
Beberapa jam lalu Bima mencium lehernya dan Mika sudah seperti melayang, lalu sekarang pria itu memerintahkannya untuk mencium bibir.
Ya Allah, Mika sampai tak bisa bicara apa-apa lagi seketika tubuhnya jadi lemas.
Ingin menolak pun rasanya tidak bisa, apalagi saat ini mereka berdua sedang diawasi oleh seseorang.
Maka menunjukkan bahwa pernikahan mereka adalah pernikahan yang bahagia adalah keputusan yang tepat.
Kata pak Bima, dengan begini pun orang-orang yang bekerja di rumah ini akan menghargai Mika, sebagai istri yang sesungguhnya. Bukan lagi karena perjodohan, bukan lagi hanya anak seorang pembantu.
Tapi benar-benar istri Bima yang paling disayang.
"Mendekatlah dan tutup mata mu, setelahnya serahkan padaku," titah Bima.
Mika mengangguk samar. dengan gerakan yang begitu perlahan akhirnya dia mengikis jarak di antara mereka berdua, dan di saat acara semakin dekat akhirnya Mika benar-benar memejamkan kedua matanya.
Sementara Bima segera mengangkat tangan kanannya dan menahan tengkuk gadis ini, sampai akhirnya bibir mereka benar-benar bertemu.
Cup!
Deg! jantung Mika seperti mau copot.
Kecupan tanpa lumattan itu begitu lembut, lalu Bima pun melepaskannya secara perlahan pula.
Seperti itu saja nafas Mika sudah terengah, kedua pipinya sudah merah merona.
Dia menunduk, merasa malu luar biasa.
__ADS_1
Ya Allah, ciuman pertama ku. Batin Mika, antara rela dan tidak rela. Karena dia pikir ciuman pertama hanya akan dia lakukan dengan seseorang yang dia cintai, hingga tak akan terlupa seumur hidup.
Tapi nyatanya, ciuman itu berakhir untuk pak Bima.
"Astaga, mereka berciuman di taman," kaget pelayan yang sedang mengawasi. Dia bahkan langsung berlari dari sana dan segera melaporkan Semua yang dia lihat pada Nyonya Donita.
Saat itu Donita sedang memotong bunga mawar di ruang tengah, untuk mengisi beberapa Vas.
Papa Hendra tidak ada di sana, papa Hendra sudah pergi sejak tadi entah kemana.
"Nyonya nyonya ya ampuun, itu pak Bima anu anuan di taman," lapor pelayan tersebut saking gugupnya.
"Hais! bicara yang benar, apa yang terjadi pada Bima? apa dia memarahi Mika?" tanya Donita dengan semangat pula, akan sangat menyenangkan jika mengetahui tentang perkelahian sepasang pengantin baru itu.
Rasanya memang sangat tidak mungkin jika Bima bisa menerima Mika dalam sekejap saja. Donita sangat tau, wanita idaman Bima bukanlah wanita kampungan seperti Mika.
"Tuan Bima dan Mika berciuman di taman Nyonya." Akhirnya kata-kata itu pun keluar.
Saking terkejutnya Donita tidak sadar dia memegang duri, lantas tertussuk di jari telunjuk.
Awh! rintih Donita dan kaget.
Dia lantas menggerakkan tangan kanannya memberi isyarat pada pelayan itu untuk segera pergi.
Ada apa ini, kenapa semuanya terjadi diluar kendaliku. Tidak mungkin rasanya jika secepat ini mereka saling menerima satu sama lain. Batin Donita.
dia mengambil tissue dan menghapus darrah di jari telunjuknya. Tidak boleh gegabah dan tetap tenang, masih yakin bisa mengusir Bima melalui pernikahan itu.
__ADS_1
Yang harus aku lakukan hanyalah membuat mereka berselisih, lalu butuh waktu berdua dan akhirnya keluar dari rumah ini, dengan begitu aku baru bisa bergerak untuk mengusir Sora. batin Donita lagi.
Dia menarik dan membuang nafasnya perlahan agar tenang.
Donita bangkit dari duduknya dan meninggalkan semua bunga mawar itu begitu saja, dia berniat menghampiri sepasang pengantin baru. Ingin mengajak Mika untuk bicara berdua.
Ingin mulai mengotori ottak gadis itu agar berpihak padanya.
Saat itu Mika dan Bima juga baru keluar dari taman, mereka bertemu di pintu masuk.
Donita menyambut dengan senyum yang hangat.
"Bima pasti lelah, biarkan dia istirahat di kamar setelahnya datang temui mama, ya?" ucap mama Donita pada Mika, karena dipikirnya Bima pun tak akan mendengar suaranya jika bicara pelan seperti ini.
"Maaf Ma, tapi aku ingin merawat mas Bima dulu, dia sepertinya ingin dipijat kakinya," jawab Mika dengan raut wajah penuh penyesalan, karena tak bisa menuruti keinginan ibu mertuanya tersebut.
Arght, geram Donita di dalam hati.
"Baik lah, kamu temani suami mu dulu," balas Donita akhirnya dan Mika mengangguk patuh.
2 Minggu telah berlalu dan Donita tetap tak punya kesempatan untuk bicara berdua saja dengan Mika, karena Gadis itu selalu bersama dengan Bima dan lebih banyak mengurung diri di dalam kamar.
semua orang berpikir bahwa sepasang suami istri itu mengurung diri di kamar untuk saling bermesraan, tidak ada yang mengira bahwa sebenarnya Mika sedang belajar.
"Yang ini bagaimana Mas?" tanya Mika, mempertanyakan yang tidak dia ketahui.
Dan Bima menjelaskannya secara rinci.
__ADS_1