
Dan tiba-tiba....
Langkah Devit berhenti saat sudah sangat dekat dengan Amel "Junior sabar ya ini belum waktunya kita main sendiri ya" gumam Devit di dalam hati
Amel wajahnya sudah merah merona karena malu "baju mu sudah di ruang ganti" ucap Devit sebelum masuk ke kamar mandi
"ba.. Baik Tuan "jawab Amel gugup dan lagsung berlari menuju ke ruang ganti
Saat Amel sampai di ruang ganti" wah besar banget "gumam nya ia sangat takjub dengan tempat nya ia sudah selesai ganti baju dan seger keluar dari ruang ganti
Amel memakai baju santai untuk di rumah, ia pun Keluar dari kamar tanpa menunggu Devit
Saat sampai di bawah ia melihat Mama Rani dan juga Putri sedang duduk santai di ruang tamu
"Eh Mel, kenapa berdiri terus sini duduk deket Mama "ajak Mama Rani
" ah iya Ma " jawab Amel gugup
" jangan gugup gitu dong nak "ujar Mama Rani melempar senyum pada sang menantu
" tidak kok Ma, Amel tidak gugup "Jawab Amel
" oh ya, gimana jadi mau kuliah tidak "ucap Mama Rani menyigung soal kulihat
" emm Amel mau tetep kerja aja Ma, takut nanti temen Amel curiga "tolak Amel
" ya sudah bagaimana enak nya saja "ucap Mama Rani
" Bunda apa benar akan bekerja "tanya Putri tiba-tiba
" iya Sayang, gak apa-apa kan kalo Bunda kerja "jawab Amel
" gak apa-apa kok Bunda "ucap Putri
" Terimakasih Sayang, sudah mengizinkan Bunda bekerja "ujar Amel memeluk Putri
" sama-sama Bunda "Putri membalas pelukan Amel
Mama Rani sangat bahagia melihat cucu nya kembali ceria karena ke hadir Amel yang sekarang menjadi menantu sekalihgus menjadi ibu sang cucu
" Bunda mau liat kamar aku gak "ujar Putri
" boleh Sayang ayo"jawab Amel antusias
"Ma Amel ke kamarnya Putri dulu "pamit Amel pada Mama Rani
" iya Nak...
Amel dan Putri meninggalkan Mama Rani sendiri di ruang tamu, tapi tak berselang lamar Devit sudah keluar dan turun ke bawah
Devit lagsung duduk dan memainkan ponselnya, sesekali ia melihat ke kanan dan ke kiri mencari putri kecilnya
"Ma dimana Putri "tanya Devit
" lagi di kamar sama Amel "Jawab Mama Rani
" oh...... "
" tadi Amel bilang dia akan tetap kerja di kantor "ucap Mama Rani
" terserah dia aja "jawab Devit tetep fokus dengan ponselnya, Mama Rani mendegkus kelas
__ADS_1
Sedangkan Amel dan putri sudah sampai di kamar Putri" ini Bun kamar aku "ucap Putri membukakan pintu untung Bundanya masuk
Amel begitu berbinar melihat kamar putri yang sangat mewah bak seperti kamar seorang princes
" wah kamar kamu bagus baget "puji Amel
" apa bunda juga tidur di kamar seperti ini "tanya Putri
" Bunda tidurnya dalam satu kamar sama anak-anak panti yang lain, jadi Bunda tidak punya kamar untuk Bunda sendiri "jawab Amel dengan tersenyum ramah
" dulu Bunda tinggal di panti "tanya Putri lagi
" iya, Bunda sejak bayi sudah di panti Nak,jadi kamu harus banyak-banyak bersyukur masih memiliki orang tua yang mau merawat Putri, memiliki rumah yang layak bendidikan yang mencukupi,di luar sana ada yang ingin sekali sekolah tapi biaya nya tidak ada, jadi Anak Bunda gak boleh sampai gak semangat sekolah nya ya agar kelak kamu bisa membantu orang lain yang kekurangan untuk bisa bisa tetep sekolah "jelas Amel
" iya Bunda Putri pasti belajar dengan baik, tidak suka mengeluh lagi, selalu nurut sama Bunda, Ayah dan Oma"ucap Putri
