
Amel sudah kembali ke ruangan OB,ia mulia di introgasi sama teman-teman OB nya
"Mel lo punya hubungan apa sama Tuan Devit "tanya indah
" iya Mel lo punya hubungan apa setau gue Tuan Devit orang yang cuek "ucap Dinda
" gue gak ada hubungan apa-apa kok, mugkin Tuan Devit lagi pegen aja "bohong Amel
" lo gak lagi bohong kan sama gue "tanya Indah lagi
" gue gak bohong, udah-udah lanjut kerja aja yuk "Amel mengalihkan perhatian semua dan lagsung beranjak pergi untuk membuat teh
Setelah membuat teh Amel lagsung menuju ke lantai 10, saat berjalan menuju ke live bayak yang mencibir nya tapi Amel berusaha tidak mendengar kan nya
Amel pun sampai di lantai 10 dan menuju ruangan Mbak Tania
Tok
Tok
Tok
Amel mengetuk pintu terlebih dahulu "Masuk" jawab Mbak Tania dari dalam
Ia pun masuk membawa satu teh "permisi Mbak ini teh nya" ucap Amel sopan dan menaruh teh panas nya di atas meja
"saya permisi dulu Mbak "Amel pun undur diri dari hadapan Tania
Tapi Amel tidak tau kalo Tania berdiri dan mengambil secangkir teh itu dan sudah di belakang Amel
Tania memanggil Amel ia pun berbalik" iya Mbak ada yang bisa saya bantu lagi "ujar Amel yang sudah di hadapan Tania
Dengan segaja Tania menyiram kan Teh panas ke tubuh Amel
" Akhhh panas "pekik Amel merasa ke panasan di bagian perut nya
" itu ganjaran buat lo karena udah megoda Devit " ucap Tania
" maaf Mbak tapi saya tidak megoda Tuan Devit Hiks "jawab Amel ia menangis karena menahan rasa sakit di perut nya
" gak usah sok polos lo "gerema Tania ia pun mendorong Amel dan terjatuh
Bruk
" Akh "pekik Amel
" sana keluar gue muak liat muka lo "usir Tania dengan memandang Amel yang masih di bawah
Devit melihat semua itu dari CCTV ia sangat marah melihat kelakuan adik dari mendiang Istrinya dan yang ia tau wanita itu menyukai diri nya
Devit melihat Amel yang menahan sakit saat berdiri ia lagsung menuju ke lantai 10
__ADS_1
Devit dengan kasar membuka pintu Ruangan Tania "apa yang kau lakukan dengan ia" ucap Devit yang sudah sangat emosi
"tidak Kak, dia sendiri yang menjatuhkan minuman nya "elak Tania
Kemudian Devit melihat Amel yang menahan rasa perih di perutnya, Amel yang sedang di tatap Devit lagsung menunduk
" apa benar yang di katakan oleh wanita itu "tanya pada Amel, Amel hanya menjawab dengan angguk kan
" tu kan Kakak bukan aku "Tania merasa senang karena wanita Bo*oh itu tidak mengaku
Devit mendekat ke Tania, Tania pun merasa senang karena di dekati Devit
PLAK
Satu tamparan mendarat di pipi mulus Tania ia merintis kesakitan, Amel terkejut karena Devit menampar Mbak Tania
"kau kira aku tak melihat semua kejadian yang kau lakukan kepada Istri ku "ucap Devit dengan lantang
" ISTRI, wanita miskin ini Istri kak "Tania sangat terkejut
" STOP jaga ucapan pun, jika kau mehina Istri ku lagi akan ku jahit mulut mu "tegas Devit
Ia lagsung megendong Amel dengan reflek tangan Amel megelantung di leher Devit
Devit keluar dari ruangan itu karena akan segera membawa Amel ke rumah sakit
Setelah sampai di perkiran Devit lagsung memanggil Supir "cepat jalan kan mobil nya menuju rumah sakit" tegas Devit, supir pun menuruti perkataan Tuan nya
"apa masih sakit "khawatir Devit
