
Setelah meletakkan makanan itu di atas meja, Mika kembali berdiri dan menghampiri pak Bima. Dia mendorong kursi roda itu untuk lebih dekat ke meja sana, agar memudahkan pak Bima untuk makan.
Dalam diam Mika melayani pria itu, jika dilihat seperti ini keduanya benar-benar nampak seperti suami dan istri.
Bukan sepasang manusia yang terikat oleh surat kontrak.
"Bismislahirohmanirohim," ucap Mika pelan, namun Bima mampu mendengarnya dengan baik.
Di hadapan pak Bima, Mika makan seperti biasanya, begitu lahap menghabiskan semua makanan itu.
Bahkan di saat Bima sudah berhenti mengunyah, Mika tetap melanjutkan makannya.
"Ternyata makan mu banyak juga ya," ucap Bima.
Entah dengan maksud apa pria itu mengucapkan kalimat tersebut.
Mika bahkan hanya mampu menoleh tanpa menjawabnya.
Tapi tentu saja di dalam hati gadis itu, dia menggerutu.
Ini adalah pertama kalinya pak Bima bicara padaku, tapi apa maksudnya dia bicara seperti itu? apa menghina ku? cih! jahat sekali, bagaimana bisa orang yang sedang makan dijadikan ledekan. Batin Mika.
Selalu saja bicara begitu banyak di dalam hati.
"Mas Bima mau lagi?" tanya Mika, karena pak Bima mulai bicara lebih dulu padanya dia pun mencoba untuk menanggapi.
__ADS_1
"Tidak usah banyak bicara dan cepat selesaikan makan mu," balas Bima.
Astaghfirullahaladzim. Batin Mika.
Hih! rasanya dia gemas sekali. mereka terus seperti ini sudah hampir 3 bulan dan sedikitpun pria itu tidak pernah ada perubahan.
Selalu dingin.
Lantas dengan kesal, Mika pun segera melanjutkan makannya. Benar-benar sampai habis.
"Aku akan mengembalikan ini ke dapur dulu," ucap Mika, setelah dia kembali dari kamar mandi untuk mencuci tangannya.
"Panggil saja pelayan," balas Bima.
Setelah makan dan tetap diharuskan belajar, membuat Mika merasa gerah.
Akhirnya gadis itu mengganti bajunya dengan kaos putih biasa. Sementara rambut panjangnya yang biasa diikat turun, kini jadi lebih naik seperti ekor kuda.
Penampilan baru yang membuat Bima jadi menatap semakin lekat ke arahnya.
Tapi Mika tak merasa jika sedang diperhatikan, dia tetap bergerak lincah hingga akhirnya kembali duduk di kursi belajarnya, berdampingan dengan pak Bima yang duduk di kursi roda.
"Lepas ikat rambut mu," ucap Bima, bicara dengan wajah yang sudah berpaling menatap ke arah dokumen di atas meja. Entah kenapa kini dia merasa terganggu ketika melihat leher jenjang itu.
Ada desiran aneh di dalam hatinya yang membuatnya merasa tak nyaman.
__ADS_1
"Tapi panas Mas."
"Ubah suhu AC itu sesuai dengan yang kamu inginkan, tidak perlu mengikat rambut mu tinggi seperti itu."
"Memangnya kenapa sih? kan biar tidak menghalangi pandanganku juga saat belajar, karena itu lah diikat," balas Mika, dia berani membalas seperti ini karena merasa permintaan pak Bima kali ini sangat aneh.
Masa tidak boleh mengikat rambut.
Dan saat Mika mulai membantah semua ucapannya, Bima seketika terdiam, dan membiarkan tatapannya yang dingin berbicara.
Dengan gerakan cepat, Bima mengangkat tangan kirinya tinggi dan melepaskan ikatan rambut itu sendiri.
Sampai kembali membuat rambut Mika tergerai.
"Mas!" kaget Mika.
Tapi pria itu tidak peduli.
Setelah ikatan rambut itu terlepas, dia mendorong kursi rodanya untuk keluar dari sana, menuju nakas dan mengambil remote AC.
Bima mengubah suhu yang paling dingin.
Setelahnya kembali menghampiri Mika dan memerintahkan gadis itu untuk belajar.
Aneh, lama-lama pak Bima jadi aneh! kesal Mika.
__ADS_1