Menikahi Majikan Lumpuh

Menikahi Majikan Lumpuh
Bab 10 - Bagaimana Caranya?


__ADS_3

Kepala pembantu di rumah ini tidak memiliki banyak pekerjaan yang menguras tenaga, hanya mengawasi semua pekerja dan mengatur tentang keuangan di dapur, juga listrik dan gaji semua pekerja, barulah nanti anggarannya diserahkan pada nyonya rumah. Jadi semua pengeluaran terperinci dengan jelas.


Bima ingin menyingkirkan Donita secara perlahan dari kekuasaannya di rumah ini, Mika akan mengambil alih di sela-sela gadis itu belajar tentang bisnis dan manajemen.


Jadi setelah rumah dikuasai, barulah mereka bergerak menuju perusahaan.


Sudah begitu matang rencana yang disusun oleh Bima.


Meski kelak Mika lah yang akan lebih banyak mengambil peran dalam biasanya tersebut.


Apakah Mika mampu?


Entahlah, gadis itu pun belum Aku ngerti banyak tentang kehidupan. Dia hanya berjalan sesuai dengan instruksi sang ibu.


"Baiklah, aku akan mengabulkan keinginanmu itu, lagi pula Marta tidak akan keberatan, karena sekarang kamu adalah besan kami, iya kan Marta?" tanya Hendra pada Marta sang kepala pembantu yang juga ada di sana dan mendengarkan semua pembicaraan pagi itu.


Ada rasa yang begitu mengganjal di dalam hatinya ketika mendengar semua keputusan. Tapi dia bisa apa selain patuh, bahkan ketika dia melirik Nyonya Donita, dia malah melihat wanita itu yang memalingkan wajah seolah tidak peduli dengan nasib yang dia terima. Turun derajat.


"Tidak masalah Pak," balas Marta, seraya menundukkan kepalanya memberi persetujuan atas keputusan sang Tuan.


Selesai sarapan itu, Donita meminta Bik Ningsih untuk bicara di ruang berkumpul khusus para pelayan, ruangan yang ada di belakang dapur.


"Kenapa kamu tiba-tiba meminta hal itu kepada suami ku? apa Bima yang memerintahkanmu?" tanya Donita dengan suara yang lembut, dia memang ahlinya dalam hal bersandiwara. Awalnya bahkan bik Ningsih tidak percaya jika nyonya Donita memiliki maksud jahat pada keluarga ini.


Tapi setelah Pak Bima menunjukkan semua bukti-bukti nyata termasuk perselingkuhannya barulah dia tersadar dari kenyataan.

__ADS_1


Bik Ningsih bahkan bersedia membantu Pak Bima untuk melindungi keluarga ini dan menyingkirkan manusia ular tersebut. Apalagi jika mengingat mendiang ibu pak Bima, bik Ningsih makin iba setelah mengetahui semua fakta itu.


Karena itulah dia rela Mika menikah dengan pak Bima, lagi pula Mika akan tetap aman dan kelak mendapatkan banyak ilmu dari pak Bima.


"Maaf nyonya, saya juga sebenarnya tidak ada maksud untuk mengambil posisi ibu Marta, tapi saya lebih merasa tidak enak hati jika tidak melakukan apapun di rumah ini. Dan tentang pak Bima, maaf, sampai saat ini beliau masih belum banyak bicara pada saya," jawab bik Ningsih, dia bahkan menundukkan kepalanya dengan begitu dalam, seolah menunjukkan rasa penyesalannya atas keputusan yang diambil untuk jadi kepala pelayan.


Mendengar permohonan maaf itu, Donita hanya mampu membuang nafasnya perlahan. Dia tidak sadar jika telah dipermainkan.


"Baiklah, tidak masalah kamu menggantikan Marta. Tapi ingat ya, apapun yang terjadi di rumah ini, laporkan dulu padaku langsung, jangan pada pak Hendra," titah Donita.


"Baik Nyonya," jawab Bik Ningsih patuh.


"Jika sedang berdua seperti ini kamu boleh memanggil ku Nyonya, tapi jika di hadapan keluarga cukup panggil Mbak saja."


Di saat bik Ningsih dan Donita bertemu, Mika dan Bima berkeliling rumah ini. Rumah yang begitu megah dan mewah, sangat luas sampai Mika berulang kali merasa takjub.


Mereka menghentikan langkah ketika sudah berada di taman rumah itu, taman yang begitu indah dengan banyak bunga.


Tukang kebun yang bertugas di sana seketika pergi saat sepasang pengantin baru itu masuk ke dalam taman.


Dia tidak ingin menganggu tuan dan nyonyanya.


"Ya Allah, indah banget," ucap Mika, kalimat itu lolos begitu saja. Sejak tadi dia bicara sambil terus mendorong kursi roda pak Bima.


Dan pria itu tetap diam dengan tatapan datar.

__ADS_1


Mika, lantas mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi tersimpan di saku, dia mengambil beberapa foto bunga indah itu.


"Pak, eh Mas, aku ambil foto dulu ya," pamit Mika, dia ingin pergi sendiri dan melihat semuanya lebih jelas.


Tapi Bima lagi-lagi hanya diam, membuat Mika akhirnya mencebik dan bingung. Akhirnya Mika duduk di hadapan suami kontraknya tersebut. Di sana juga ada kursi dan meja yang bisa digunakan untuk bersantai.


"Ya sudah lah, aku duduk disini saja," ucap Mika, bergumam penuh kecewa.


"Jangan asik sendiri, saat kita sedang berada di luar seperti ini. Banyak orang-orang yang mengawasi kita," ucap Bima, meski dia bicara tapi mulutnya terbuka kecil sekali, seperti tak nampak jika pria itu sedang berucap.


Dan mendengar ucapan pak Bima itu seketika jantung Mika jadi deg-degan, mendadak beku ditempatnya duduk.


"Lihat ke sisi kanan mu secara perlahan, pura-pura melihat bunga," titah Bima lagi.


Dengan jantungnya yang bergemuruh dia menuruti perintah suaminya itu, dan nampaklah seorang pelayan yang memperhatikan mereka berdua. Tau Mika melihat kearahnya, pelayan itu langsung bersembunyi.


Astaghfirullahaladzim, batin Mika. Ternyata benar apa kata pak Bima, selama ini pergerakannya selalu diawasi.


Mika lantas menatap pak Bima lekat, ada iba, gugup atas semua pengawasan dan juga takut.


"Tunjukkan pada semua orang bahwa kita memiliki awal pernikahan yang manis," kata Bima lagi.


"Bagaimana caranya?" tanya Mika lirih.


"Mendekatlah dan cium bibir ku."

__ADS_1


__ADS_2