenak. Ia tahu berita itu cepat atau lambat akan tersebar. Perlahan Aprilia menganggukkan kepalanya dan itu membuat semua rekannya termasuk Lisa terkejut.


"Yang bener Pril ?. Sejak kapan ?" tanya Lisa.


"Udah hampir sebulan," sahut Aprilia.


Jawaban Aprilia membuat suasana di ruang tunggu yang seharusnya tenang itu pun menjadi gaduh oleh suara jeritan rekan-rekan Aprilia. Bahkan karena terlalu gaduh, rekan-rekan Aprilia diminta keluar oleh security.


Lamunan Aprilia pun buyar saat suara yang akrab di telinganya terdengar menyapa.


"Aprilia ...!" panggil Benzo.


Aprilia mendongakkan kepalanya dan terkejut saat mengetahui Benzo ada di sana. Walau Benzo datang ditemani asistennya, tapi tetap membuat Aprilia terkejut sekaligus bahagia.


"Masih berapa lama lagi Kamu akan menangis di sini Aprilia ?" sapa Benzo lagi.

__ADS_1


"Papa ...," panggil Aprilia dengan suara tercekat.


"Iya ini Papa. Kemari lah Aprilia ...," panggil Benzo sambil merentangkan kedua tangannya.


Aprilia pun bangkit dari posisi bersimpuhnya lalu menghambur ke pelukan Benzo. Tangis Aprilia pun pecah di pelukan sang papa. Benzo mengusap punggung Aprilia dengan lembut seolah ingin memberi kekuatan pada putrinya.


"Papa bahkan belum sempet kenalan sama Suamimu itu Nak ...," kata Benzo dengan nada kecewa.


"Maafin April, Papa. Maaf ...," kata Aprilia terisak.


"Iya Nak. Papa udah maafin Kamu. Papa tau Kamu ga sengaja melakukan ini," sahut Benzo sambil mengecup kening Aprilia dengan lembut.


Aprilia pun mengangguk lalu mengurai pelukannya.


"Papa tau darimana Aku di sini ...?" tanya Aprilia kemudian.


"Papa selalu tau dimana Kamu, Banyu dan Cheri berada. Kamu ga lupa kan siapa Papa ?" gurau Benzo sambil menaik turunkan alisnya.


Ucapan Benzo membuat Aprilia tersenyum. Ia sempat merutuki pertanyaan bodohnya tadi. Bagaimana ia bisa lupa siapa sang papa. Karena untuk seorang Benzo, tak akan sulit melacak keberadaan ketiga anaknya meski pun mereka tak tinggal seatap.


"Iya iya, Aku tau ...," kata Aprilia malu-malu hingga membuat Benzo tersenyum.


"Aku ga bisa tidur Pa. Aku selalu inget sama Ricki. Aku ...," ucapan Aprilia terputus saat air mata kembali membayang di pelupuk matanya.


Melihat hal itu Benzo pun iba lalu menarik Aprilia ke dalam pelukannya.


"Kamu pasti belum sarapan kan ?. Papa juga. Gimana kalo Kita cari sarapan yang enak di sekitar sini ?" tanya Benzo.


"Aku ga lapar Pa," sahut Aprilia sambil menggelengkan kepala.


"Tapi Papa lapar Pril. Apa Kamu tega biarin Papa yang tua ini sakit gara-gara ga sarapan ?. Kamu temenin Papa cari makan ya, Ok ?" tanya Benzo setengah memaksa.


"Ok ...," sahut Aprilia sambil mengangguk.


Benzo tersenyum lalu membawa Aprilia melangkah meninggalkan makam. Tiba-tiba Aprilia menghentikan langkahnya karena teringat sesuatu.


"Kenapa Pril, apa ada yang ketinggalan ?" tanya Benzo.


"Aku belum kenalin Papa sama Ricki. Dan Papa juga belum doain Ricki tadi," sahut Aprilia.


"Papa ga perlu kenalan lagi karena Papa tau dia orang yang baik. Dan Papa udah mendoakan dia sebelum Papa menegur Kamu tadi," kata Benzo sambil tersenyum.

