
Malam bergulir dan pagi pun menjelang.
Bima adalah yang lebih dulu bangun dibandingkan Mika. Meski tertatih namun dia coba turun sendiri dari atas ranjang itu.
Selama ini tidak pernah sedetikpun, Bima tidak mencoba untuk sembuh. Dia telah mengerahkan semua kekuatannya untuk pulih.
10 tahun lalu, Donita datang ke rumah ini sebagai ibu tirinya. 10 tahun yang begitu indah karena Bima dan Sora benar-benar mendapatkan sosok sang ibu dari wanita itu.
Sepenuh hati Bima menyayangi ibu tirinya tersebut, Bima bahkan bersumpah di dalam hatinya bahwa dia akan melakukan apapun untuk membahagiakan sang ibu sambung.
Hingga di malam tahun baru 6 bulan silam, Bima mendengar sebuah fakta yang membuatnya seperti ditikam.
Malam ini juga Bima harus mati, dia tak boleh diangkat jadi CEO. Posisi itu hanya pantas di duduki oleh Bryan, anak kandungku!
Ya, dia bertemu dengan kekasihnya untuk menghabiskan malam tahun baru bersama, berusahalah membuat tragedi itu seperti kecelakaan.
Hahaha, terima kasih sayang, aku sangat mencintai kamu.
Semua kata-kata Donita dalam sambungan telepon itu masih Bima ingat dengan jelas sampai saat ini. Bima bahkan mulai mengetahui bahwa pria yang ditelepon Donita saat itu adalah asisten pribadi sang ayah, Darius.
Awalnya Bima seperti tak percaya dengan semua yang dia dengar.
Malam itu dia tetap mengemudikan mobilnya sendiri dan akhirnya terjadilah kecelakaan itu.
Kondisi Bima sebenarnya tak begitu parah, dia hanya memanipulasi semuanya.
__ADS_1
Penglihatan dan pendengarannya baik-baik saja, dia hanya bersandiwara. Menguak semua hal yang dia tidak ketahui selama ini.
Sampai akhirnya Bima tahu bahwa wanita ibu bukanlah seorang malaikat seperti apa yang dia yakini selama ini, wanita itu adalah iblis. Tujuannya hanyalah satu, mendapatkan semua harta keluarga Mahardika.
Setelah menyingkirkan Dia, Sora adalah berikutnya, lalu yang terakhir sang ayah.
Tapi sungguh, Bima tak akan membiarkan satu pun rencana wanita itu berhasil. Dia akan tetap berada di rumah ini. Lalu setelahnya menyingkirkan Donita dan Bryan sekaligus.
Dia akan bongkar kebusukan wanita itu tepat di wajah sang ayah dan Sora.
Seluruh pelayan yang bekerja di rumah ini pun akan dia pecat, karena telah tunduk pada wanita iblis itu, tak ada yang bisa Bima percaya selain Bik Ningsih.
Pasalnya Bik Ningsih adalah pelayan setia mendiang sang ibu.
Pengobatan terbaik sudah dia dapatkan diam-diam dan kini hanya tinggal pemulihan.
"Awh!" rintih Bima saat tiba-tiba kaki kanannya terasa begitu ngilu.
Suara itu mampu di dengar oleh Mika dan membuat gadis itu terbangun, lantas begitu terkejut ketika melihat pak Bima sudah berdiri dan memegang tepian ranjang.
"Astaghfirullahaladzim, pak Bima," kaget Mika, dia buru-buru bangun dan memeluk tubuh pria itu, jadi penopang agar pak Bima kuat berdiri.
"Aku baik-baik saja," ucap Bima dengan suara terengah.
"Baik bagaimana? Pak Bima sampai keringat dingin seperti itu!" bentak Mika reflek.
__ADS_1
Dia bahkan membantu Bima untuk kembali duduk di tepi ranjang.
"Duduk dulu!" titah Mika, justru gadis itu yang lebih banyak memerintah.
Setelah Bima duduk barulah keduanya saling pandang, Mika lihat jelas tatapan dingin itu lagi.
Baru sadar jika salah karena sejak tadi bicara dengan membentak-bentak.
"Maaf Pak, bukan maksudku lancang, tapi _"
"Diam," potong Bima.
Hening sesaat, pria itu tengah mengendalikan dirinya sendiri, coba tenang dari semua situasi.
"Dengar aku baik-baik, hari ini misi pertama mu di mulai," ucap Bima kemudian.
Mika mulai deg-degan, dia belum belajar. Lalu bagaimana caranya bisa menjalankan misi.
Tapi ternyata kebingungan Mika tak berlangsung lama, karena selama 1 jam sebelum mereka keluar dari kamar itu, Bima sudah menjelaskan semuanya secara rinci apa misinya hari ini.
Memamerkan kemesraan malam perttama pada semua orang.
"Mendekat, aku akan buat tanda merah di leher mu," titah Bima.
Belum apa-apa, Mika sudah merinding.
__ADS_1