
***
"*emm dia....John Adlews" jawabnya yang masih bingung.
"segera putuskan pacarmu itu , dia tidak pantas menjadi kekasihmu" ucap Steven tegas dengan sorot mata tajam mengarah ke pada Sisca .
***
"Memangnya kenapa kak?" Tanya Sisca Bingung
"Segera putuskan saja , kenapa banyak tanya" suara Stev mulai meninggi
"Setidaknya ada alasan nya , tolong jelaskan dulu" ucap Sisca dengan raut wajah memohon kepada Stev .
Stev menghela nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar , dia tidak ingin perdebatan ini nantinya semakin panjang .
"dia itu pria bejad yang suka Gonta ganti pacar , bahkan aku sering melihatnya menggandeng tangan wanita yang berbeda-beda setiap pulang kerja. Jika saja aku tau kalau dia adalah pacarmu , akan ku Hajar pria ba**ngan itu hingga masuk rumah sakit" terang Stev panjang lebar dengan wajah nya yang menunjukkan emosi yang di tahan dengan tangannya yang mengepal serta tatapannya yang tajam.
"Hah!!? apakah itu benar??" Ucap Sisca yang masih belum percaya dengan perkataan Stev.
"Ck , kau meragukan ku hah" ucap Stev kesal
"dari pada kau dengan pria ba**ngan itu , lebih baik dengan Dion sahabatku" saran Stev yang sudah tentu akan mendapat penolakan dari Sisca.
"Aku nggak mau. Huh" ucap Sisca sambil meninggalkan kakak beradik itu yang merupakan sepupunya dan meninggalkan rumah sepupunya dengan mengendarai mobil yang dia gunakan saat berkendara tadi. Rupanya dia masih belum percaya dengan omongan Stev tadi.
Sedangkan di ruang tamu
Stev menahan kesalnya. Bagaimana bisa sepupunya itu bodoh hingga dibutakan oleh cinta dia ingin sekali membedah otak sepupunya itu hingga hal bodoh yang dia lakukan itu bisa bisa dia hilangkan .
Stev menyayangi semua keluarga nya , Sepupunya itu salah satu orang yang dekat dengan Stev dan dia akan melakukan apapun untuk membuat sepupunya itu bisa bahagia . Begitupun juga dengan adiknya Bella dia juga selalu mendukung keputusan yang Bella ambil kalau itu baik untuk adiknya kelak .
"Tenanglah kak , dia pasti akan menemukan titik terang saat tau yang sebenarnya" ucap Bella menenangkan kakaknya yang di rundung emosi.
"Aku tak tega jika melihatnya di khianati oleh laki-laki ba**ngan itu. bagaimana bisa dia di bodohi oleh pria br**gs3k seperti John Adlews yang merupakan seorang Player . aku takut nantinya apa yang dia jaga akan hilang di tangan player itu" terang Stev yang masih kesal dengan sepupunya .
"Kita lihat saja kedepannya" ucap Bella dengan senyum misterius
__ADS_1
Kita lihat posisi Sisca saat ini
Setelah pergi dari rumah sepupunya dengan perasaan kesal bercampur kecewa dia mengendarai mobilnya menuju rumah kekasih yang di cintai nya .
'apakah benar apa yang di katakan kak Stev itu' batinnya setelah sampai di apartemen milik kekasihnya , dia terus berpikir apa yang di ucapkan Steven tadi hingga kini dia sampai di depan pintu apartemen kekasihnya.
Sisca menepis pikirannya itu dan memilih berpikir positif , lalu dengan senyum di bibirnya , dia menekan tombol password dan segera membuka pintu apartemen kekasihnya .
Senyum yang tadinya terpasang indah di bibirnya kini mulai redup , digantikan oleh perasaan kecewa. dan dia memilih menutup kembali pintu apartemen kekasihnya dengan perlahan dan kehati-hatian supaya tidak mengganggu , dan berjalan dengan lesu karena semangat yang dia miliki untuk segera bertemu dengan kekasihnya kini telah redup , digantikan rasa kecewa yang mendalam .
'apakah aku tak berhak bahagia?' batinnya bertanya pada diri sendiri. Sisca berjalan sambil menahan tangisnya menuju tempat dia memarkirkan mobilnya, lalu pergi melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang ramai oleh pengendara lain.
di tempat lain.
