
"Berhenti menatap ku, jika lelah mu sudah hilang cepat lah belajar," ucap Bima.
Sebuah ucapan yang membuat Mika langsung tersentak kaget, gelagapan dan buru-buru memalingkan wajah. Kemana pun asalkan tidak ke arah pria itu.
Astaga, apa pak Bima melihat ku? jadi sebenarnya mata dia itu terpejam atau berbuka? batin Mika, bingung sendiri.
Mulai sekarang aku harus lebih berhati-hati.
Oh ya Tuhan, malu sekali rasanya. Jadi pak Bima tau kalau aku terus memperhatikan dia.
Aaa malu malu malu.
"Iya Mas, maaf," jawab Mika lirih. Di dalam hatinya dia banyak sekali bicara. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya 3 kata.
Kini Mika tidak lagi berani melirik ke arah pak Bima, dia membayangkan di sebelah sana ada setan yang sangat mengerikan.
Jadi tidak boleh dilihat.
Mika hanya fokus pada dokumen-dokumen di hadapannya.
Menjelang makan siang, Mika keluar dari dalam kamar tersebut.
Pak Bima ingin makan di dalam kamar saja, jadi pria itu memerintahkan Mika untuk mengambil makanan mereka berdua.
Bima sengaja meminta Mika turun sendiri tanpa memanggil pelayan, apa lagi tujuannya jika bukan untuk menghadapi Donita dan mengambil simpati papa Hendra sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
"Pa, mama," sapa Mika setelah dia tiba di meja makan.
Donita tidak menjawab sapaan itu, dia benar-benar masih merasa kesal tentang posisinya yang direbut oleh gadis sok polos ini.
"Loh kamu turun sendirian? dimana Bima?" papa Hendra yang bertanya.
"Mas Bima ingin makan di kamar saja, jadi aku turun untuk mengambil makanan," terang Mika.
Hendra lantas tersenyum begitu lebar ketika mendengarnya.
"Harusnya kamu panggil pelayan saja untuk mengantarkan makanan kalian ke atas," sahut mama Donita, dari nada bicaranya kini mulai terdengar lebih ketus daripada biasanya.
"Tidak apa-apa Ma, untuk urusan Mas Bima aku ingin melayaninya secara langsung. Bukan orang lain," jawab Mika lagi.
Astaga anak ini benar-benar tidak sopan, dia selalu saja menjawab ucapan ku. geram Donita.
"Baiklah, kalau begitu ambilah lauk sebanyak-banyaknya, bawa naik ke atas," ucap papa Hendra.
Mika mengangguk penuh semangat.
Sebuah semangat yang entah kenapa membuat papa Hendra pun jadi senang. Wanita ceria seperti Mika lah yang dibutuhkan oleh Bima.
Bima yang jadi begitu dingin setelah peristiwa kecelakaan itu.
"Hati-hati Mika," ucap papa Hendra lagi saat Mika hendak pergi dari sana dengan membawa nampan berisi makanan.
__ADS_1
Dan saat Mika tak nampak lagi, Donita pun menatap ke arah sang suami.
"Mas, apa kamu tidak merasa bahwa Mika dan bik Ningsih memanfaatkan situasi ini?" tanya Donita dengan suaranya yang lembut.
"Memanfaatkan apa Ma? kamu ini ada-ada saja, harusnya kamu bersyukur, Mika mau menikah dengan Bima yang lumpuh, bahkan Mika pun bersedia merawat anak kita. Benar-benar menghormati dan memperlakukan Bima sebagai suaminya," jelas Hendra.
Sejak keputusannya tadi pagi sang istri mulai bicara yang aneh-aneh, tentang Mika dan Bik Ningsih yang hendak menguasai rumah ini.
Papa Hendra hanya mampu geleng-geleng kepala.
Pikiran Donita terlalu jauh, pikirnya.
Sementara itu di lantai 2, Mika telah tiba di depan pintu kamarnya. Tapi kini dia jadi bingung bagaimana caranya mengetuk pintu tersebut, pasalnya kedua tangan dia membawa nampan yang berisi banyak makanan.
"Mas!" panggil Mika dengan suara yang cukup tinggi, setelahnya dia mengigit bibir bawah, merasa tak sopan sendiri setelah memanggil pak Bima dengan nada tinggi seperti itu.
Tapi hanya inilah cara yang bisa Mika lakukan.
Tak lama kemudian pun pintu benar-benar terbuka.
Dengan hati-hati Mika masuk dan meletakkan nampan itu di atas meja.
Bima langsung menatapnya dengan sorot mata yang tajam, membawa makanan sebanyak itu memangnya siapa yang mau makan?
Aku yang akan memakannya, aku aku aku! batin Mika kesal. dia tidak mungkin mengucapkannya secara langsung, tapi dia paham betul apa arti dari tatapan itu.
__ADS_1
Makanan sebanyak ini siapa yang makan!