
"Ada apa ini?pembicaraan kalian sepertinya seru sekali," ucap Donita seraya menghampiri semua orang di ruang tengah tersebut, dia juga langsung duduk di samping sama suami dan menyentuh paha suaminya lembut.
Gerak-geriknya terhadap Hendra memang begitu manis. Siapapun jelas tidak akan menyangka bahwa wanita itu berselingkuh.
"Mika ternyata anak yang sangat cerdas. Papa jadi berpikir untuk melanjutkan pendidikan Mika," jelas papa Hendra, Donita memasang wajahnya seorang antusias mendengar cerita Sang suami, padahal di dalam hatinya dia terus merutuk merasa benci.
"Bagaimana Mika? Apa kamu mau melanjutkan sekolah lagi?"
Mika buru-buru menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan itu.
"Tidak Pa, Aku tidak mau melanjutkan kuliah. Lagi pula untuk belajar aku bisa di manapun dan sekarang yang lebih penting bagiku adalah merawat Mas Bima dulu sampai sembuh," balas Mika.
Sebuah jawaban yang membuat Papa Hendra jadi tersenyum semakin lebar, dia benar-benar merasa bangga pada sang menantu.
"Kamu benar, belajar bisa di manapun. Papa akan memfasilitasi semuanya," jelas Hendra.
Dan belum sempat Mika kembali menjawabi ucapan itu, tiba-tiba sang ibu datang menghampiri mereka semua.
Bik Ningsih menghadap nyonya Donita.
__ADS_1
"Maaf Mbak, ini ada yang salah jumlah uang untuk bayar listriknya," ucap Bik Ningsih, menunjukkan buku catatan pengeluaran bulanan.
Beberapa saat yang lalu mereka berdua memang membahas tentang hal ini.
"Salah apanya Mbak? perasaan sudah benar," balas Donita pula, dia mengambil buku itu dan langsung melihatnya.
"Bulan ini listrik habis 28 juta Mbak, tapi mbak nulisnya cuma 23. Nanti takutnya malah saya dikira yang ambil 5 jutanya," balas bik Ningsih lagi, lengkap dengan raut wajahnya yang menunjukkan rasa sedih.
"Masa iya aku salah tulis, mana struk pembayarannya?" tuntut Donita, mana mungkin dia salah. Jadi curiga juga jika ini semua hanyalah akal-akalan bik Ningsih untuk mengambil untung dari anggaran rumah tangga.
Hendra juga mendekat ke arah sang istri untuk ikut melihat apakah di struk pembayaran tersebut tertulis angka 28 atau 23 juta.
Sementara di dalam buku catatannya yang sudah direkap ulang oleh Donita tertulis 23 juta.
"Kok aku bisa salah begini, selama ini mana pernah aku salah," ucap Donita.
Hendra mengelus punggung istrinya lembut.
"Tidak apa-apa Ma, kan masih bisa diperbaiki," kata papa Hendra pula.
__ADS_1
"Atau mungkin mama memang sudah terlalu lelah untuk mengatur itu semua, lebih baik serahkan saja pada Mika. Jadi biar Mika belajar mengatur keuangan rumah ini," terang papa Hendra kemudian.
Tepat seperti tebakan Bima, Mika dan Bik Ningsih, Apa yang terjadi hari ini memang sudah mereka buat skenarionya.
Mika yang menunjukkan keahliannya, lantas Bik Ningsih yang menunjukkan kelemahan Donita.
Sementara papa Hendra yang akan mengambil keputusan di antara keduanya.
"Tidak Mas, tidak, aku masih bisa kok. Ini cuma kesalahan kecil," tolak Donita buru-buru. mengurus rumah tangga adalah alasannya untuk bisa keluar dari rumah ini dan menemui sang selingkuhan.
Jika dia tidak mengurus rumah lalu alasan apalagi yang bisa dia gunakan untuk keluar.
"Bukan seperti itu maksud ku Ma, bukan karena kamu salah atau benar. Tapi bagaimana jika kita beri kesempatan Mika untuk belajar. Kamu mau kan Mika?" tanya papa Hendra pula, kini tatapannya tertuju ke arah sang menantu.
Donita juga menatap Mika dengan tatapan tajam dan gelengan kecil, berharap Mika untuk menjawab tidak.
Tapi ternyata Mika justru menyetujuinya.
"Iya Pa! Aku mau!" jawabnya dengan antusias.
__ADS_1
Kurrang ajjar. Batin Donita.