Kini Bella dan Stev mendapatkan sebuah sidang dari Mami Santi.
"itu..... Anu...."ucap Stev terpotong
"Anu....Anu... , Anu apa?" Ucap Mami Santi disertai tatapan tajam menatap putra kesayangannya yang kini menunduk dihadapannya.
"Gini Mam , tadi Sisca cerita kalo dia di jodohin" sambung Bella , dan menceritakan kronologi yang terjadi beberapa saat lalu setelah Sisca , sepupunya meninggalkan rumahnya.
Bella melirik ke arah kakaknya dan mendapatkan sebuah acungan jempol tangan Stev yang di sembunyikan lewat tangan yang menggenggam.
Mami Santi mengangguk paham "yasudah , segera tidur , besok kerja sama sekolah" ucapnya dan berlalu pergi meninggalkan kedua sepasang Kakak beradik itu di ruang tamu. Menyusul suami tercintanya yang ada di dalam kamar menyelesaikan kerjaan yang belum selesai .
Bella dan Stev menghela nafas lega , setelah Maminya masuk ke dalam kamar.
"Ingat , nggak ada yang gratis yah!" Ucap Bella memandang kakaknya.
"Haah?"
"Tadi kan udah aku bantu jelasin , berarti harus ada bayarannya donk" ucap Bella sambil tersenyum simpul pada kakaknya .
"Iy iya , lama-lama bangkrut aku kalo gini terus" ucap Stev malas dan segera mengeluarkan handphone nya lalu mengotak-atik sebentar .
Ting*
__ADS_1
"udah tuh" ucap Stev dan meninggalkan Bella yang kini matanya berbinar karena mendapatkan uang jajan dari kakaknya .
"Makasih..." ucap Bella dengan suara yang agak sedikit di keraskan, supaya Stev mendengarnya walau tidak menggubrisnya dan tetap melangkahkan kakinya menuju kamarnya .
Bella juga pergi ke kamarnya mengecek handphone nya , dan ternyata ada sebuah pesan yang terkirim , lalu dia membacanya , ternyata yang tertulis adalah saldo di rekening nya bertambah Rp 20.000.000 . kakaknya tak tanggung tanggung memberinya sebuah uang jajan .
"hihihi , jadi orang kaya mendadak nih aku"
ke esokan paginya
Bella telah siap dengan memakai baju olahraga , karena jadwalnya pagi ini adalah pelajaran Olahraga terlebih dahulu. dia turun ke bawah dan melakukan sarapan bersama keluarganya .
"loh dek , kok pakai baju olahraganya di rumah , tumben banget , biasanya pakainya kan di sekolah?" tanya Mami Sinta sambil mengoleskan selai kacang kesukaan Stev .
"males aja , kalo gonta-ganti baju , enakan gini , nanti ganti kalo jadwal olahraganya udah selesai . dan seragam nya Bella tadi udah di masukin dalam tas" jelas Bella , lalu mengambil segelas susu dan langsung meneguknya sampai tandas .
"yaudah , Bella berangkat dulu yah" ucap Bella berlalu pergi dengan sandwich yang ada di kotak makan dan juga tisu untuk mengelap bekas susu yang dia minum .
seperti biasanya saat Bella berangkat sekolah , dia selalu di antar oleh pak Bambang kalem , memang namanya sama dengan gurunya di sekolah jadi untuk membedakannya Bella menyebut pak Bambang kalem untuk supirnya , sedangkan gurunya di sekolah dinamai pak Bambang ngegas.
di dalam mobil , Bella memakan Sandwich buatannya karena tadi dia belum sempat sarapan di rumah .
Setibanya di Sekolah
Bella turun dari mobil dan berjalan memasuki gerbang sekolahnya , lalu berjalan lagi menuju ruang kelas yang di huninya saat ini . kini ruang kelasnya sudah terisi beberapa murid yang berangkat pagian .
"yo Bella , ayo Mabar lagi" sapa temannya kemarin yang bernama Destia .
"iya , sebentar" ucap Bella yang menerima ajakan teman sekelas nya itu .
saat Bella meletakkan tasnya , terlihat Bangku yang biasanya di isi oleh sahabatnya belum nampak orangnya , jadi dia menunggu sahabatnya dan Mabar dengan Destia yang juga memakai seragam olahraga .
****
Bersambung .
sampai sini aja dulu 😂 bye bye
__ADS_1