Mengejarmu Dengan Pelet

Mengejarmu Dengan Pelet
29. Datang Ke Kantor


__ADS_3

Indri yang sedang melamun tampak tak menyadari kehadiran Adam di ruangannya. Adam pun tak ingin mengganggu dan membiarkan Indri larut dalam pikirannya sendiri. Indri pun mengakhiri lamunannya saat Dinar mengetuk pintu.


Sama seperti Dinar, Indri pun terkejut melihat Adam berada di dalam ruangan dan sedang duduk manis di sofa.


"Pak Adam ?. Maaf, sejak kapan Bapak ada di sini ?" tanya Indri tak enak hati.


"Sejak setengah jam yang lalu. Saya bahkan udah melihat Kamu berganti ekspresi beberapa kali," sahut Adam dengan santai.


Ucapan Adam tentu saja membuat Indri malu. Indri yakin Adam telah melihatnya marah, bicara sendiri bahkan beberapa kali menangis tadi. Kemudian Indri melirik kearah Dinar yang nampak memberi kode agar Indri meminta maaf karena telah bersikap tak profesional saat jam kerja.


"Maafin Saya Pak. Saya ...," ucapan Indri terputus karena Adam memotong cepat.


"Never mind. Saya ke sini sebagai teman Kamu Indri. Jadi ceritakan semuanya karena jujur ceritamu kemarin bikin Saya berpikir terus semalaman," kata Adam.


"Apa Saya juga boleh ikutan Pak ?" sela Dinar penuh harap.


Adam tersenyum. Ia paham maksud Dinar. Selain usil, wanita itu memang punya jiwa solidaritas yang tinggi alias kepo terhadap semua masalah yang menyangkut teman-temannya terutama Indri.


"Tentu. Duduk lah, Kita ngobrol di sini," kata Adam sambil menepuk sofa di sebelahnya.


"Asyiiikk ..., sambil ngopi seru kayanya," gurau Dinar yang disambut tawa Indri dan Adam.


"Saya cuma punya waktu satu jam Dinar," sahut Adam.


"Gapapa, itu juga cukup. Saya pesenin kopi ya. Mau kan ?" tanya Dinar dengan santai.


"Ok," sahut Adam sambil tersenyum.


Dinar pun menelepon OB perusahaan untuk membuatkan kopi latte kesukaan mereka bertiga. Indri juga mengeluarkan makanan ringan yang selalu dibawanya untuk menemani mereka 'ngopi'. Melihat apa yang dilakukan Indri dan Dinar membuat Adam geleng-geleng kepala.


"Jadi begini cara Kalian bekerja. Pantesan Aku selalu liat OB bawa banyak sampah keluar dari ruangan ini," gurau Adam hingga membuat Indri dan Dinar tertawa.


Kemudian Indri mulai menceritakan dugaan perselingkuhan Rian dengan wanita lain juga sikap terakhir Rian padanya.


Adam dan Dinar mendengarkan cerita Indri dengan serius tanpa menyela sedikit pun.


"Kamu bilang nemu sesuatu di pakaian Rian. Kalo boleh tau gimana bentuknya ?" tanya Adam kemudian.


"Ga jelas Mas. Baru sebentar megang, eh udah direbut sama Mas Rian. Aku aja sampe dobble kaget. Pertama kaget karena nemu benda yang menurutku aneh, terus kaget karena mendadak Mas Rian bangun langsung berebut benda itu sambil marah-marah," sahut Indri.


"Coba diinget lagi gimana bentuknya atau wujudnya Dri. Kali aja benda yang Lo anggap ga penting itu justru berbahaya buat Lo," sela Dinar setengah memaksa.


Indri tersentak kaget mendengar ucapan Dinar. Saat menoleh kearah Adam, ia melihat pria itu mengangguk hingga membuatnya khawatir.

__ADS_1


"Ukurannya kecil kok, bulat pipih dan lebih besar dari kelereng. Kayanya dari kulit tapi berbulu. Kalo Aku sih ga yakin ya benda itu berkaitan sama perubahannya Mas Rian," sahut Indri ragu.


"Justru Lo harusnya curiga Dri. Kalo Rian segitu paniknya sampe ngerebut benda itu dari tangan Lo, artinya benda itu penting buat dia. Iya kan Mas ?" tanya Dinar sambil menoleh kearah Adam.


"Iya, kurang lebih begitu," sahut Adam sambil mengangguk.


Ucapan Dinar dan Adam membuat Indri panik. Indri memang hanya fokus pada perubahan sikap Rian. Tapi nampaknya Indri mengabaikan temuannya itu karena menganggapnya tak penting.


"Mmm ..., masuk akal juga sih. Soalnya setelah merebut benda itu, Rian nyimpen benda itu ke pakaian dalam yang dia pake," kata Indri sambil menggaruk kepalanya.


"Apa ...?!" kata Adam dan Dinar bersamaan.


"Ish, jorok banget sih Suami Lo !" kata Dinar sambil menampakkan mimik wajah jijik.


"Iya, Nar. Gue juga sempet bengong ngeliatnya. Kok bisa-bisanya dia nyimpen benda itu di dalam kol*rnya. Gue kira dia ngigo atau lagi ga sadar. Tapi sekarang Gue yakin kalo dia sengaja ngelakuinnya ...," sahut Indri.


