Menikahi Majikan Lumpuh

Menikahi Majikan Lumpuh
Bab 2 - Mika!


__ADS_3

Akhirnya anak itu menikah juga, huh. Sudah saatnya Bima keluar dari rumah ini. batin Donita.


Dia lantas mengelus anak laki-lakinya sendiri yang juga menghadiri pernikahan tidak berarti tersebut, Bryan yang saat ini usianya 30 tahun. Memang lebih tua dibandingkan Bima.


Donita lantas menatap malas adegan di depan sana, saat suaminya Hendra memberi ucapan selamat pada sepasang pengantin tersebut. Lalu anak tirinya pula yang kedua, Sora yang usianya 24 tahun.


Setelah membuat Bima pergi, setelahnya anak perempuan menyebalkan itu. Siap-siaplah kamu Sora sayang. Batin Donita lagi.


Wanita paruh baya yang masih nampak cantik itu lebih banyak membatin dari pada bicara.


Dan setelah semua orang saling memeluk dan mengucapkan selamat, akhirnya giliran dia yang maju.


"Selamat sayang atas pernikahan kalian. Mama bahagia sekali," ucap Donita dengan senyum yang nampak hangat. Dia bahkan membelai lembut puncak kepala Mika yang malam ini menggunakan hijab di hari pernikahannya.


"Bima bukan hanya lumpuh tidak bisa jalan, tapi penglihatan dan pendengarannya kadang terganggu. Mama akan sangat bergantung padamu untuk merawat dia. Mama mohon, jaga Bima dengan baik ya?" tanya Donita lagi, kalimat permohonan panjang yang membuat suaminya merasa haru.


Bersyukur istri keduanya tersebut sangat menyayangi anak-anaknya, bahkan mendapatkan gadis cantik seperti Mika untuk jadi istri sang anak.


"I-iya Nyonya," jawab Mika canggung.


Semua orang tersenyum, merasa lucu saat mendengar Mika menyebut ibu mertuanya dengan sebutan Nyonya.


"Sayang, jangan panggil Nyonya, tapi Mama. Meskipun bi Ningsih tetap bekerja di rumah ini, tapi kamu adalah menantu mama, istrinya Bima," terang Donita lagi.

__ADS_1


Lagi-lagi membuat Hendra tersenyum dan Sora pun tersenyum juga. Sementara Bryan pilih menyingkir dari acara tersebut.


Toh, acara pernikahan itu sudah usai. Dia malas untuk berlama-lama di sana.


"Iyaa Ma," jawab Mika kaku, dia bahkan langsung mengigit bibir bawahnya sendiri merasa canggung. Juga melirik ibunya sekilas mencari dukungan, ingin yakin bahwa dia tidak sendirian di sini.


Dan saat dilihatnya sang ibu nampak mengangguk samar, Mika baru bisa bernafas lega.


Ada satu hal lagi tentang pak Bima yang belum ibunya ceritakan, bahkan pendengaran dan penglihatan pak Bima juga mengalami sedikit gangguan.


Pria yang kini jadi suaminya itu benar-benar pria yang sakit dan dia harus memperlakukannya dengan baik.


"Ya sudah, bi Ningsih akan mengantar kalian menuju kamar. Istirahat lah, kamu juga pasti lelah setelah perjalanan jauh tadi," ucap mama Donita lagi, dia lebih banyak bicara dari semua orang. Seolah mama Donita adalah pemegang kendali di rumah megah ini.


"Saya permisi dulu Ma, papa Hendra, mbak Sora, permisi," ucap Mika kemudian, dengan tubuh yang sedikit membungkuk memberi hormat.


Sudah kebiasaan dia seperti itu.


Ibu Ningsih mendorong kursi roda pak Bima. Juga membimbing sang anak untuk mengikuti langkahnya.


Menggunakan lift yang ada di rumah itu, mereka menuju ke lantai 2. Lift itu memang sengaja di buat setelah Bima lumpuh.


"Bu, kamar ibu di mana? aku lo belum sempet keliling-keliling," bisik Mika pada sang ibu.

__ADS_1


"Besok saja keliling rumahnya, sekarang keliling kamar mu dulu. Ibu juga akan jelaskan tugas mu dalam merawat pak Bima nanti," jawab sang ibu.


Tiba di kamar itu, akhirnya Mika dan Bima bisa saling pandang.


Mika yang duduk di sofa dan Bima yang duduk di kursi roda, sementara ibu Ningsih masih mengambil sesuatu entah.


Mika sampai gundah sendiri di tinggal dalam keadaan seperti ini.


Ya Allah, aku harus gimana ini. Batin Mika, gugup.


"Maaf Pak, perkenalkan saya Mika," ucap gadis itu. Sadar sejak tadi belum saling mengenal dengan benar.


Bima hanya terdiam, bahkan menunjukkan wajahnya yang dingin.


Tapi Mika tidak tahu wajah dingin itu, di pikirnya memang seperti itu lah wajah sang suami.


"Mika!" ucap Mika dengan suara lebih keras, takut pak Bima tak mendengar ucapannya. Gadis itu bahkan mengulurkan tangannya ingin salam.


Namun Bima justru memalingkan wajahnya.


Dan membuat Mika tercengang. Dia lantas menarik tangannya sendiri ke atas pangkuan.


Mulai merasa jadi istri yang tak di inginkan.

__ADS_1


__ADS_2