
Astaga anak ini, benar-benar tidak tahu diri. Bagaimana bisa dia menolak tawaranku? harusnya dia hanya bersikap patuh saja. Geram Donita, tapi tentu saja hanya mampu dia ucapkan di dalam hati. sementara mulutnya coba tersenyum ketika mendengar jawaban Mika tersebut.
Geramnya Donita jadi makin bertambah saat dia lihat sang suami pun ikut tersenyum lebar ketika mendengar jawaban menantu mereka.
Ya Allah, aku deg-degan banget, kurang ajjar nggak sih jawab begitu. Batin Mika, meski nampaknya dia baik-baik saja tapi sebenarnya Gadis itu sangat gugup.
Tidak tidak, kamu jangan sampai goyah Mika. Yang harus kamu patuhi di rumah ini adalah pak Bima, bukan yang lain. Batin Mika kemudian, coba menenangkan dirinya sendiri.
Lagi pula mama Donita lah yang telah membuat pak Bima lumpuh, harusnya tak ada belas kasihan untuk wanita itu.
Wanita yang begitu pandai bersandiwara.
Di hadapan ku dia memang terlihat begitu baik, tapi Siapa yang tahu jangan-jangan dia pun telah merencanakan sesuatu yang buruk padaku. Batin Mika lagi, hanya membatin saja Gadis itu Banyak sekali bicaranya.
"Ma, hari ini aku boleh keliling rumah kan? bersama Mas Bima dan ditemani ibuku," tanya Mika.
Namun belum sempat mama Donita menjawab, Mika sudah lebih dulu bicara lagi.
__ADS_1
"Aku kasihan pada Ibu, aku sudah menikah dengan mas Bima, tapi di rumah ini ibu jadi pembantu," ucap Mika lagi lirih, dia bahkan langsung menunduk.
Tadi Bima memang sudah mengajarkannya untuk bicara tentang hal ini, tapi sekarang jadi sedih sungguhan karena membicarakan tentang ibunya.
Papa Hendra sangat memahami perasaan Bima, lagipula sekarang bik Ningsih adalah besan mereka, memang tak pantas rasanya jika bik Ningsih masih jadi pembantu.
Donita ingin bicara untuk menghentikan ucapan anak kampung itu, tapi lagi-lagi dia gagal bicara karena lebih dulu papa Hendra yang menyahut.
"Kamu jangan bersedih seperti itu Mika, mulai sekarang Bik Ningsih bukan lagi pembantu di rumah ini. Dia adalah ibumu, mertuanya Bima, besannya mama dan Papa. Nanti papa akan minta bik Ningsih untuk tidak mengerjakan apapun lagi, dia akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama mu," putus papa Hendra.
Semua orang sontak menoleh ke arah mama Donita, seolah menunggu apa yang sebenarnya ingin diucapkan oleh wanita itu.
Sial!! geram Donita. dia berniat mengusir Bima dan Mika dari rumah ini, tapi gadis itu malah tetap tinggal dan meminta ini itu.
"Tidak, maksudku, aku setuju dengan keputusan papa Hendra," ucap Donita kemudian.
"Apa benar Pa? Ma?" tuntut Mika pula.
__ADS_1
"Kamu tidak percaya? akan papa buktikan di depan mu," balas papa Hendra, dia begitu memanjakan Mika bukan tanpa alasan, tapi karena 3 tanda merah di leher Mika itu.
Sebuah tanda bahwa Bima telah benar-benar menerima Mika meski itu semua dimulai dari perjodohan.
Papa Hendra bahagia, karena itulah kini dia pun ingin membahagiakan Mika.
Bik Ningsih dipanggil untuk datang ke meja makan.
Dan papa Hendra benar-benar mengucapkan keputusannya tadi di hadapan semua orang.
Mika tentu tersenyum lebar, dia bahagia sekali, tapi senyum itu perlahan luntur saat ibunya menjawab ...
"Maaf Pak, saya sudah biasa bekerja. Rasanya ada yang kurang kalau malah jadi pengangguran. Bagaimana kalau saya jadi kepala pembantu saja, menggantikan ibu Marta selama ini," pinta ibu Ningsih, tadi pak Hendra bertanya padanya mau seperti keputusannya atau bik Ningsih punya keinginan lain.
Karena itulah kini Bik Ningsih menjawab seperti itu. Menyingkirkan Marta yang jadi tangan kanan Donita di rumah ini.
Astaga, astaga, apa yang terjadi ini? kenapa? kenapa ibu dan anak itu seolah memprovokasi aku? batin Donita, nafasnya bahkan sampai terengah, tak menyangka banyak sekali hal yang terjadi pagi ini.
__ADS_1