
Melihat Ricki terkapar di lantai ruang kerjanya membuat Adi, salah seorang supervisor di pabrik itu pun panik.
Sebelum masuk dan mengecek kondisi Ricki yang tampak tak baik-baik saja, Adi sempat memanggil dua orang karyawan yang kebetulan melintas untuk membantunya.
"Pak Ricki pingsan. Kita bawa ke klinik atau panggil dokternya ke sini Pak ?" tanya salah seorang karyawan.
"Kita bawa langsung ke klinik aja. Siapa tau nanti malah harus dibawa ke Rumah Sakit. Kalo dari klinik kan lebih gampang karena di sana deket sama parkiran," sahut Adi.
"Baik Pak," sahut dua karyawan pabrik bersamaan.
Kemudian Adi dan dua karyawan menggotong tubuh Ricki keluar dari ruangannya. Bisa ditebak bagaimana reaksi seluruh karyawan dan karyawati pabrik saat melihat Ricki digotong dalam kondisi pingsan.
Suasana panik pun terjadi. Walau hanya sebentar tapi berhasil membuat operasional pabrik terhenti. Aprilia yang ada di meja kerjanya pun nampak mengerutkan keningnya saat mendengar kegaduhan di ujung ruangan.
"Arahnya dari ruangan Ricki. Ada apa ya ?" tanya Aprilia dalam hati.
Dan pertanyaan Aprilia segera terjawab saat seorang karyawati menjerit histeris.
"Pak Ricki pingsan ?. Kenapa bisa pingsan ?!" kata karyawati itu dengan suara dan gestur tubuh yang dibuat-buat.
Dan suara lantang wanita itu berhasil membetot perhatian semua orang termasuk Aprilia. Bahkan Aprilia menghentikan pekerjaannya lalu bergegas menghampiri kerumunan orang di dekat pintu pabrik.
Aprilia terkejut menyaksikan Ricki yang digotong oleh tiga orang pria itu. Aprilia pun merangsek maju agar bisa melihat lebih jelas.
"Pak Ricki kenapa ?. Kenapa bisa pingsan ?!" tanya Aprilia lantang.
"Kami juga ga tau Mbak. Sekarang tolong minggir dulu ya. Kami mau bawa Pak Ricki ke klinik untuk diobati," sahut Adi.
"Saya ikut !" kata Aprilia.
"Terserah," sahut Adi.
Meski pun tak mendapat respon yang baik, namun Aprilia tak peduli. Ia mengekori Adi dan dua rekannya yang membawa tubuh Ricki itu dari belakang.
Namun langkah Aprilia terhenti saat Tania menegurnya dengan keras.
"Kamu ga bisa pergi April. Kembali ke meja kerjamu sekarang !" kata Tania lantang.
__ADS_1
"Maaf Bu, ga bisa. Saya harus nemenin Pak Ricki. Dia ...," ucapan Aprilia terputus karena Tania memotong cepat.
"Saya ga peduli. Ini masih jam kerja dan tugasmu masih banyak. Kalo Kamu berhenti, bagaimana pekerjaan rekanmu yang lain. Kamu tau kan kalo semua orang mengandalkan Kamu. Mereka bisa kerja kalo kain yang Kamu potong tersedia," kata Tania ketus.
"Tapi Saya udah potong banyak kain tadi. Saya pikir itu cukup sampe sejam ke depan.Sekarang Pak Ricki sakit. Saya cuma mau ...," lagi-lagi ucapan Aprilia terputus.
"Saya ingatkan sekali lagi Aprilia !. Ini masih jam kerja dan Kamu harus profesional. Bukan waktunya menggunakan perasaan melankolismu itu sekarang. Walau Kamu Istrinya sekali pun, pekerjaan tetap yang utama. Paham Kamu ?!" kata Tania sambil menatap Aprilia dengan tajam.
Ucapan Tania mengejutkan semua orang tapi tidak dengan Aprilia. Saat itu terlihat jelas jika Tania sedang memperlihatkan posisinya yang lebih tinggi dibanding Aprilia di perusahaan itu. Aprilia tahu, selain memperlihatkan posisinya, Tania juga sedang melampiaskan rasa kesalnya karena kalah bersaing dengannya dalam memperebutkan cinta Ricki.
Bukan tanpa alasan Tania bersikap seperti itu kepada Aprilia. Rupanya saat pertama kali masuk ke pabrik dan menjabat sebagai supervisor, Tania langsung tertarik pada Ricki. Namun sayang Ricki menolaknya dan dengan tegas mengatakan jika ia telah memiliki kekasih. Tak hanya itu, Ricki juga membandingkan Tania dengan kekasihnya yang tak lain adalah Aprilia.
Aprilia nampak mendekati Tania lalu menatap kedua matanya dengan berani.
"Kenapa ?, Kamu mau membantah Saya ?. Di sini Saya yang benar April, jadi Saya sarankan supaya Kamu kembali ke mejamu," kata Tania sambil menunjuk meja kerja Aprilia dengan telunjuknya tanpa sekali pun melepas tatapannya dari Aprilia.