__ADS_1


"Makasih ya Pa. Maafin Aku karena belum sempat ngenalin Ricki sama Papa. Kalo Ricki tau Aku ini Anak Papa, dia pasti seneng banget ...," kata Aprilia dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah Aprilia, jangan nangis lagi ya. Sekarang Kita cari tempat makan dulu dan lanjutin obrolan Kita di sana nanti," ajak Benzo sambil membuka pintu mobil.


Aprilia mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian mobil bergerak meninggalkan area pemakaman dimana Ricki dimakamkan.


\=\=\=\=\=


Fitria nampak sedang kesal karena tak menemukan Aprilia. Bertambah kesal saat ia bertanya pada mbok Kar, tapi wanita itu mengaku tak tahu kemana Aprilia pergi.


"Apa aja sih kerjamu Mbok ?. Masa gitu aja ga tau ?!" kata Fitria lantang.


"Saya emang ga tau Bu. Waktu selesai sholat Subuh, Saya denger Mbak April buka pintu gerbang. Pas Saya kejar keluar malah udah ga keliatan," sahut mbok Kar.


"Emang Kamunya yang ga becus. Saya heran sama Ricki. Kok bisa-bisanya bayar Kamu jadi asisten rumah tangga. Udah tua, lelet dan ga bisa apa-apa. Bikin emosi aja," kata Fitria ketus.


Ucapan Fitria membuat mbok Kar sedih. Wanita itu memang berniat hengkang setelah peringatan tujuh hari kematian Ricki. Tapi karena tak sanggup menghadapi sikap arogan Fitria, mbok Kar pun tak ingin menunda kepergiannya.


"Baik lah. Karena Saya emang udah terlalu tua dan ga becus ngerjain semuanya, lebih baik Saya berhenti sekarang ya Bu. Maaf kalo selama ini hasil pekerjaan Saya ga memuaskan Ibu. Sekarang Saya mau beresin pakaian Saya dulu di belakang," kata Mbok Kar dengan sopan lalu bergegas pergi ke kamarnya yang ada di dekat dapur.


Ucapan mbok Kar mengejutkan Fitria. Ia tak bisa membayangkan jika harus mengerjakan semuanya sendiri tanpa bantuan mbok Kar.


"Eh, bukan begitu maksud Saya. Mbok Kar, tunggu ...!" panggil Fitria panik.


Sayangnya mbok Kar yang terlanjur sakit hati tak menggubris panggilan Fitria. Wanita itu segera mengemasi barangnya lalu keluar dari kamar. Mbok Kar tak butuh waktu lama untuk mengemasi barangnya karena sebagian telah ia masukkan ke dalam tas besar. Rupanya sejak Ricki meninggal, mbok Kar langsung berkemas karena tak punya alasan untuk bertahan di rumah itu.


"Jadi Kamu beneran pergi Mbok ?" tanya Fitria saat mbok Kar pamit.


"Iya Bu," sahut mbok Kar.


"Saya tau Saya emang keterlaluan. Tapi apa Kamu ga bisa memaklumi Saya Mbok ?. Di luar sana orang seusia Saya masih sehat, bisa kesana kemari dengan kakinya dan jalan-jalan ke tempat bagus. Saya stress makanya kalo ngomong suka seenaknya. Maafin Saya ya Mbok. Dan tolong jangan pergi ...," pinta Fitria sungguh-sungguh.


"Maaf Bu, Saya ga bisa. Sebenernya udah lama Saya mau berhenti, tapi Mas Ricki selalu nahan Saya. Mas Ricki bilang kalo dia udah nikah Saya boleh berhenti. Makanya pas Mas Ricki nikah Saya seneng. Jadi, meski pun Mas Ricki masih ada Saya emang bakalan pergi kok Bu," sahut mbok Kar.


Fitria tak bisa berkata apa-apa. Meski kecewa, Fitria terpaksa melepas kepergian mbok Kar. Fitria juga kecewa saat mbok Kar menolak bonus yang ia berikan. Ternyata mbok Kar hanya mengambil uang yang jumlahnya sama dengan upahnya selama ini.


Setelah kepergian mbok Kar, Fitria nampak termangu di teras rumah. Tak ada siapa pun di sana selain dia. Saat Taxi yang membawa mbok Kar menjauh, Fitria merasa kesepian.


Tak lama kemudian Fitria tersenyum melihat kedatangan Aprilia. Namun senyumnya memudar saat ia melihat Benzo berjalan di belakang Aprilia.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2