" tidak Tuan ini sudah tidak sakit "jawab Amel berusaha menutupi rasa perih di perutnya
" jangan bohong aku tau itu sakit "ucap Devit yang tau kalo Amel sedang berbohong
" Maaf..... "satu kata yang keluar dari mulut Amel
Mobil pun sampai di rumah sakit dengan sigap Devit gendong tubuh Amel masuk ke dalam
Suster yang melihat Devit langsung membawa Amel ke ruangan pemeriksaan
" Tuan tunggu dulu di luar "tahan Dokter yang akan memeriksa Amel, mau tidak mau Devit menunggu di luar
Setelah beberapa menit pintu pun terbuka
Ceklek
Devit lagsung menghampiri Dokter" bagaimana keadaan nya, apa ada yang serius "tanya Devit yang begitu khawatir
" semua tidak ada yang serius, tadi sudah di beri salep dan di perban Nona Amel juga tak perlu di rawat, di rumah sering-sering lah di ganti perban nya dan di beri salep "jelas Dokter
__ADS_1
Devit pun mengangguk dan lagsung masuk ke dalam untuk melihat ke adaan Amel
Devit melihat Amel yang sedang rebahan di atas ranjang, Devit duduk di kurus kurus dekat ranjang Amel
" apa masih terasa sakit "tanya Devit ia memegang tangan Amel
" saya sudah tidak kenapa-kenapa Tuan "jawab Amel, ia merasa bahagia karena merasa di perhatikan oleh sang suami
" kenapa tadi kamu tidak jujur hmm "tanya Devit yang mulai melontarkan pertanyaan pada Amel
" maaf Tuan saya tadi sangat takut "jawab Amel wajahnya berubah menjadi sendu
" baik lak, besok tidak boleh bekerja dulu "larang Devit
" mengapa Tuan, saya sudah sembuh kok "ucap Amel yang berusaha duduk
" pokok nya tidak ya tidak "tegas Devit, Amel pun pasrah
" ya sudah kita pulang, kata dokter kamu tak perlu di rawat "ajak Devit tanpa bertanya kepada Amel Devit lagsung megendong Amel lagi
Mereka keluar dari ruangan itu menuju parkiran dengan sigab supir menbukakan pintu Devit menaruh Amel terlebih dahulu lalu ia duduk di samping Amel
Selama di perjalanan pulang tidak ada obrolan apa pun sampai Amel terdiri di bahu Devit, Devit tersenyum tipis melihat sang istri sangat tenang saat tidur
Mobil pun sampai di di halaman rumah Devit, Devit megendong tubuh Amel masuk ke dalam rumah, Mama Rani dan Putri heran melihat hal itu
Devit tak meghiraukan Mama dan Putrinya, ia lagsung naik ke lantai atas menuju kamar mereka berdua untuk menidur kan Amel
Setelah menidurkan Amel Devit turun ke bawa dan duduk bersama Mama Rani dan Putri
"Yah Bunda kenapa??? Tanya Putri heran
"iya Vit menatu Mama kenapa"sahut Mama Rani
Devit menghibur kan nafasnya dengan kasar sebelum menceritakan kejadian di kantor "tadi ada kejadian di kantor dan sampai membuat Amel sakit" ucap Devit
"kejadian, kejadian apa "heran Mama Rani
Devit pun megeluarkan ponselnya dan memberikan video CCTV kejadian yang menimpa Amel
Mama Rani dan Putri melihat rekaman itu dengan teliti Mama Rani terkejut melihat pelakunya
" kenapa Tania sangat jahat "kesal Mama Rani yang melihat adegan per adegan
" apa yang di video itu Tante Tania Yah "tanya Putri Devit mengangguk
" kenapa Tante jahat membuat bunda sakit "wajah Putri sangat sedih
" Bunda sudah tidak apa-apa kok Sayang "Devit menenangkan Putri
" Aku mau liat Bunda Yah "ucap Putri sambil menangis
__ADS_1
" nanti saja ya, Bunda kan lagi istirahat "timpal Mama Rani, Putri pun mengangguk dan tak mau melihat rekaman itu lagi