
Mika yang biasanya sangat cerewet itu kini terdiiam seribu bahasa, dia bahkan menundukkan kepalanya dan hanya melihat kuku-kuku jarinya sendiri di atas pangkuan.
Kuku yang baru saja dia pasang inai saat di Desa, warnanya tidak begitu merah namun bagi gadis itu sudah cantik sekali.
Bibirnya mencebik bingung dengan keadaan canggung seperti ini.
Kata ibuk pak Bima orangnya baik, tapi kenapa menerima salam perkenalanku saja dia tidak mau. malah memalingkan wajahnya seperti itu seolah tidak menginginkan keberadaanku di sini. Batin Mika.
Lihat lah, hanya membatin saja sudah banyak sekali kata-katanya.
Ibuk mana sih, batin Mika lagi.
Dengan kepala yang menunduk seperti itu dia melirik ke arah pintu, berharap pintu itu akan segera terbuka.
Dan untunglah Doanya langsung dikabulkan oleh sang Tuhan, tiba-tiba pintu itu terbuka dan masuklah sang ibu.
Alhamdulillah, batin Mika.
Akhirnya dia bisa mengangkat wajahnya lagi, bahkan tersenyum lebar ketika melihat kedatangan ibunya tersebut.
Ibu Ningsih lantas duduk tepat di samping sang anak. Awalnya duduk di antara mereka berdua berjarak, sebelum akhirnya Mika menggeser tempat duduknya hingga begitu menempel kepada sang ibu.
Bu Ningsih tersenyum, dia sangat menyayangi Mika.
"Nduk, kamu baca surat ini baik-baik," titah ibu Ningsih pada sang anak. Nduk adalah bahasa Jawa yang artinya Nak. Sudah kebiasaan bahwa ibu Ningsih memanggil anaknya dengan panggilan seperti itu. itu sudah seperti panggilan kesayangan.
__ADS_1
"Ini apa Buk?" tanya Mika, seraya mengambil sebuah surat yang diulurkan oleh sang ibu. Dia pun membacanya.
"Itu adalah surat perjanjian pernikahan antara kamu dan pak Bima," terang Bu Ningsih.
Tentu saja Mika sangat terkejut ketika mendengarnya, terlebih saat Dia membacanya pun tertulis jelas di atas surat itu kata-kata Surat Perjanjian Pernikahan.
Pihak pertama, pihak kedua dan saksi.
Ya Allah, apa ini. Batin Mika, dia langsung menoleh ke arah sang ibu dan menatap dengan kedua mata bingung dan berkaca-kaca. Membaca surat seperti ini Mika sudah merasa bahwa dia dijual oleh sang ibu.
Dan itu rasanya sedih sekali.
"Sstt, kamu janga salah paham dulu. Pernikahan ini tidak akan membuat kamu Rugi Nduk, baca lah dulu," ucap ibu Ningsih lagi.
Bima yang sejak tadi melihat interaksi kedua orang itu hanya mampu membuang nafasnya perlahan, terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk membuat bocah kecil itu mengerti posisinya saat ini.
Ibu Ningsih yang memahami itupun segera memerintahkan sang anak untuk membaca secara keseluruhan surat perjanjian pernikahan tersebut.
Dan Mika membacanya secara seksama, mulutnya terdiam dan hanya kedua matanya yang bergerak membaca surat itu.
Pernikahan ini hanya akan berlangsung selama 1-2 tahun, selama itu pula Mika akan jadi tameng dan boneka bagi Bima. Mika yang akan menggantikan posisi Bima di perusahaan Mahardika. Mika yang harus mematuhi semua perintah Bima.
Mika harus belajar dengan giat untuk memahami tentang bisnis dan manajemen.
Membaca semua itu Mika tentu sangat tercengang, namun kini dia sadar. Pak Bima menikahinya bukan untuk dijadikan istri, tapi seseorang yang bisa dipercaya untuk menggantikan semua pekerjaannya.
__ADS_1
Mungkin karena kondisinya yang tak memungkinkan seperti itu.
Selesai membaca surat itu, Mika menatap sang ibu. Dilihatnya lagi sang ibu yang mengangguk samar.
Tanda bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Paham kan?" tanya Bima, akhirnya pria itu buka suara.
Suara yang membuat Mika langsung kaget dan hatinya berdesir. Bingung juga, sebenarnya pak Bima mendengar semua pembicaraan mereka atau tidak.
Katanya pendengarannya pun terganggu.
"Pa-paham Pak," balas Mika patuh.
"Panggil Mas saja Nduk," bisik Ibu Ningsih dan Mika hanya bisa mengangguk.
Malam itu banyak sekali hal yang terjadi, Mika seperti masuk ke dalam sebuah kehidupan baru. Dia bahkan menandatangani surat perjanjian pernikahan itu, sebuah skenario yang persis seperti drama yang sering dia tonton di TV.
Mika menikah bukan untuk jadi ibu rumah tangga, dia justru harus belajar dengan giat.
"Ibuk akan keluar, layani pak Bima dengan baik," ucap ibu Ningsih.
Mika hanya bisa mengangguk meski sedikit takut.
Pada akhirnya dia benar-benar ditinggal berdua saja di kamar itu.
__ADS_1
Haduh. Batin Mika, mengeluh.