Aprilia mendengus kesal. Tanpa bicara ia pun menuruti perintah Tania. Saat melangkah menuju meja kerjanya, Aprilia sengaja menabrak bahu Tania dengan bahunya hingga membuat wanita itu hampir terjengkang jatuh. Tentu saja itu membuat Tania marah. Wanita itu menggeram sambil berusaha menarik ujung rambut Aprilia.
"Kurang ajar Kamu ya. Kamu ...," ucapan Tania terputus saat Aprilia berbalik lalu menatap tajam kearahnya.
Tania tertegun. Bukan hanya ucapan Aprilia yang membuatnya terkejut tapi juga aura dingin yang memancar dari tubuh Aprilia saat mengucapkan kalimat bernada ancaman itu.
Setelah mengancam Tania, Aprilia pun membalikkan tubuhnya lalu melangkah cepat menuju meja kerjanya. Tania masih berdiri di tempat sambil berusaha mengatur nafasnya yang entah mengapa terasa sesak secara tiba-tiba.
Perdebatan Aprilia dan Tania tadi akhirnya menjadi bahan pembicaraan seantero pabrik. Sebagian memihak Aprilia karena mereka tak suka dengan sikap arogan Tania. Tapi sebagian yang lain memihak Tania dan merasa terwakilkan oleh aksi Tania tadi.
Meski semua orang tahu hubungan Aprilia dan Ricki, namun perhatian Aprilia tadi tetap membuat semua karyawan terutama karyawan wanita merasa kesal.
"Lebay banget sih," kata seorang karyawati.
"Tau tuh," sahut yang lain sambil mencibir.
"Pasti karena dia banyak permintaan makanya Pak Ricki jadi kepikiran, terus sakit deh," kata karyawati lain sambil menatap penuh kebencian kearah Aprilia.
"Kayanya sih gitu. Lagian apa sih yang menarik dari Aprilia. Bisa-bisanya Pak Ricki naksir dan jadiin dia pacar. Padahal yang lebih cantik dan semok dari Aprilia kan banyak," kata seorang karyawati sambil mengamati dirinya sendiri seolah ingin memperlihatkan jika dirinya lebih layak mendampingi Ricki daripada Aprilia.
Aprilia hanya tersenyum mendengar ucapan bernada sindiran itu. Dia memang sering mendengarnya namun tak mau peduli. Bagi Aprilia dia adalah pemenang dari persaingan itu dan itu lebih dari cukup.
__ADS_1
Tak lama kemudian Adi dan dua karyawan yang tadi membantu menggotong Ricki ke klinik tampak melenggang masuk ke dalam pabrik. Aprilia pun bergegas menghampiri Adi dan bertanya.
"Gimana keadaan Pak Ricki, Mas ?" tanya Aprilia.
"Masih pingsan Mbak. Kayanya mau dibawa ke Rumah Sakit besar aja karena peralatan di klinik ga lengkap," sahut Adi.
"Emangnya Pak Ricki sakit apa Mas ?. Kenapa harus dioper ke Rumah Sakit segala ?" tanya Aprilia cemas.
"Saya ga tau Mbak. Mendingan Mbaknya langsung ke klinik aja. Tanya langsung sama dokter Helmi," sahut Adi.
Aprilia terdiam sambil menatap ke segala arah dan melihat Tania sedang berjalan mendekat kearahnya. Sebelum Tania kembali 'menegurnya' karena kedapatan ngobrol saat jam kerja, suara seorang security terdengar memanggil Aprilia.
"Mbak April dipanggil Pak Ricki sekarang !" kata sang security dengan lantang.
"Iya Pak !" sahut Aprilia sambil tersenyum mengejek kearah Tania.
Tanpa membuang waktu Aprilia bergegas pergi meninggalkan Tania yang hanya bisa menatapnya dengan marah. Aprilia tahu Tania tak akan bisa menahannya karena jabatan Ricki lebih tinggi dari Tania.
Tiba di klinik Aprilia juga terkejut mendapati Yuna yang masih terbaring pingsan di sana.
\=\=\=\=\=
Sementara itu di sebuah ruangan di rumah Ricki.
Fitria nampak sedang berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Nampaknya Fitria baru saja melakukan sebuah ritual. Karena saat itu Fitria duduk di hadapan sebuah meja dengan beberapa piring sesajen di atasnya. Sekujur tubuh dan wajah Fitria juga nampak basah dengan keringat. Meski begitu Fitria nampak tersenyum puas.
"Menyenangkan. Ini sangat menyenangkan...," kata Fitria sambil menggelengkan kepala.
Setelah mengucapkan kalimat itu Fitria tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya yang melengking itu terdengar hingga keluar ruangan.
Asisten rumah tangga Ricki yang bernama mbok Kar pun mendengar tawa Fitria. Entah mengapa wanita itu merasa takut saat mendengar tawa Fitria.
"Ngetawain apa sih sampe geli begitu. Tapi kok ketawanya Bu Fitria beda banget ya. Kalo dipikir-pikir malah mirip suara kuntilanak," batin mbok Kar sambil menggedikkan bahunya.
Karena tak tahan mendengar suara tawa Fitria, mbok Kar pun menyingkir keluar rumah karena takut.
\=\=\=\=\=
__ADS_1