Menikahi Majikan Lumpuh

Menikahi Majikan Lumpuh
Bab 7 - 3 Kecupan


__ADS_3

Mika sudah cukup dewasa untuk memahami apa tanda merah itu, tanda yang dibuat dengan sebuah ciuman.


Meski selama ini Mika tidak pernah membuatnya secara langsung, karena dia tidak pernah pacaran tapi Mika sering melihatnya di drama yang sering dia tonton.


Dan sekarang otaknya mulai membayangkan saat pak Bima mencium lehernya.


Ya Allah, Mika merinding sekali. Dia sampai bergidik geli.


"Hii, tapi geli Pak," jujur Mika, sejujur itu dia pada perasaannya sendiri.


"Mas," balas Bima, justru memerintahkan wanita itu untuk membiasakan diri dengan panggilan Mas.


Mika mencebik, tidak tahu harus menjawab apa lagi seolah posisinya benar-benar terpojok. Namun saat ingat bahwa dia hanyalah pembantu, Mika jadi tidak punya pilihan untuk menolak. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah patuh.


Ya, tugasnya hanyalah patuh tidak ada yang lain.


Akhirnya mulai bergerak untuk mendekati sang Tuan, dia bergeser dari posisi duduknya saat ini untuk lebih dekat dengan pak Bima, sampai jarak di antara mereka berdua hanya dua jengkal saja.


"Lihat ke atas," titah Bima pula, Mika harus membuat posisi seperti itu karena yang akan dia cium adalah lehernya. Setidaknya harus ada 3 tanda merah di leher wanita ini.


Agar wanita iblis dan anaknya itu meyakini bahwa dia sedikitpun tidak keberatan tentang pernikahan tersebut.

__ADS_1


Justru merasa sangat bersyukur dan hidup bahagia.


Dengan begini Donita tidak akan punya alasan untuk mengeluarkan Bima dari rumah, dengan alasan butuh Waktu berdua dengan Mika untuk saling mengenal.


"Cepet Pak," ucap Mika, karena dia sudah mendongak namun belum juga dicium.


Mika ingin buru-buru menyelesaikan situasi aneh ini.


"Mas Mika, Mas." tegas Bima pula.


"Iya Maaf," lirih gadis itu, bingung mau bagaimana lagi. bukan maksudnya juga untuk terus memanggil dengan sebutan Pak Bima, tapi panggilan itu otomatis keluar dari mulutnya begitu saja ketika dia buka mulut.


2 jengkal tangan jarak mereka tadi akhirnya dikikis oleh Bima. Pria itu menahan tengkuk Mika hingga Gadis itu menggeliat.


Tidak apa-apa Mika, tidak apa-apa, bagaimanapun Pak Bima adalah suamimu. dia telah menikahi kamu dan kamu tidak berdosa melakukan ini semua. Batin gadis itu, Dia paling takut dengan yang namanya dosa.


Sampai tanpa sadar gadis itu pun mendesaah saat Bima akhirnya mencium lehernya.


Ahk! dessah Mika diantara gugup yang mendera.


1 kecupan.

__ADS_1


2 kecupan.


Dan 3 kecupan.


Sebanyak kecupan itu pula lah Mika mendesaah, dan kini rasanya dia ingin pipis.


Wajah gadis itu sudah merah merona, detak jantungnya pun sudah tak bisa di kondisikan lagi.


3 kecupan yang membuat nafas Mika kini memburu.


"Itu sudah cukup, ayo kita keluar sekarang," ajak Bima, setelah 3 kali mencium leher Mika pria itu seolah tak terjadi apa-apa.


Bicaranya tetap datar dan tatapannya masih saja dingin.


Seolah hanya Mika saja yang terpengaruh.


"Iyah Mas," jawab Mika lirih, dia gigit bibir bawahnya sendiri dan bergidik geli.


"Maaf Mas, aku ke kamar mandi sebentar ya. Sepertinya aku tadi pipis sedikit. Ini agak basah," ucap gadis itu malu-malu, makin merona kedua pipinya.


Dan Bima tak menjawabi ucapan itu, hanya menatap tajam hingga Mika pergi dengan sendirinya.

__ADS_1


Astaga, apa itu ciuman pertamanya? Batin Bima, dia hanya geleng-geleng kepala. Tak ingin berpikir lebih.


__ADS_2