"Apa ga gatel ya nyimpen gituan di sana. Kan bergesekan langsung sama belalai ajaib," gurau Dinar sambil tertawa.


Indri pun ikut tertawa membayangkan benda aneh berbulu itu ada di dalam pakaian dalam suaminya. Untuk sejenak kegelisahan Indri sedikit teralihkan karena ucapan Dinar.


"Itu kelemahannya Dri !" kata Adam tiba-tiba.


"Yang bener Mas ?" tanya Indri.


"Lebih rahasia dari kol*rnya itu Mas ?" sela Dinar.


"Iya," sahut Adam sambil tersenyum.


"Jadi Mas Rian emang selingkuh ...," gumam Indri sedih.


"Tapi keliatannya itu dilakukan di luar kesadarannya Dri," kata Adam.


"Maksudnya Rian dipelet Mas ?" tanya Dinar yang diangguki Adam.


Anggukan kepala Adam justru membuat Indri kecewa.


"Apa pun itu. Kalo Mas Rian udah mengkhianati pernikahan Kami apalagi sampe udah tidur sama perempuan itu, rasanya sulit buat Aku maafin dia Mas. Aku ... Aku lebih baik bercerai aja," kata Indri dengan suara tercekat hingga membuat Dinar dan Adam terdiam.


"Yang sabar ya Dri. Mudah-mudahan Suami Lo ga ngelakuin sejauh itu. Jangan ambil keputusan saat Lo marah Dri, ntar Lo nyesel ...," bujuk Dinar.


Ucapan bijak Dinar justru membuat Indri tak kuasa menahan tangisnya. Dinar pun memeluknya dengan erat dan membiarkan Indri menangis di pelukannya.


Melihat Indri menangis membuat Adam iba. Tak ingin terlalu lama menyaksikan kesedihan Indri, diam-diam Adam keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Siang itu Aprilia datang ke perusahaan atas permintaan sang papa. Rupanya Benzo ingin agar anak sulungnya itu mau ikut ambil bagian mengurus perusahaan.


Meski enggan, akhirnya Aprilia menuruti permintaan sang papa. Itu pun setelah kupingnya panas mendengar ocehan Fitria yang terus mendoktrinnya dengan kata-kata tak layak.


Saat tiba di loby, Aprilia pun segera menghubungi Adam.


"Aku udah di loby nih Om," kata Aprilia.


"Ok. Tunggu di sana biar Om suruh orang untuk jemput Kamu ya Pril," kata Adam.


"Ga usah Om. Aku kan ke sini diem-diem supaya orang lain ga tau kalo Aku Anaknya Papa. Aku langsung ke ruangannya Om Adam aja ya. Boleh ga ...?" tanya Aprilia sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Boleh dong. Ya udah, Kamu ke sini aja," sahut Adam.


"Ok," kata Aprilia di akhir kalimatnya.


Kemudian Aprilia menemui receptionist dan bertanya dimana ruangan Adam. Wanita di balik meja receptionist itu pun tersenyum dan mengarahkan Aprilia ke lift khusus yang bisa langsung menuju ke lantai dimana ruangan Adam berada. Wanita itu tahu jika Aprilia adalah anak pemilik perusahaan karena Adam telah memberitahu sebelumnya.


"Perlu diantar ga Mbak ?" tanya sang receptionist bernama Rima itu dengan ramah.


"Ga usah, makasih Mbak ...," sahut Aprilia sambil tersenyum.


"Sama-sama ...," sahut Rima sambil menganggukkan kepala.


Tak lama kemudian Aprilia tiba di ruangan Adam. Keduanya saling memeluk layaknya saudara. Setelahnya Aprilia duduk di sofa sambil mulai menceritakan tujuannya datang ke sana.


Dengan tenang Adam mendengarkan celoteh Aprilia. Sesekali ia tersenyum melihat wajah kesal Aprilia.


Meski Aprilia dan Adam tak memiliki hubungan darah sama sekali, tapi hubungan keduanya sangat baik. Aprilia sangat menghormati Adam yang terpaut usia delapan tahun di atasnya. Sedangkan Adam memperlakukan Aprilia layaknya adik. Meski Adam tak menyukai Fitria, tapi Aprilia dan dua adiknya adalah pengecualian.


"Jadi apa rencanamu setelah ini ?" tanya Adam.


"Kerja lah Om. Maunya sih ga di sini tapi Mama maksa harus kerja di sini. Apalagi Papa juga terus nyuruh Aku datang buat bantuin Om," sahut Aprilia.


"Memang udah seharusnya Kamu belajar mengelola perusahaan ini Pril. Ini kan milik Papa Kamu yang otomatis bakal diwarisin ke Kamu dan Adik-adikmu," kata Adam.


"Iya sih. Tapi Aku ga berminat Om. Aku jadi karyawan biasa aja boleh kan. Kalo posisi penting kasih sama Banyu aja. Dia lebih berkompeten dan lebih bertanggung jawab dibanding Aku," sahut Aprilia hingga membuat Adam tersenyum.


Selama ini Adam tahu Aprilia adalah anak yang baik. Hasutan Fitria lah yang menyebabkan Aprilia berubah jadi orang yang berbeda. Adam bertekad mengawal Aprilia secara diam-diam agar lepas dari pengaruh ibunya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2