"anak Bunda memang cerdas "puji Amel yang lagsung megendong tubuh gadis mungil itu dan megelitik perut Putri
" Buna.. Hihihi.. Geli Bunda sudah Bunda sudah geli hihihi "Putri memohon kepada sang Bunda agar berhenti megelitik nya ia berbicara sambil tertawa
Amel menurun kan Putri dari gendongan nya" ayo kita turun, sebentar lagi makan Malam "ajak Amel yang megandeng tangan mungil Putri
Amel dan Putri pun sudah sampai di ruang tamu lagi" sudah liat kamar nya"ujar Mama Rani
"udah Ma "jawab Amel
" ya sudah yuk kita makan sudah waktunya makan malam "ajak Mama Rani
" ayo Oma Bunda "tangan mungil Putri menarik tangan Mama Rani dan Amel
" e hm...Ayah di lupa in ni "ucap Devit pura-pura merajuk
" Eh iya ayo Yah makan "ucap Putri yang tetep melangkah meninggal kan Devit
Setelah berdoa semua pun makan dengan lahap tak ada obrolan apa pun hanya ada bunyi sendok saja
Setelah makan selesai mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat, Amel mengikuti langkah Devit masuk ke kamar
Jujur ia sangat gugup dan belum terbiasa dengan semua ini, Amel dan Devit sudah sampai di kamar tapi Devit masuk ke ruang kerja nya
Amel pun duduk di atas sofa sambil mengecek ponselnya, ternyata ada beberapa pesan dari Indah sejak kemarin
"Indah "
Mel lo gak kenapa-kenapa kan
"Indah"
P
P
P
Mel
Lo kenapa gakk kerja
Gue ke kos lo udah gak ada siapa-siapa.
-------------
Dan masih banyak lagi
"Amel "
__ADS_1
Sory Ndah gue udah balik ke panti
Kemarin gue masih sakit jadi gak bisa berangkat kerja
Sory juga gue baru buka hp sekarang
" Indah "
Apa sekarang masih sakit
" Amel "
Alhamdulillah sudah baikan, besok gue juga sudah kerja
" Indah "
Syukur lah kalo udah baikan, ya sudah sekarang lo tidur aja
" Amel "
Ya udah gue tidur dulu, Assalamualaikum
" Indah "
Waalaikumsalam
Cht pun berakhir dan Amel lega indah tidak curiga, ia pun menaruh ponselnya di atas meja
Ia bingung harus tidur di mana, akhirnya Amel menunggu Devit selesai dan keluar dari ruang kerja nya
Devit melihat Amel yang masih duduk di sofa dan belum tidur
"kenapa belum tidur "tanya Devit
Amel tersentak kaget" Eh.. Itu.. Anu Tuan Saya bingung harus tidur di mana "jawab Amel gugup
" memang nya kamu gak liat kasur segede itu, kok masih tanya mau tidur di mana "ujar Devit dengan wajah datar nya
" oh baik... Baik Tuan "jawab Amel yang lagsung lari ke atas kasur
Di lihat Devit juga ikut berbaring diranjang yang sama" Tuan juga tidur di sini "tanya Amel sedikit takut
" iya, apa kamu mau saya tidak di sofa saja "ujar Devit yang akan beranjak dari tempat tidur
" Eh jangan Tuan di sini saja "ucap Amel, ya ia salah namanya suami istri pasti satu ranjang
" kau tidak perlu takut, aku tidak akan macam-macam, bahkan malam ini tidak ada malam pertama layaknya pasangan suami istri, jadi cepat tidur lah saya tidak mau kariawan saya telat datang ke kantor "ucap Devit ia lagsung tertidur
Glek/
Deg
Amel sedikit kaget dengan ucapan Devit tadi, tapi ia tak ingin ambil pusing mengingat perkataan Devit yang terakhir ia medigit ngeri, dengan secepat kilat ia tidak
Terimakasih yang sudah membaca 🙏
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Favorit
❤️
❤️
__ADS_1
❤️